Harakatuna.com – Di tengah gejolak geopolitik AS-Iran yang belum juga menemukan titik damai, kabar meresahkan datang dari Nigeria yang hari-hari ini jadi target terorisme. Berbagai aksi teror terjadi secara intens dan memakan banyak korban. Boko Haram dan ISIS mengklaim bertanggung jawab atas aksi-aksi itu. Apa yang terjadi di Borno oleh Boko Haram dan apa yang terjadi di Adamawa oleh ISIS lantas menyiratkan satu ancaman, yaitu reaktivasi terorisme setelah lama tiarap. Benarkah demikian?
Penting dicatat bahwa, kekerasan yang dilakukan Boko Haram dan ISIS bukan sekadar catatan masa lalu. Keduanya memiliki arsip panjang ihwal pola terorisme: sistematis, brutal, dan berulang. Di Nigeria, Boko Haram selama bertahun-tahun menjadikan warga sipil sebagai target utama, yakni pelajar, petani, hingga masyarakat desa, dalam serangkaian serangan yang dirancang untuk menanamkan ketakutan kolektif. Polanya konsisten: serangan malam hari, pembakaran permukiman, hingga penggunaan bom yang menyasar warga.
Pada saat yang sama, ISIS mengembangkan model yang kompleks namun fleksibel. Tidak lagi bergantung pada satu wilayah, mereka membangun jaringan berbasis afiliasi, menghubungkan kelompok-kelompok lokal ke dalam satu militansi global. Hasilnya adalah bentuk kekerasan yang serupa tetapi tersebar dari Timur Tengah hingga Afrika. Targetnya tetap sama, yaitu warga sipil, dengan tujuan yang juga tidak berubah: menciptakan ketakutan dan mempertahankan teritori.
Namun, beberapa tahun terakhir, dunia diyakinkan bahwa kelompok teror kelas kakap tersebut telah melemah. Operasi militer besar-besaran menghancurkan basis mereka, para pemimpin utama dilumpuhkan, dan wilayah kekuasaan menyusut drastic terutama di Suriah. ISIS kehilangan ‘kekhalifahan’-nya di Irak dan Suriah. Boko Haram terdesak oleh operasi gabungan militer Nigeria. Secara kasat mata, semuanya tampak seperti kemenangan kontra-terorisme global.
Masalahnya, kesimpan tersebut relatif terburu-buru. Kekalahan struktural tidak identik dengan kehancuran ideologis, atau tidak menegaskan kehancuran terorisme itu sendiri. Yang runtuh adalah bentuk organisasinya, bukan jaringan dan gagasannya. Di banyak kasus, represi militer justru memaksa kelompok teror beradaptasi, yakni meninggalkan kontrol wilayah dan beralih ke sel-sel kecil, lalu mengandalkan serangan sporadis yang sulit diprediksi aparat.
Di titik itulah ilusi itu bekerja. Dunia melihat berkurangnya serangan besar sebagai tanda meredanya ancaman terorisme. Padahal, yang terjadi adalah pergeseran bentuk, sementara ideologinya survive. Teror tidak hilang dan hanya menyusut, sembari menyebar dan menunggu momentum untuk aktif kembali. Dalam logika gerakan semacam itu, bertahan jauh lebih penting daripada menang secara terbuka, dan kelompok teror memiliki strategi cerdas untuk mempertahankan diri mereka.
Karena itu, membaca Boko Haram dan ISIS sebagai kelompok yang ‘sudah punah’ adalah kesalahan besar dan keteledoran ideologis. Sejarah kelompok teror selalu menunjukkan satu pola yang berulang: mereka berganti bentuk ketika represi mencapai puncak. Dan ketika kondisi memungkinkan, bentuk baru itu kerap muncul dengan cara yang tidak terduga dan sulit dikendalikan. Reaktivasi terorisme, dengan demikian, adalah soal momentum politik.
Yang berubah dari Boko Haram dan ISIS hari ini bukan tujuan, melainkan cara aksi mereka. Mereka tidak lagi membutuhkan kontrol wilayah luas untuk menunjukkan eksistensi. Cukup dengan serangan terbatas, terarah, dan berulang, mereka sudah mampu menciptakan efek yang sangat dahsyat, yaitu ketakutan dan pesan bahwa mereka belum punah—masih merupakan ancaman nyata. Reaktivasi terjadi karena pergeseran ‘kekuatan teritorial’ menjadi ‘aksi klandestin’ yang sangat menakutkan.
Data terbaru dari Nigeria menunjukkan pola itu dengan jelas. Serangan Boko Haram dan ISIS konsisten dalam frekuensi dan sasaran. Warga sipil jadi titik tekan teror karena efeknya berlapis, yakni melumpuhkan aktivitas ekonomi, memaksa migrasi, dan menciptakan ruang kosong yang sulit dijangkau negara. Satu serangan kecil bisa berdampak lebih luas daripada pertempuran besar, karena hal terbesar yang hilang ialah ‘trust’ masyarakat terhadap pemerintahnya sendiri.
Klaim ISIS atas serangan di Adamawa Selasa (28/4) kemarin memperlihatkan dimensi konektivitas global. Kelompok lokal tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung dalam ekosistem ideologi dan legitimasi yang lebih besar. Klaim itu bukan propaganda, melainkan penegasan bahwa jaringan terorisme global masih bekerja dengan cara memberi identitas, arah, dan bahkan inspirasi operasional bagi sel-sel di lapangan.
Sementara itu, kemampuan militan untuk terus beroperasi di tengah tekanan militer menunjukkan bahwa mereka telah beradaptasi dengan sempurna. Mereka tidak lagi bertahan dengan struktur besar yang mudah dilumpuhkan, tetapi dengan formasi yang fleksibel. Hal itu membuat mereka sulit dideteksi, cepat bergerak melakukan aksi teror, dan tahan terhadap operasi konvensional. Militer Nigeria memang efektif menangkis serangan, namun bagaimana dengan ketakutan masyarakat?
Dalam situasi seperti itulah, istilah ‘kepunahan terorisme’ jelas menyesatkan. Boko Haram, ISIS, dan boleh jadi seluruh kelompok teror di dunia tidaklah mati, namun hanya melakukan redistribusi kekuatan. Dari pusat ke pinggiran, dari struktur ke jaringan, dari kontrol ke gangguan. Inilah fase di mana kelompok teror dianggap tidak lagi ancaman, padahal justru sedang merestrukturisasi kapasitasnya dengan cara yang adaptif, sebelum melakukan reaktivasi.
Karena itu, yang kita hadapi hari ini jelas-jelas merupakan reaktivasi terorisme yang gradual. Terorisme tidak datang kembali dengan deklarasi besar, tetapi dengan rangkaian kejadian kecil yang konsisten. Justru karena tidak mencolok itulah, kelompok teror seperti Boko Haram dan ISIS luput dibaca sebagai ancaman serius sampai dampaknya nanti mengejutkan dunia, sebagaimana yang Jama’ah Islamiyah lakukan saat aksi Bom Bali dua dekade lalu.
Siapkah Indonesia dengan hal buruk tersebut seiring reaktivasi terorisme global? []










Leave a Comment