25.7 C
Jakarta

Berdakwah Seperti Nabi, Bukan Seperti Mereka

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanBerdakwah Seperti Nabi, Bukan Seperti Mereka
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Berawal dari peristiwa seorang pria yang menendang sesajen yang diletakkan di lokasi Gunung Semeru, nilai-nilai toleransi kembali diperbincangkan. Perbuatan pria ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk salah satunya, putri Gus Dur, Alissa Wahid. Katanya, “Meyakini bahwa sesajen tidak boleh, monggo saja. Tapi, memaksakan itu kepada yang meyakininya, itu yang tidak boleh. Repot memang kalau ketemu yang model-model begini. Susah banget memahami bahwa dunia bukan milik kelompoknya saja.”

Kritik Alissa memang benar. Kepercayaan itu adalah hak masing-masing orang. Anda tidak boleh memaksakan kepercayaan Anda kepada orang lain. Karena, masing-masing orang memiliki kebebasan untuk menganut kepercayaan yang mereka yakini. Semisal, dalam agama Islam dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengantarkan kepada kemusyrikan (keyakinan kepada selain Allah), mungkin salah satunya, meyakini sesajen. Tetapi, sesajen itu termasuk sesuatu yang biasa dilakukan di dalam agama Budha.

Pertanyaannya, apakah sesajen yang dilakukan orang Budha itu dianggap syirik oleh orang Islam sehingga mengharuskan mereka melakukan tindakan yang ekstrem dengan merusaknya? Syirik atau tidaknya perbuatan manusia itu tidak dapat diukur dari perbuatan lahirnya. Akan tetapi, kemusyrikan itu dilihat dari motivasi—jika meminjam istilah di pesantren, niat hati. Perbuatan hati seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Yang tahu hanyalah Tuhan dan si pelaku. Tidak heran jika disebutkan dalam sebuah ibarah: Nahnu nahkumu bi adz-dzawahir wa Allah bi as-sara’ir. Maksudnya, manusia hanya mampu menghukumi sesuatu yang konkret. Sementara, Tuhan dapat menghukumi sesuatu yang abstrak.

Keimanan seseorang itu berkaitan erat dengan kinerja hatinya. Kinerja hati hanyalah Tuhan yang tahu. Maka dari itu, tidak pantas manusia menghukumi kualitas keimanan orang lain. Jika itu dipaksakan, akan sangat mungkin terjadi kesalahan. Buktinya, banyak orang yang gemar menyesatkan atau mengkafirkan orang lain lantaran mereka merasa paling tahu dibandingkan Tuhan atas keimanan seseorang. Mereka tidak peduli, apakah klaim mereka benar atau sesat. Pokoknya, perbuatan seseorang yang tidak berlawan dengan keyakinan orang tersebut dianggap salah dan kafir. Naudzu billah.

Kecerobohan manusia menyesatkan orang lain bukan isu yang baru-baru ini terjadi. Nabi Muhammad Saw. sendiri yang jelas-jelas dijamin masuk surga dan terpelihara (ma’shum) dari segala kesalahan dan dosa masih saja disesatkan oleh pentolan Khawarij Dzul Khuwaisirah at-Tamimi. Nabi diklaim sebagai orang yang tidak bertakwa kepada Allah, karena beliau membagikan emas dari Sayyidina Ali kepada empat sahabat: Zaid al-Khair, al-Aqra bin Habis, Uyainah bin Hishan, dan Alqamah bin Ulatsah.

Perbuatan Dzul Khuwaisirah ke depan semakin diteruskan oleh generasinya. Pada masa Sayyidina Ali menjadi pemimpin, muncul kelompok Khawarij yang berpemikiran serupa dengan Dzul Khawaisirah. Khawarij mengkafirkan Ali beserta pengikutnya, karena mereka mengklaim Ali mengambil keputusan hukum di luar hukum Allah. Kafir-mengkafirkan terus berlanjut hingga sekarang. Biasanya orang yang gemar mengkafirkan di era mutakhir ini disebut dengan kelompok radikal.

BACA JUGA  Mampukah Gus Yahya Melawan Radikalisme di Indonesia Lewat NU?

Kelompok radikal yang dimaksud di sini merupakan kelompok separatis yang sangat tertutup (eksklusif). Kelompok ini merasa paling benar, sehingga menutup diri dari perbedaan yang dihadapi. Perbedaan dianggap sebagai petaka, bukan rahmat. Gus Dur mengkritik gaya berpikir kelompok radikal tersebut, “Agama melarang adanya perbedaan bukan perpecahan.” Pesan Gus Dur ini senada dengan firman Allah: Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran: 103).

Keterbukaan (inklusif) terhadap perbedaan dapat mengantarkan seseorang menjadi toleran. Perhatikan keterbukaan Nabi Muhammad Saw. terhadap perbedaan. Beliau tidak pernah menghakimi umatnya yang belum mendapatkan hidayah. Buktinya, ketika Nabi berdakwah di Mekkah, masyarakat di sana belum menerima ajaran yang dibawa beliau. Namun, beliau tidak langsung mengkafirkan ajaran yang umatnya yakini. Nabi terus mencari strategi dakwah yang dapat memikat hati. Kemudian, diperolehlah strategi dakwah yang baik, yaitu dakwah dengan sikap lemah lembut, bukan dengan kekerasan.

Pentingnya berdakwah dengan sikap lemah lembut disebutkan dalam Al-Qur’an: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (QS. Ali Imran: 159).

Pada ayat tersebut dijelaskan strategi dakwah yang diterapkan oleh Nabi. Dakwah dilakukan dengan sikap yang lemah lembut, bukan kekerasan. Dakwah dengan sikap yang lemah lembut mampu memikat hati pendengarnya. Sebaliknya, dakwah yang dilakukan dengan kekerasan akan membuat orang menjauh atau menolaknya. Lebih dari itu, penting ditekankan bagi pendakwah untuk selalu memaafkan kesalahan orang yang mendengarkan, Jangan sampai mereka dikafirkan, karena mereka belum mendapatkan hidayah.

Bahkan, jika orang yang diajak kurang mengindahkan, pendakwah hendaknya selalu mendoakan bukan menyesatkannya. Lihatlah Nabi ketika dakwahnya ditolak oleh Sayyidina Umar Ibn Khattab. Nabi tidak mencela dan mengkafirkan Umar. Nabi mendoakan suatu saat nanti Umar akan menjadi pengikut ajaran Nabi dan doa ini benar-benar terkabul. Ketika mendapatkan hidayah, Umar menjadi pengikut Nabi yang setia dalam membela Islam. Bayangkan bagaimana jika seandainya Nabi mencela Umar!

Sebagai penutup, dakwah hendaknya dilakukan dengan pikiran yang terbuka. Keterbukaan ini akan mengantarkan Anda bersikap toleran dalam menghadapi perbedaan. Toleransi akan dapat menghadirkan perdamaian di tengah perbedaan, baik perbedaan pemikiran maupun perbedaan keyakinan. Hindari sikap kasar dalam berdakwah, karena itu akan sia-sia alias tidak berguna.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru