25.1 C
Jakarta

Young Buddhist Association Ajak Generasi Muda Tangkal Bahaya Radikalisme dan Ekstremisme

Artikel Trending

AkhbarDaerahYoung Buddhist Association Ajak Generasi Muda Tangkal Bahaya Radikalisme dan Ekstremisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Surabaya – Jelang HUT ke-77 Republik Indonesia, Young Buddhist Association Indonesia mengajak generasi muda di negeri ini untuk bersama-sama menangkal bahaya radikalisme dan ekstremisme.

Ajakan tersebut dilakukan Young Buddhist Association lewat forum dialog lintas agama dan etnis yang di gelar secara daring di Surabaya, Sabtu (6/8/2022) malam.

Forum dialog ini dihadiri pula oleh beberapa aktivis kemanusiaan, aktivis Islam, aktivis Budha, dan Bhiksu sebagai pembicara. Karena, forum tersebut juga bertujuan untuk merajut toleransi antar umat beragama.

Bahkan beberapa pembicara berasal dari lintas negara seperti Indonesia dan Malaysia. Antara lain Wawan Gunawan (aktivis Kemanusiaan di Indonesia), Bhante Dhirapunno (Bhiksu), Eow Shiang Yen (General Secretary Young Buddhist Association of Malaysia), dan Aizat Shamsuddin (Founder and Director Komuniti Muslim Universal).

Dalam sambutan pembukaan acara, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kemenag RI, Drs. Supriyadi, M.Pd dan Ketua Young Buddhist Association Indonesia, Gondo Wibowo Tantri, M. Eng mengapresiasi penuh adanya kegiatan dialog lintas agama ini.

Billy Lukito Joeswanto, koordinator acara dari Young Buddhist Association Indonesia mengatakan, acara ini memiliki fungsi bertukar pikiran dari dua bangsa serumpun, dari muslim dan buddhis dalam menangkal ekstremisme dan radikalisme yang menjadi krisis dalam kehidupan sosial saat ini.

“Radikalisme dan ekstremisme bisa dihambat perkembangannya dengan orang baik dan yang toleran, mulai bersama komunitasnya beraksi. Apabila kita diam dan acuh tak acuh dalam melihat situasi krisis itu, maka oknum radikal dan ekstrim pemenangnya. Young Buddhist Association berjalan sesuai visi misi ajaran buddha dhamma tidak membiarkan hal itu terjadi,” ujarnya.

Wawan Gunawan, salah satu pembicara yang merupakan aktivis kemanusiaan, aktivis Islam, serta pegiat dialog lintas agama dan budaya, menyatakan radikalisme muncul dari bagaimana seseorang menempuh kehidupan keagamaan. Hal ini merupakan gejala yang terjadi di beberapa lapisan kehidupan dari sosial, individu serta dari sisi keagamaan dan politik.

BACA JUGA  Mahasiswa Diminta Waspada, Eks Napiter Bongkar Cara Rekrutmen Anggota Teroris Baru

“Pada dunia media sosial sekarang ini sangat dibutuhkan beberapa filter, dari diri sendiri, sosial, dan politik,” katanya.

Wawan melanjutkan, bahwa kebijakan pemerintah dalam dunia agama akan menjadi peran penting dalam mewujudkan masyarakat yang toleran dan dapat menghadapi radikalisme.

Toleransi yang dijalani oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia bukan hanya sikap menghormati adanya perbedaan, tetapi juga berfungsi untuk menegaskan perbedaan yang dibutuhkan untuk memunculkan kerja sama dalam perbedaan, dan saling mendorong dalam hal positif di tengah perbedaan.

“Sebagaimana fungsi Pancasila di Indonesia yang dihidupi oleh semua agama. Dia bukan agama, tetapi mengakomodasi semua agama dan menjadi titik temu. Penting bagi kita sebagai masyarakat untuk sadar kembali tentang Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,” ujarnya.

Hal serupa dikemukakan pula oleh Bhante Dhirapunno. Ia menegaskan, dalam radikalisme dan ekstremisme yang penuh emosi pada media sosial, setiap orang harus sadar agar tidak membawa penderitaan bagi diri sendiri dan membawa penurunan toleransi dalam pergaulan dan komunitas di sekitar kita.

“Perlu kita renungkan bahwa cinta kasih yang diajarkan semua agama tidak merugikan orang lain dan diri sendiri. Jaga pikiran, jaga ucapan, jaga mata, jaga jari di medsos. Jalan hidup ini, kemanapun kita melangkah tinggalkan jejak kebaikan dan kebenaran. Menjaga pikiran adalah sebuah proses latihan. Perjuangan bertoleransi tidak akan ada finishnya, Karena akan selalu ada yang tidak toleransi dan ada orang-orang seperti kita yang selalu berjuang untuk menghadapi toleransi,” tegasnya.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru