Iran Ancam Armada AS di Timur Tengah, IRGC Sebut Operasi Militer Semakin Dekat

Ahmad Fairozi, M.Hum.

18/07/2026

3
Min Read

Harakatuna.com. Teheran – Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dengan menyatakan armada Angkatan Laut AS di kawasan Timur Tengah semakin mendekati “jam nol” dimulainya operasi militer Iran. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara kedua negara, Jumat (17/7/2026).

Dalam pernyataan resminya, Komando Angkatan Laut IRGC menyebut seluruh pergerakan kapal perang dan perlengkapan militer Amerika Serikat di kawasan berada di bawah pengawasan penuh pasukan Iran. “Setiap saat, mereka semakin dekat menuju jam nol dimulainya operasi kami terhadap unit-unit angkatan laut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM),” demikian pernyataan IRGC.

Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menegaskan Iran akan terus melanjutkan operasi militernya hingga situasi keamanan di wilayah pesisir selatan negara itu kembali kondusif. “Pengeboman yang efektif dan terukur terhadap musuh akan terus berlanjut dari seluruh penjuru negeri sampai ketenangan kembali ke pantai selatan dan Selat Hormuz,” ujar Mousavi.

Ia menambahkan bahwa seluruh elemen pertahanan Iran, mulai dari Teheran hingga wilayah selatan, berada dalam satu komando untuk menghadapi serangan yang disebut berasal dari Amerika Serikat. Pernyataan tersebut muncul setelah media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan rudal Amerika Serikat yang menghantam sejumlah infrastruktur di wilayah selatan Iran.

Televisi pemerintah Iran menyebut salah satu sasaran serangan adalah menara pemantau maritim di Pelabuhan Chabahar yang dilaporkan hancur total. Menurut otoritas Iran, fasilitas tersebut digunakan untuk mengatur lalu lintas pelayaran serta mengoordinasikan operasi pencarian dan penyelamatan bagi nelayan di kawasan pesisir. Selain itu, Iran juga melaporkan serangan terhadap bandara, stasiun kereta api, dan dua jembatan di wilayah selatan negara tersebut. Serangan itu disebut mengakibatkan sedikitnya tiga warga sipil tewas.

BACA JUGA  Ledakan Bom Rakitan di Sekolah Brasil, Sepuluh Pelajar Terluka Ringan

Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar hukum internasional karena menyerang infrastruktur sipil yang tidak memiliki fungsi militer. Sebagai respons, IRGC mengumumkan peluncuran gelombang kesebelas Operasi Nasr 2 yang diklaim menyasar pusat komando operasi khusus militer Amerika Serikat di wilayah al-Tanf, Suriah tenggara.

Selain itu, Iran juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar serta Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania yang digunakan oleh militer Amerika Serikat. Rangkaian pernyataan dan aksi militer tersebut menandai meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Di satu sisi, Washington disebut terus meningkatkan tekanan militer di wilayah selatan Iran, sementara Teheran memperluas serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap sejumlah pangkalan militer serta fasilitas strategis Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat yang mengonfirmasi maupun menanggapi klaim Iran mengenai serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS tersebut.

Leave a Comment

Related Post