Sekjen CIS: Mengisolasi Afghanistan Bukan Solusi, Dialog Tetap Diperlukan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

28/06/2026

2
Min Read

Harakatuna.com. Moskow — Sekretaris Jenderal Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (Commonwealth of Independent States/CIS), Sergey Lebedev, menegaskan bahwa mengisolasi Afghanistan bukanlah langkah yang tepat. Menurutnya, pendekatan tersebut hanya akan menemui jalan buntu dan tidak akan mampu menjawab tantangan keamanan maupun pembangunan di kawasan.

Pernyataan itu disampaikan Lebedev saat berbicara dalam Forum Ilmiah dan Pakar Internasional Primakov Readings ke-12, sebagaimana dikutip Tolo News, Jumat (27/6/2026).

Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya negara-negara anggota CIS mempertahankan dialog yang bersifat pragmatis dengan otoritas de facto Afghanistan. Menurutnya, komunikasi yang konstruktif diperlukan untuk mendorong kerja sama dalam menghadapi ancaman kelompok ISIS-K serta memberantas produksi dan perdagangan narkotika.

“Kami sepenuhnya memahami bahwa mengisolasi Kabul adalah jalan buntu. Keamanan regional tidak mungkin tercapai tanpa partisipasi Afghanistan dalam proyek-proyek ekonomi dan transit Eurasia. Negara-negara CIS mempertahankan dialog pragmatis dengan otoritas de facto Afghanistan dan mendorong mereka untuk memerangi ISIS-K serta produksi narkotika,” ujar Lebedev.

Ia menambahkan, stabilitas kawasan tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan Afghanistan dalam berbagai proyek ekonomi dan konektivitas regional. Karena itu, menurutnya, kerja sama lintas negara perlu terus diperkuat.

BACA JUGA  UNIFIL Sebut Ledakan Drone di Lebanon Selatan Ancam Pasukan Penjaga Perdamaian

Pandangan serupa disampaikan analis politik Maiwand Jurat. Ia menilai, apabila pendekatan dialog dan kerja sama tersebut benar-benar diwujudkan, dampaknya tidak hanya akan dirasakan Afghanistan, tetapi juga kawasan secara keseluruhan.

“Jika pendekatan ini benar-benar ditindaklanjuti, hal itu akan berdampak positif bagi pembangunan Afghanistan sekaligus memperkuat keamanan dan kemakmuran regional,” katanya.

Sementara itu, analis politik Khalil Ahmad Nadem menilai posisi geografis Afghanistan menjadikannya negara yang memiliki arti strategis bagi pertumbuhan ekonomi kawasan. “Pertumbuhan ekonomi regional tidak mungkin terwujud tanpa Afghanistan. Karena letaknya yang berada di pusat kawasan, negara-negara di sekitarnya memandang Afghanistan sebagai mitra yang sangat penting,” ujarnya.

Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) saat ini beranggotakan sembilan negara penuh dan satu anggota asosiasi, di antaranya Rusia, Belarus, Armenia, Azerbaijan, Moldova, serta sejumlah negara di kawasan Asia Tengah.

Hingga kini, pemerintah Afghanistan yang dipimpin Imarah Islam telah menjalin hubungan diplomatik dengan sebagian besar negara anggota CIS. Namun, selain Rusia, belum ada negara anggota CIS lainnya yang secara resmi mengakui Imarah Islam sebagai pemerintahan sah Afghanistan.

Leave a Comment

Related Post