BNPT Gandeng Mathla’ul Anwar Perkuat Benteng NKRI dari Ancaman Radikalisme Digital

Ahmad Fairozi, M.Hum.

22/07/2026

3
Min Read
BNPT Gandeng Mathla’ul Anwar Perkuat Benteng NKRI dari Ancaman Radikalisme Digital

Harakatuna.com. Sentul – Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar (MA) melakukan kunjungan silaturahmi ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Sentul sebagai langkah memperkuat sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam upaya pencegahan radikalisme, penanggulangan terorisme, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.

Rombongan PB Mathla’ul Anwar dipimpin langsung oleh Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar, Dr. KH. Jazuli Juwaini, M.A., M.M., didampingi Ketua Majelis Amanah KH. Embay Mulya Syarif, Ketua Majelis Fatwa Prof. Dr. KH. Syibli Sarjaya, Sekretaris Jenderal Yanuar Arif Wibowo, S.H., M.I.Pol., dan Bendahara Umum H. Ulfi Khadafi. Kehadiran mereka disambut Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono beserta jajaran.

Dalam pertemuan tersebut, Jazuli Juwaini menjelaskan bahwa Mathla’ul Anwar yang berdiri sejak 1916 telah berkontribusi di bidang pendidikan, dakwah, sosial, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat ini, organisasi tersebut memiliki satu perguruan tinggi, sekitar 3.000 madrasah, sekitar 17 juta warga, serta kepengurusan yang tersebar di 28 wilayah di Indonesia.

Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Mathla’ul Anwar harus dioptimalkan melalui kolaborasi dengan pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan kebangsaan, termasuk ancaman radikalisme dan terorisme. “Sebagai organisasi Islam, Mathla’ul Anwar memiliki tanggung jawab kebangsaan dan kenegaraan. Karena itu, kami siap membangun kerja sama yang berkelanjutan dengan BNPT dalam upaya mencegah dan mengikis paham radikalisme,” ujar Jazuli.

Ia menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan radikalisme. Menurutnya, paham radikal muncul akibat pemahaman agama yang tidak utuh dan parsial. “Mathla’ul Anwar akan terus menanamkan semangat bela negara serta memberikan pemahaman keagamaan yang benar demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman radikalisme dan terorisme,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua Majelis Amanah PB Mathla’ul Anwar, KH. Embay Mulya Syarif, menilai organisasinya merupakan mitra strategis BNPT dalam menyebarkan nilai-nilai Islam moderat. “Dakwah harus dilaksanakan dengan prinsip amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahi munkar ghaira munkar, sehingga umat Islam dapat terus menjadi perekat persatuan bangsa sekaligus menjaga keutuhan Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA  Polisi Pastikan Ledakan Bom Rakitan Pelajar MAN 3 Padang Tak Terkait Jaringan Terorisme

Embay juga mengapresiasi kerja sama antara Mathla’ul Anwar dan BNPT melalui Program Desa Siapsiaga yang telah berjalan di Menes. Program tersebut dinilai memberikan manfaat nyata melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat, seperti bantuan mesin produksi paving block bagi pesantren dan pembangunan infrastruktur jalan desa.

BNPT pun menyatakan komitmennya untuk mengembangkan Program Desa Siapsiaga di wilayah lain bersama Mathla’ul Anwar. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB Mathla’ul Anwar, Yanuar Arif Wibowo, mengusulkan agar pembinaan terhadap mantan narapidana terorisme menjadi salah satu fokus kerja sama antara kedua lembaga.

“Program deradikalisasi, khususnya pembinaan terhadap eks narapidana terorisme, dapat menjadi salah satu bentuk kerja sama konkret antara BNPT dan Mathla’ul Anwar,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa upaya mitigasi dan pencegahan radikalisme tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk organisasi kemasyarakatan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono menjelaskan bahwa pencegahan terorisme merupakan amanat undang-undang yang dijalankan melalui tiga pilar utama, yaitu kesiapsiagaan nasional, kontra-radikalisasi, dan deradikalisasi. Karena itu, BNPT memandang Mathla’ul Anwar sebagai mitra strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan nasional sekaligus mendukung pelaksanaan program deradikalisasi di tengah masyarakat.

BNPT juga mengajak Mathla’ul Anwar untuk berperan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paham radikalisme, terutama di era digital. Menurut BNPT, ancaman terorisme kini semakin adaptif melalui fenomena self-radicalization yang memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan memilah informasi yang benar dan yang bersifat manipulatif.

Selain itu, BNPT menilai penguatan ideologi Pancasila, cinta tanah air, serta pembinaan terhadap mantan narapidana terorisme harus terus diperkuat melalui dukungan aktif organisasi masyarakat.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat sinergi antara BNPT dan PB Mathla’ul Anwar dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi penyebaran paham radikalisme, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Leave a Comment

Related Post