33.6 C
Jakarta

Sebuah Puisi (Bagian IV)

Artikel Trending

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Mengintip Senja Berdua – Pesantren bukanlah asrama (boarding house). Pesantren begitu ketat menjaga pergaulan lawan jenis. Adalah suatu pelanggaran besar di pesantren santri yang diketahui berpacaran, apalagi berkhalwat: berduaan antara santri putra dan santri putri yang bukan muhrim.

“Kringgg!” Bel melengking keras menandakan santri putri harus berangkat sekolah.

Madrasah Aliyah, tempat Diva belajar setiap hari, berjauhan dengan bilik pesantren. Biasanya para santri berangkat lima belas menit lebih awal sebelum guru masuk kelas. Diva berangkat bareng teman-temannya. Ada Adel, asal Surabaya, gemar menulis dongeng, lalu takdir mengantarkannya masuk pesantren. Satunya lagi Hanum, kelahiran Jakarta, gemar jalan-jalan. Mereka berdua pada mulanya membenci pesantren. Mereka mengira pesantren jauh dari peradaban, kumuh dan jorok. Tapi, mereka menyadari setelah berminggu-minggu beradaptasi langsung di pesantren.

Pesantren Annuqayah, selain memiliki perpustakaan, juga menghidangkan koran Jawa Pos dan Radar Madura saban pagi. Bahkan, disediakan warnet untuk mengakses informasi dan segala kebutuhan secara digital. Tidak ada ceritanya santri yang ketinggalan informasi dan gaptek (gagap teknologi). Banyak santri yang menggunakan internet ini untuk mengirim tulisan, berupa opini, esai, puisi, atau cerpen, ke pelbagai media, baik lokal maupun nasional. Suatu kebanggaan ketika tulisan itu nongol di koran lokal, lebih-lebih nasional.

Beberapa menit berjalan atap sekolah kelihatan dari samping bilik santri putra. Menuju sekolah Diva harus menyeberang jalan raya yang biasanya dilewati santri putra. Suatu kebahagian melewati penyeberang itu. Entahlah. Diva tidak paham. Hal yang sama juga dirasakan banyak santri putri.

Pada jalan itu Diva sering mendengar santri putra yang nakal berswit-swit atau berdehem. Para santri putri tidak merespons, malah menundukkan pandangan, karena takut ketahuan pengurus keamanan. Biasanya santri putra yang nakal dan ketahuan menggoda santri putri akan diplontos di depan para santri. Tentu, malunya minta ampun. Itu salah satu sanksi di pesantren.

* * *

Bismillahir Rahmanir Rahim,” seorang guru kitab Alfiyyah mengomando para siswi, termasuk Diva, Adel, dan Hanum. Bapak ini sering dipanggil Pak Badrun. Nazam kitab ini ditulis ulama Spanyol bernama Muhammad Jamaluddin Ibnu Abdillah Ibnu Malik.

Semua siswi mengikuti bacaan basmalah guru, kemudian membaca nazam kitab Alfiyah yang terhitung seribu bait. “Qala Muhammadun huwabnu maliki # ahmadu rabbillah khaira maliki,” bacaan nazam ini dilagukan begitu indah didengarkan. Setelah itu, guru menjelaskan maksud nazam ini.

Pak Badrun menjelaskan dengan pelan dan santai. Bahasanya yang renyah membuat para siswi tidak kesulitan memahami. Bahkan, semakin terbangun semangat belajar. “Bait ini ditulis setelah Ibnu Malik menghafalnya. Bait yang sudah dihafal ini pernah lupa karena kesombongan Ibnu Malik,” jelas Pak Badrun.

Para siswi fokus mendengarkan.

Pak Badrun meneruskan penjelasannya, “Ibnu Malik menyatakan dalam bait nazam ini, kitab yang sedang dikarangnya lebih baik daripada kitab gurunya, Ibnu Mu’thi.”

Diva penasaran dan membatin, “Memangnya ulama ada yang sombong juga ya?!”

“Tidak lama Ibnu Malik tertidur pulas, lalu ia bermimpi ketemu Ibnu Mu’thi, sehingga ketika bangun dia menyadari, kesombongan itu yang menghapus hafalan.”

Siswa tetap terdiam. Menyimak cerita pengarang kitab Alfiyyah penuh dramatis.

“Maka… uhuk-uhuk-uhuk.” Pak Badrun terbatuk sejenak. “Maka, seribu nazam yang lupa itu kembali dalam ingatan Ibnu Malik dan tertulislah dalam kitab ini pujian Ibnu Malik kepada Ibnu Mu’thi, bahwa Ibnu Mu’thi seorang ulama yang berhak menyandang pujian indah ini.”

Diva mengajungkan tangan. Bertanya suatu hal. Pak Badrun mempersilahkan.

“Kenapa bait-bait nazam ini terdengar berirama?” tanya Diva singkat.

“Anak-anakku semua! Nazam ini tak ubahnya puisi yang dikarang Musthafa Bisri dan Rendra. Kalian tahu mereka siapa? Mereka penyair. Ibnu Malik pun begitu. Dia juga penyair.” Pak Badrun menjelaskan seakan menggambarkan, bahwa baik-bait kitab adalah puisi tempo dulu. Pesantren secara tidak langsung mencintai sastra, karena nazam yang dibaca kuat kesusasteraannya.

Diva mengangguk-angguk isyarat paham.

“Anak-anakku semua… Bapak ingin berpesan, menulislah!. Para ulama terdahulu tetap dikenang namanya sampai sekarang karena menulis, termasuk menulis kitab-kitab seperti kitab Alfiyyah ini.” Itulah motivasi Pak Badrun sebelum mengakhiri pertemuan pagi ini.

Pesan Pak Badrun ini membakar semangat Diva menjadi penulis hebat. Di samping itu, Diva teringat pesan yang sama dari Abah dan Kak Nadia.

Pak Badrun baru saja keluar kelas. Adel dan Hanum mengajak Diva membaca koran di depan kelas.

Di papan koran, terbentang nama Fairuz Zakyal Ibad, penulis puisi.

“Div,” panggil Adel sambil menarik tangan Diva, “Ini tulisan santri Annuqayah,” Adel menunjuk laman koran Jawa Pos.

“Keren banget!” seru Hanum.

“Bener. Tulisanku aja belum nongol di koran nasional ini.”

Mereka bertiga membaca oretan puisi Fairuz.

.

Meski aku kau hempas

Ku tetap mencintaimu tanpa batas

Cinta itu tak harus dibalas

Biar hati yang bicara

Cinta itu bebas

.

Puisinya membuat mereka terhanyut begitu membaca baris kata demi kata. Tak terasa kata-kata indah menghipnotis pembaca, termasuk Diva. Diva mulai jatuh cinta menulis dan membaca, termasuk sudah menyelesaikan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan Buya Hamka.

Diva membatin.

Menjadi penulis itu menyenangkan. Hanya membaca dan menulis. Begitu kreatif penulis menyampaikan ide, sehingga pembaca terlarut di dalamnya.

“Ke kantin dulu yuk!” Hanum mengajak Diva dan Adel mencicipi gorengan di kantin terdekat sekolah.

Di kantin ini terbingkai diskusi tentang cinta. Pesan cinta yang tersurat dalam tulisan Fairuz memantik semangat diskusi mereka bertiga.

“Cinta itu…” kata-kata Diva sontak dipotong Adel.

“Cinta itu kecenderungan hati,” sebut Adel.

Mereka berdua membantah.

“Cinta itu kata hati,” kata Diva.

Menurut Hanum, “Cinta itu anugerah.”

Mereka memang sahabat. Tapi, dalam forum diskusi sering kali mereka berseberang pendapat. Anehnya, mereka tetap menjaga tali persahabatan. Mereka tetap memegang prinsip persahabatan tanpa batas seperti cinta yang tak terbatas.[] Shallallah ala Muhammad.

*Tulisan ini diambil dari buku novel “Mengintip Senja Berdua” yang ditulis oleh Khalilullah

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

HRW Tuntut Arab Saudi Putuskan Status Muslim Uighur Ditahan

Harakatuna.com. New York – Human Rights Watch (HRW) telah meminta pihak berwenang Arab Saudi untuk “segera mengklarifikasi” status Muslim Uighur dari minoritas etnis Uighur...

Serial Pengakuan Mantan Teroris (XI): Kurnia Widodo Korban Paham NII

Sebut saja saya Kurnia Widodo. Saya Lahir di Medan tahun 1974. Masa kecil saya dilalui seperti anak-anak pada biasanya. SMA saya awalnya ditempuh di...

Densus 88 Ringkus Teroris Pembuat Bom Taufik Bulaga

Harakatuna.com. Bandar Lampung - Polri buka suara soal penangkapan teroris Taufik Bulaga oleh Densus 88 Antiteror di Kampung Sribawono, Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah....

Beginilah Hukum Shalat Sambil Memakai Sandal

Di zaman nabi dahulu, pelaksanaan shalat sambil menggunakan sandal lumrah terjadi. Pasalnya, masjid kala itu tidak berlantai ubin seperti masjid-masjid di zaman sekarang. Sehingga...

Waspadai Ideologi Radikal yang Disusupkan di Konten Medsos

Harakatuna.com. Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Dr. Boy Rafli Amar, meminta masyarakat mewaspadai penyebarluasan ideologi radikal terorisme yang banyak...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...