Sebanyak 11 Organisasi Lintas Agama Akan Gelar Kampanye Anti IRET di Makassar, Perkuat Persatuan dan Tangkal Radikalisme

Ahmad Fairozi, M.Hum.

18/07/2026

4
Min Read

Harakatuna.com. Makassar – Sebanyak 11 organisasi lintas agama di Sulawesi Selatan berkomitmen akan menyelenggarakan Kampanye Publik Anti Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) di kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard Kota Makassar pada Minggu (19/7/2026). Kegiatan ini menjadi wujud sinergi lintas agama dalam memperkuat kerukunan, menanamkan nilai toleransi, serta meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Komitmen tersebut disepakati dalam Rapat Persiapan Kampanye Anti IRET yang digelar di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (17/7/2026). Rapat dihadiri para pimpinan majelis agama, organisasi lintas agama, dan tokoh masyarakat sebagai bentuk kolaborasi menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Ketua MUI Sulawesi Selatan, Prof. Najamuddin, mengapresiasi inisiatif bersama tersebut. Menurutnya, seluruh agama pada hakikatnya mengajarkan nilai-nilai perdamaian, hidup berdampingan, dan saling menghormati. “Kegiatan ini sangat baik karena semua agama mengajarkan kedamaian, hidup bersama, dan berdampingan dengan orang lain. Seluruh agama diutus ke dunia ini untuk membawa perdamaian,” ujar Prof.

Najamuddin.Dalam kesempatan itu, ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abdullah bin Salam RA. “Wahai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, dan salatlah pada waktu malam ketika manusia sedang terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”

Prof. Najamuddin juga menilai salah satu faktor yang dapat memicu berkembangnya paham ekstrem adalah semangat beragama yang tidak dibarengi dengan pemahaman yang memadai. “Semangatnya besar, tetapi ilmunya sedikit. Karena itu, ilmu harus menjadi penuntun dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT), Mallingkai Ilyas, menjelaskan kampanye tersebut mengusung tema “Merawat Harmoni, Memperkuat Persatuan: Bersama Menolak Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme” dengan tagline “CFD Harmoni: Jalan Sehat, Pikiran Sehat, Indonesia Kuat.”

Menurut Mallingkai, kawasan Car Free Day Boulevard dipilih karena merupakan ruang publik yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian kepada masyarakat. “CFD menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan. Selain menjadi ruang olahraga dan aktivitas UMKM, lokasi ini juga sangat strategis untuk menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, moderasi beragama, dan cinta tanah air,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi informasi turut menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan, hingga propaganda terorisme yang banyak menyasar generasi muda melalui media digital.

Karena itu, kampanye tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan Moderasi Beragama serta implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE). “Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya IRET, menanamkan nilai toleransi dan cinta tanah air, mengajak generasi muda menjadi agen perdamaian, memperkuat kolaborasi lintas agama dan lintas sektor, serta mendorong penggunaan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab,” ujar Mallingkai.

BACA JUGA  Kemenag Luncurkan Gernas RANA, Perkuat Perlindungan Anak di Pesantren dan Madrasah

Dalam sesi diskusi, seluruh peserta menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan kampanye tersebut.Perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulawesi Selatan, Made Merada, menilai kegiatan itu merupakan langkah mulia yang lahir dari semangat kebersamaan para tokoh agama. “Ini ide yang sangat mulia. PHDI mendukung penuh pelaksanaannya. Kami berharap setiap majelis agama dapat mengirimkan minimal sepuluh peserta agar pesan perdamaian semakin kuat dirasakan masyarakat. Kampanye seperti ini juga sebaiknya dilaksanakan secara berkala di berbagai ruang publik sehingga edukasi kepada masyarakat dapat berlangsung secara berkesinambungan,” ujarnya.

Berbagai masukan turut mengemuka dalam rapat. Perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) Sulselra, Pdt. Alex, mengusulkan agar kampanye serupa juga dilaksanakan di kawasan Center Point of Indonesia (CPI), Jalan Jenderal Sudirman, serta ruang publik lainnya. Sementara itu, Hans Hartono dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Sulawesi Selatan menilai kawasan CFD Boulevard merupakan lokasi strategis untuk menyampaikan pesan kerukunan kepada masyarakat.

Perwakilan WALUBI Sulawesi Selatan berharap kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara rutin mengingat masyarakat saat ini rentan terpapar informasi yang bersifat provokatif melalui berbagai platform digital.

Senada dengan itu, Permabudhi Sulawesi Selatan menyatakan kampanye Anti IRET merupakan bentuk komitmen bersama dalam menjaga Indonesia sebagai bangsa yang majemuk berdasarkan Pancasila, sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Menurut Permabudhi, intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme tidak hanya mengancam keamanan nasional, tetapi juga berpotensi merusak kehidupan bermasyarakat yang dibangun di atas prinsip saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.

Kampanye Publik Anti IRET dijadwalkan berlangsung pada Minggu (19/7/2026) pukul 06.00–09.30 WITA di kawasan Car Free Day Boulevard Kota Makassar. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh 11 organisasi lintas agama, yakni DPP ICATT, MUI Sulawesi Selatan, PGIW Sulselra, Keuskupan Agung Makassar, PHDI Sulawesi Selatan, DPD WALUBI Sulawesi Selatan, Permabudhi Sulawesi Selatan, MATAKIN Sulawesi Selatan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan, Forum Kemanusiaan Lintas Agama (FKLA) Sulawesi Selatan, serta Pemuda Lintas Agama (PELITA) FKUB.

Melalui kolaborasi tersebut, para tokoh agama berharap ruang-ruang publik di Kota Makassar tidak hanya menjadi tempat berolahraga dan beraktivitas, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan toleransi, serta meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Leave a Comment

Related Post