25.7 C
Jakarta

Refleksi: Mengenang 17 Tahun Bom Bali I

Artikel Trending

Milenial IslamRefleksi: Mengenang 17 Tahun Bom Bali I
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Bali, 12 Oktober 2002. Malam itu ramai betul jalanan di sekitar Paddy’s Caffe dan Sari Club. Macet, meskipun malam hari. Ya maklum saja, malam Minggu. Banyak wisatawan asyik ngobrol, nongkrong dan bermesraan dengan pasangannya di tengah riuh ramai jalanan kota.

Malam itu seperti malam minggu di hari biasanya, tidak ada firasat akan terjadinya insiden apa-apa. Semua baik-baik saja. Tidak ada rasa curiga kepada seseorang yang berseliweran di sekitar kerumunan orang.

Pukul 23:15 WITA para wisatawan sedang asyik berdansa, namun tiba-tiba, “Duaaaarrrrr..!!!”, terdengar suara ledakan besar dari lantai 1 Paddy’s Caffe. Suasana mulai mencekam. Para wisatawan saling berhamburan menyelamatkan diri. Dikutip dari ‘Buku Putih Tidak Resmi Investigasi Bom Bali I’, ledakan ini memakan korban jiwa sebanyak 8 orang, satu diantaranya meninggal dalam kondisi sangat mengenaskan. Ledakan tersebut disusul dengan nyala api dan kebakaran. Wush… lenyap semua barang.

Pengunjung keluar berhamburan, saling menyelamatkan diri dan nyawa mereka. Selisih 3 detik dari itu, bom kembali meledak di area Sari Club yang tak jauh dari lokasi ledakan pertama. Bom tersebut dibawa menggunakan mobil Mitsubishi L-300 yang kemudian berhenti tepat di depan Sari Club. Ledakan ini memicu kebakaran yang dengan cepat menghanguskan Sari Club beserta seisinya. Beberapa orang tewas seketika dalam insiden ledakan dengan kondisi mengenaskan. Masih mengutip pada buku yang sama, tercatat 71 orang tewas dalam insiden ini. Namun dalam berbagai catatan sejarah, bom yang meledak di Paddy’s Caffe dan Sari Club menewaskan setidaknya lebih dari 200 orang.

Dalam kondisi masih mencekam, tiga puluh menit setelahnya, bom ketiga berhasil diledakan di Jl. Puputan, Renon, Denpasar. Tak jauh dari Konsulat AS di jalan Hayam Wuruk. Untungnya ledakan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya saja menimbulkan kerugian material yang cukup banyak.

BACA JUGA  Dalam Memberantas Ekstremisme, Kita Tidak Bisa Pakai Kaidah “Yang Waras Ngalah!”

Setelah rentetan insiden meledaknya tiga bom dalam satu malam tersebut, suasana pulau Bali seketika senyap dan mencekam. Bali sudah tidak aman. Para wisatawan mulai tidak merasakan kenyamanan.

Polisi, Densus 88, para Intel mulai turun lapangan. Operasi sergap antiteror dilakukan, rumah demi rumah ditelusuri. Tidak ada yang terlewat. Namun sayang, para pelaku bom melarikan diri. Kendati begitu, tak membuat Intel dan Polri sampai tidak bisa menyelidiki.

Tragedi Bom Bali I

Muncul beberapa nama seperti Amrozi, Imam Samudra, Umar Patek dan beberapa nama lain sebagai tersangka.

Bom Bali I adalah peristiwa terbesar sepanjang sejarah terorisme di Indonesia. Tragedi bom dalam satu malam yang jika dikutip dalam catatan sejarah, mampu menewaskan hingga 200-an orang dalam sekejap, membuat ratusan orang luka fisik dan trauma. Kejahatan terorisme yang bisa dibilang sangat terstruktur dan sistematis sepanjang sejarah.

Tragedi bom bali menjadi catatan kelam hingga berabad-abad kedepan bahwa terorisme adalah kejahatan kemanusiaan, bukan melulu kejahatan soal agama. Sayangnya memang dalam berbagai aksi teror, yang muncul mejadi tersangka adalah orang-orang yang beragama Islam. Mau tidak mau sebagai umat Islam, kita harus mengakui adanya kelompok yang menghalalkan darah orang yang tidak sealiran/sepaham/seagama dengannya, yakni Khawarij.

Sebagai penutup, dalam sebuah forum diskusi Brigjend Hamli (Direktur Pencegahan BNPT) pernah mengatakan, jika populasi orang dengan paham intoleran terus meningkat, maka radikalisme akan berkembang pesat. Artinya, bila radikalisme makin bertambah, tinggal menunggu waktu saja terorisme akan merambah. Sebab intoleransi dan radikalisme adalah pintu masuk utama bagi paham-paham ekstremisme-terorisme. Tidak ada terorisme tanpa radikalisme dan intoleransi.

*Vinanda Febriani
Penulis adalah Mahasiswa yang sedang mengenyam S1 Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru