Ramadhan, Radikalisme dan Peran Dai


0
15 shares

Bulan Ramadhan kembali tiba. Segenap umat Islam dunia sedang menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Secara umum, umat Islam menyambut dengan penuh gembira menyambut datangnya bulan suci nan penuh ampunan ini. Kegembiraan masyarakat dalam menyambut Ramadhan terlihat dalam berbagai macam bentu; ada yang diekspresikan dalam bentuk pawai menggunakan obor keliling kampung sampai kegiatan syukuran dan lain sebagainya.

Dalam konteks Indonesia, Ramadhan menyimpan sejuta kisah dan makna. Sebab, banyak kebangkitan dan perubahan yang ada di bumi pertiwi ini terjadi pada bulan Ramadhan, diantaranya adalah peran pelajar/santri, ulama, dan segenap bangsa Indonesia untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Maka, sudah selayaknya umat Islam Indonesia bergembira menyambut dan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan karena, sekali lagi, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadan 1334 H, merupakan momentum paling menentukan dan paling diingat dalam sejarah Republik Indonesia terjadi pada bulan suci.

Namun, kegembiraan menyambut bulan Ramadhan sedikit banyak “ternodai”. Penyebabnya adalah berita beberapa pekan lalu sebelum datangya bulan Ramadhan, Indonesia, bahkan dunia, dihadapkan pada kejadian demi kejadian aksi terorisme. Yang paling mencengangkan adalah peristiwa bom di Srilanka.

Memang ini skalanya internasional. Meskipun demikian, bukan berarti Indonesia dalam kondisi aman. Justru Bom Sri Lanka, dimana salah satu temuan mengatakan bahwa National Thowheeth Jama’ath adalah dalang dibalik peristiwa brutal itu, mempunyai hubungan dengan kelompok radikalis-teroris di Indonesia. Sehingga, Bom Sri Lanka berpotensi membangunkan sel tidur terorisme di Nusantara.

Rentetan demi rentetan aksi radikalis-teroris yang terjadi di dunia maupun di Indonesia semakin menegaskan bahwa potensi tindakan radikalisme-terorisme semakin sulit diberantas. Bagaimana tidak. Jika selama ini tindakan terorisme selalu dikaitkan dengan kemiskinan, mimimnya pendidikan dan ketidakadilan, fenomena bom Sri Lanka dan Bom Bali sudah mementahkan pendapat ini.

Baca Juga:  Ghuluw dalam Beragama

Sebagaimana yang sudah diungkap oleh pihak yang berkompeten dalam menangani peristiwa terorisme, diketahui bahwa Bom Srilanka pelakunya adalah orang yang tajir nan berpendidikan tinggi. Pelaku bom bunuh diri di Surabaya juga terkonfirmasi bahwa Pasangan suami-istri dan keempat anak mereka yang menjadi pelaku rentetan bom bunuh diri sejumlah gereja di Surabaya pada Mei 2018, memiliki latar belakang ekonomi yang berkecukupan.

Jadi, kejadian terorisme yang pernah terjadi hingga kini semakin menegaskan bahwa membasmi radikalisme yang berbuntut aksi terorisme semakin sulit.

Memaksimalkan Peran Dai

Dalam bingkai itu, bulan Ramadhan menjadi momentum yang tepat bagi seluruh masyarakat Indonesia, dunia pada umumnya, untuk bertabayyun dan jihad (cek and richek) dalam membasmi benih-benih dan sel-sel terorisme. Yang demikian ini sangat relevan dengan makna Ramadhan, yakni bulan jihad; tidak hanya melawan nafsu, tetapi juga berita bohong sampai radikalisme dan terorisme.

Dari fakta rentetan aksi terorisme, maka di momentum yang tepat ini (bulan Ramadhan), peran dai dangat dibutuhkan, terutama untuk meluruskan pemahaman keagamaan masyarakat. Harus diakui pula bahwa pemahaman agama turut menjadi faktor seseorang masuk dalam kelompok radikalis-teroris.

Dengan segala keagungan, di bulan Ramadhan ini orang-orang akan semangat untuk belajar agama. Berangkat dari kecenderungan inilah, dai harus memainkan perannya, yakni mengajak masyarakat  untuk menyadari koridor-koridor dan indikator mana yang haq dan yang bathil; mana yang ajaran Islam sesungguhnya dan ajaran Islam yang dipasung.

Kita yakin betul jika segenap dai dalam mimbar-mimbar radikalisme dan terorisme dapat diminimalisir sedekikian rupa. Dan pada bulan ini, materi dan ajakan dai akan dapat diterima sebagai sebuah pencerahan karena pada momentum Ramadhan orang akan berpikir lebih jernih, sabar, dan bisa menahan diri.

Baca Juga:  Mungkinkah 2018 Indonesia Bebas dari Radikalisme?

Like it? Share with your friends!

0
15 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.