26.1 C
Jakarta

Ramadan Berkubang (Ancaman) Terorisme

Artikel Trending

Milenial IslamRamadan Berkubang (Ancaman) Terorisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Ramadan 1444 H sebentar lagi akan tiba. Banyak orang bahagia sekaligus harap-harap cemas akan datangnya ramadan ini. Bahagia, karena orang akan bertemu dengan seluruh kegiatan hidup yang akan diganjar pahala banyak. Cemas karena biasanya pada bulan puasa juga banyak datang ancaman-ancaman yang tak terkira.

Sejak 2012 ini, derita sosial di bulan ramadan selalu menimpa. Derita ini dibuat karena berlebihan dalam memandang agama dan merasa yang paling benar. Orang-orang yang merasa dirinya benar dan pemahamannya dianggap sudah berada di puncak absolut dengan berani melakukan jihad atas nama agama dan akan diganjar masuk ke dalam surga.

Karena inilah banyak di antara mereka melakukan bom bunuh diri atau mengebom orang tak bersalah di bulan ramadan. Bulan ini dipilih sebab dianggap menjadi momentum kesakralan daripada bulan-bulan lainnya.

Jika bisa berjihad di bulan ini dan berhasil telah meluluhlantakkan manusia sesuai tabiat dari para amirnya, dianggap sempurnalah seluruh agamanya. Kendati itulah mereka yang bunuh diri, dianggap mati syahid, dan akan masuk surga. Doktrin inilah, yang menyebabkan terjadinya celaka dan rasa was-was ketika orang-orang ingin menemui bulan ramadan.

Riwayat Bom Bulan Ramadan

Kita memiliki daftar panjang tentang pengeboman yang terjadi selama bulan ramadan. Bisa kita lihat dalam 10 tahun terakhir, aksi-aksi terorisme marak terjadi. Misalnya, sebuah bom meledak di Pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah pada Senin (3/6) malam. Dalam aksi ini tidak ada korban yang berarti, tetapi mata orang menjadi berninar-binar saat mengetahui bahwa ada seorang anak muda berusia 22 tahun, telah masuk pada lingkaran setan terorisme. Artinya, doktrin akan radikalisme-terorisme sangat keras dan sangat mumpuni di dalam area teroris.

Kedua, terjadi pada 17 Agustus 2012. Kejadian ini adalah penembakan pos polisi di Pos Pengamanan Gemblegan, Serengan, Surakarta, oleh orang tak dikenal. Pada peristiwa ini, pelaku menembak dari jarak sekitar satu meter. Akibatnya, dua anggota polisi mengalami luka-luka.

Pada tahun yang sama, terjadi pelemparan granat di Gladak 2012. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada 18 Agustus 2012, di mana granat meledak di depan Pos Pengamanan Gladak, tak jauh dari Tugu Gladak, Solo, Jawa Tengah. Aksi ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun hanya semacam memberikan signal teror bahwa mereka (teroris) masih ada.

Dan pada 2016, terjadi bom bunuh diri di Solo. Ramadan dijadikan sebagai momentum untuk melakukan teror dan penyerangan terhadap target yang telah ditentukan oleh organisasi teroris. Dalam kesempatan ini mereka melakukan amaliah bunuh diri di halaman Mapolresta Solo, Jawa Tengah, sekitar pukul 07.35 WIB, pada 5 Juli 2016. Pelaku meledakkan diri bersama motor yang dikendarai.

Lalu pada 23 Mei 2017 atau tiga hari sebelum bulan ramadan, sebuah bom panci meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dari hasil olah TKP, dua pelaku yang membawa bom panci dalam ranselnya akhirnya tewas. Peristiwa ini menewaskan lima orang yang terdiri dari dua pelaku dan tiga anggota kepolisian.

Paling Kemarin

Kemudian pada 2018, terjadilah bom yang menghantam dada sebagian orang, yaitu bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga, termasuk anak-anak yang masih sangat kecil. Bom ini dimaksudkan untuk meneror beberapa gereja di Surabaya, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Ledakan bom terjadi saat jemaat sedang melaksanakan ibadah dan menewaskan 13 orang dan puluhan luka-luka.

Selang 14 jam, sebuah bom meledak di Rusunawa Wonocolo, Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo. Korban tewas sebanyak tiga orang yakni Anton Febriyanto (47), seorang perempuan diduga istrinya, Puspitasari (47), serta seorang anak RAR (17). Polisi terpaksa menembak mati Anton karena saat sekarat dia masih menggenggam tombol picu bom. Keesokan harinya, pada 14 Mei 2018, sebuah bom meledak di Mapolrestabes Surabaya. Saat beraksi, pelaku membawa serta keluarga yang terdiri dari istri dan tiga anak. Berdasarkan laporan kepolisian, pelaku bersama istri dan dua anak mereka tewas sedangkan satu anak selamat.

Lalu pada Mei 2018, sehari sebelum bulan Ramadan, sebuah mobil Toyota Avanza dan menerobos gerbang. Kejadian ini membuat satu orang anggota Provost terkapar dan dua orang wartawan terluka. Pelau aksi ini disebut-sebut pelakunya adalah Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Melihat rentetan kasus di atas, ramadan dalam sejarahnya berkubang dari ancaman terorisme. Sebab dalam kesadaran teroris, bulan ramadan adalah momentum yang tepat untuk dijadikan sebagai bulan jihad dan penebusan dosa. Lalu, apakah bulan ramadan kali ini bom-bom teror akan terjadi kembali? Kita lihat saja analisis selanjutnya.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru