25.5 C
Jakarta
Array

Potret Pribadi Muslim Sejati

Artikel Trending

Potret Pribadi Muslim Sejati
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Bagi orang Islam, menjadi Muslim sejati adalah sesuatu yang didamba-damba. Namun, tidak jarang  seorang Muslim tidak tahu-menahu apa dan bagaimana potret pribadi Muslim sejati itu. Tentu bukanlah sosok yang mempunyai kekuasaan mentereng, kaya-raya, dan banyak istri atau suami. Sekali lagi, bukan itu!

Nah, dalam bingkai inilah, tulisan ini berusaha dengan sekuat tenaga dan fikiran hendak mengulas tentang ciri-ciri pribadi Muslim sejati. Dengan mengetahui ciri-ciri ini, diharapkan kita benar-benar menjadi umat Muslim yang sejati dan yang dicintai Sang Ilahi.

Pertama, salimul aqidah (aqidah yang bersih). Modal pertama dan utama menjadi Muslim sejati adalah aqidah yang lurus dan bersih. Terkait hal ini, Allah swt. memberikan pedoman yang kuat. Bahwa “ Tidak ada sekutu bagiNya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim) (QS. Al-An’am:162). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa dengan kemantapan dan kematangan aqidah yang bersih, menjadikan Muslim menyerahkan seluruh hidup dan matinya hanya kepada Allah. Hidupnya akan benar-benar digunakan untuk sesuatu yang berimplikasi positif terhadap hubungannya dengan Allah dan manusia.

Kedua, salihul ibadah (ibadah yang benar). Sudah banyak tausiah dan petuah dari ahli agama seperti ulama dan kyai bahwa inadah adalah manifestasi kehidupan yang baik dan benar. Bisa dipastikan bahwa ibadah yang benar berbanding lurus dengan tindak-tanduk yang benar. Jadi, orang yang taat beribadah tidak hanya menjauhi keji dan mungkar (QS. AL-Ankabut:45), melainkan dia sesungguhnya orang yang beruntung (QS. Al-Mukminun:2). Sejalan dengan ini, seorang muslim yang shalatnya benar akan malhirkan sifat-sifat berani dan terpercaya. Dan dua sifat inilah sebagai modal utama menjadi pribadi muslim yang berintegritas dalam segala hal dan bidang. Jadi, sebenarnya boleh dikatakan bahwa orang muslim yang korupsi dan menyeleweng shalatnya atau ibadahnya tidak benar. Ada yang salah.

Ketiga, matinul khuluq (akhlak yang kokoh). Islam adalah akhlak. Hal ini bterbukti dari pokok ajaran islam: aqidah, syariah, dan akhlak (Islam, iman, dan ihsan). Quraish Shihab (2016) menegaskan bahwa pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi, kendati hanya Allah yang mengetahui dan mempunyai hak peyogratif, tetapi patut diduga keras bahwa pengangkatan Nabi oleh Allah adalah karena akhlak beliau berada dipuncak manusia seluruhnya.

Baca Juga: Yang Hilang Dari Kita (1)

Tidak heran, jika salah satu indikator kuat negara maju dan beradab adalah akhlaqul karimah warga negaranya. Sebab, negeri yang tidak mengedapankan akhlak yang baik sama saja negeri jahilyah (bar-bar). Dan inilah yang menjadi sebab mengapa Nabi diutus pertama kali oleh Allah bukan mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan menyempurnakan akhlak. Jadi, akhlak yang mulia adalah sebuah keniscayaan bagi pribadi Muslim sejati.

Keempat, qowiyyul jismi (kekuatan jasmani). Rasulullah bersabda: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada Mukmin yang lemah (HR.Muslim). Maka, term sabar (as-shabr) dalam Islam bukanlah sikap putus asa sebagaimana orang lemah, melainkan sabar itu usaha dengan sekuat tenaga untuk melewati ujian yang berat. M Nasih mengibaratkan sabar dengan seseorang yang mendaki gunung terjal, dengan sabar ia sampai kepuncak. Hal ini mencerminkan bahwa Muslim tidak boleh lembek, lemah, dan cengeng.

Kelima, mustaqqoful fikr (intelek dalam berfikir). Terkait hal ini, Allah berfirman: Katakanlah, apakah sama orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran (QS. Az-Zumar:9). Gamblang sudah bahwa pemikiran menjadi ornamen penting dalam membangun pribadi Muslim sejati. Ia tidak hanya rajin beribadah, melainkan juga dituntut untuk mengkaji dan mengasah otak melalui kajian-kajian ilmiah dan sejenisnya. Dalam bahasa Ali Syariati, kita harus menjadi raushan fikr (intelektual tercerahkan).

Keenam, mujahidun linafsihi (melawan hawa nafsu). Musuh terbesar manusia sesungguhnya adalah hawa nafsu. terkait hail ini, Imam al-Ghazali (w.505H/1111M) menjelaskan tiga tingkatan manusia dalam memerangi hawa nafsu. Pertama, orang yang dikuasai oleh hawa nafsu dan bahkan menjadikannya tuhan sesembahannya (QS. 25:43 dan QS. 45:23). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang yang dikauasi hawa nafsu cenderung melakukan kesestan dan hatinya terkunci. Orang seperti ini sangat hia. Alquran menggambarkan mereka seperti anjing (QS. 7:176).

Kedua, orang yang selalu berkompetisi dengan hawa nafsunya. Berbeda dengan yang pertama, kelompok ini terkadang ia mampu mengendalikannya dan terkadang tidak. Golongan ini lazimnya adalah mereka yang gemar pergi ke majlis dzikir dan khusuk dalam shalat. Ketiga, golongan yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dan mengalahkannya dalam kondisi apapun. Mungkin tingkatan ini hanya bisa diperolah oleh Nabi Muhammad Saw. yang memang sudah ma’shum.

Ketujuh, qoridun ‘alal kasbi (mandiri dalam segi ekonomi). Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa kemiskinan itu lebih dekat dengan kekafiran. Benar. Banyak kawan kita yang rela “menggadaikan” keimanannya dengan sebungkus “Indomie”. Maka, Islam sangat mendorong umatnya untuk menjadi sosok yang mandiri dalam bidang ekonomi. Apalagi di era seperti saat ini, dimana uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Jihad pun membutuhkan uang banyak. Dan Rasul dan Ustman bin Affan pun sudah memberikan teladan sebagai pengusaha yang ulung.

Terakhir, nafi’un lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Rasulullah bersabda: “sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad). Zakat, infaq, shadaqah dan jihad dijalan Allah sesungguhnya manifestasi dari hadis ini. Jadi, Muslim ibarat garam yang harus memberikan warga dan manfaat dalam segala hal. Misalnya dalah hal politik, seorang Muslim bisa menjadikan kekuasaan yang ia pegang sebagai penolong banyak orang. (NJ).

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru