30 C
Jakarta
Array

Masjid Bukan Tempat Untuk Berpolitik (1)

Artikel Trending

Masjid Bukan Tempat Untuk Berpolitik (1)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Oleh : Habib Umar bin Hafidz

Diterjemahkan oleh Habib Jindan bin Novel dan Syaikh Ridwan Al Amri, ‘Dalam Acara Tasyakuran HUT ke-72 TNI di GOR Ahmad Yani, Markas Besar TNI, Cilangkap, JakartaTimur, Rabu, 18 Oktober 2017’

Dahulu kala para Qabilah dari Jazirah Arab tidak berperang kecuali mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahuwata’ala.

Maka salah satu anggota dari Qabilah tersebut ada yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian Rasulullah bertanya, “Apa sebab kalian bisa menang terus di setiap peperangan ?”.

Anggota Qabilah itu menjawab, “Ya Rasulullah, kami selalu menang karena kami tidak pernah memulai berbuat dzholim terlebih dahulu kepada orang lain.”

Dan yang menjadi pemimpin kami adalah orang yang tertua dari kami serta orang yang paling sholeh diantara kami. Dan kami selalu bersatu padu tidak bercerai berai.”

Maka Nabi menetapkan bahwasannya inilah pertolongan dari Allah Subhanahuwata’ala. Pertama mereka tidak memulai mendzholimi orang lain, Kedua apapun masalahnya mereka kembalikan kepada orang yang lebih tua dan yang paling sholeh diantara mereka, Ketiga hati mereka selalu bersatu padu dan tidak bercerai berai.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman :

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Janganlah kalian saling berselisih niscaya kalian akan gagal dan akan hilang pertolongan Allah kepada kalian” (QS. Al Anfal : 46 )

Sesungguhnya di dalam berdzikir kepada Allah Subhanahuwata’ala, membaca Al Qur’an dan beramal Sholeh, inilah penyebab yang paling kuat dalam pertolongan dari Allah.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman :

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ

“Tatkala kalian memohon pertolongan dari Allah, maka Allahh akan kabulkan”. (QS Al Anfal : 9)

Tadi kami menyaksikan ketika kami masuk ke tempat ini, disambut dengan Dzikir kepada Allah Subhanahuwata’ala dan Sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kami sangat senang karena ini merupakan syiar yang dulu juga dilakukan oleh Bala Tentaranya Nabi Muhammad dahulu. Permisalan Bala Tentara dahulu adalah Kaum Muhajirin dan Anshor yang mempunyai pimpinan masing-masing.

Sesungguhnya pimpinan Kaum Anshor mereka adalah yang berbai’at kepada Nabi melalui Bai’at Aqobah dahulu di Makkah.

Dan pemimpin dari Kaum Muhajirin berasal dari keluarga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersama-sama Hijrah dengan Nabi Muhammad.

Dan setiap orang dari para sahabat dan bala tentaranya yang cinta sahabat baik dari Kaum Muhajirin maupun Kaum Anshor, mereka mencintai keluarga Nabi Muhammad, maka mereka pasti akan diberi pertolongan dan hajat mereka akan dikabulkan.

Sifat yang seperti ini yang Allah lihat dari hati sanubari kalian, ini sifat-sifat yang dahulu sudah dilakukan oleh kakek moyang kita dari Para Ulama yang dahulu membawa ajaran Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dan sifat ini adalah sifat dari ayah-ayah kalian terdahulu yang merupakan metode Ahlussunnah Wal Jama’ah, Tugas mereka adalah :

  1. Menyatukan orang, bukan mencerai-beraikan manusia.
  2. Menyebarkan kecintaan dan saling maaf-memaaf diantara manusia.
  3. Mengadili orang-orang yang berbuat dzholim sehiingga mereka tidak berbuat dzholim lagi.
  4. Mengikat hati mereka dengan keimanan dan mahabbah (kecintaan).

Dengan itulah kesempurnaan kesuksesan bisa dicapai.

Tidak dikenal di dalam sejarah Islam di Republik Indonesia ini keadaan perpecahan dan permusuhan pada zaman dahulu kecuali mungkin di waktu-waktu terakhir saja.

Dan orang-orang terdahulu dari Para Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah kita dari Asy’ariyyah dan Syafi’iyyah sangat memperhatikan Tazkiyatun Nafs (membersihkan Jiwa) dan Tasawuf. Atas dasar inilah berlalu berabad-abad di Indonesia ini. Barulah kali ini muncul pemikiran-pemikiran yang ingin memecah belah diantara umat manusia.

Perpecahan diantara barisan kaum Muslimin adalah sebab utama kekalahan dan kebinasaan.

Penyebabnya karena mereka di dalam masjid, memasukkan pemikiran-pemikiran mereka yang di dalamnya terdapat hawa nafsu untuk kepentingan politik tertentu dan kepentingan kelompok tertentu, bukan untuk kepentingan umat manusia.

Sesungguhnya masjid itu dibangun untuk menghubungkan manusia dengan ajaran Allah Subhanahuwata’ala serta membersihkan hati mereka dari kotoran-kotoran hawa nafsu.

Sebagaimana orang yang masuk ke dalam masjid adalah orang-orang yang beragam, dari berbagai latar belakang, mereka masuk ke dalam masjid untuk bersujud dan patuh kepada Allah Subhanahuwata’ala. Dan mereka tidak membawa omongan-omongan yang berkaitan dengan kesibukan duniawi mereka, tetapi hanya karena Allah Subhanahuwata’ala.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru