Menulis Perlu Banyak Latihan

Sebagaimana hal-hal lain, menulis juga perlu (dan harus) banyak latihan.


0
3 shares

Seperti bermain sepakbola, membikin kerajinan, mengolah masakan, merakit teknologi terbarukan, dan keahlian-keahlian apa pun yang ada di dunia, menulis juga begitu—kau harus banyak-banyak latihan agar kualitas karyamu semakin membaik.

Tetapi, bagaimana latihan menulis? Atau lebih spesifiknya: bagaimana latihan menulis yang efektif dan efisien? Jika kau kelewat sibuk dan menginginkan jawaban ringkas, maka mudah saja: perbanyaklah membaca dan menulis. Namun itu kelewat menyederhanakan persoalan, bukan? Sebab menulis tidak sesederhana itu sebagaimana bermain sepakbola tidak sesederhana perbanyak menonton pertandingan sepakbola dan menendang bola.

Latihan yang baik bukanlah latihan biasa-biasa saja—latihan yang sudah banyak orang ketahui dan lakukan. Perlu metode latihan khusus, latihan-latihan yang sudah teruji efektif dan membawa hasil positif. Apa tolok ukur efektif dan positif? Paling tidak saya katakan, yaitu latihan-latihan menulis yang para penulis hebat telah berbaik hati membagikan tips-tipsnya dan mereka juga terapkan sendiri.

Lalu, apa saja itu?

Saya akan menyebutkan tiga metode latihan saja. Metode-metode berikut ini saya peroleh dari sejumlah penulis mentereng dalam negeri. Metode-metode ini mungkin lebih terfokus membahas bagaimana menulis sebuah karya fiksi yang baik—sebab saya mendapatkan metode-metode ini dari para penulis fiksi. Tetapi, sebetulnya, bisa juga diterapkan untuk menunjang kemampuan menulis jenis tulisan-tulisan apa pun secara umum.

Pertama, latihan 10.000 jam. Metode 10.000 jam latihan ini dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers. Menurut penelitiannya, dibutuhkan 10.000 jam latihan penuh dedikasi untuk menghasilkan orang sukses dalam bidang apa pun. Dalam blognya ketika sedang membahas metode tersebut, Eka Kurniawan—novelis termasyhur Indonesia saat ini sekaligus penulis Cantik Itu Luka—menjelaskan kaitannya metode itu dalam hal menulis, “Jika kita mendedikasikan waktu 3 jam sehari (secara konsisten, setiap hari) untuk membaca dan menulis, kurang-lebih kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk ‘terlatih’.”

Baca Juga:  Ikatlah Ilmu dengan Menulis!

Wow, 10 tahun! Kelihatan berat dan nyaris mustahil. Tapi, bukankah jika kita ingin memperoleh hasil yang maksimal, kita memang harus berjuang secara maksimal pula? Begitu juga jika ingin mahir menulis. Berlatihlah secara rutin selama 10.000 jam—jika merujuk metode pertama. Bahkan, seharusnya, lebih dari 10.000 jam. Bukankah sebaik-baik latihan adalah hingga akhir hayat?

Kedua, menerjemahkan karya penulis-penulis hebat atau favorit. Perihal metode ini saya juga mendapat ilmunya dari Eka Kurniawan. Ia berkata dalam salah satu tulisannya, “Menerjemahkan, enggak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan.”

Eka Kurniawan sendiri telah menerjemahkan beberapa buku semisal Metamorphosis-nya Kafka, Cannery Row-nya John Steinbeck, dan beberapa bagian Moby-Dick-nya Herman Melville.

Ketiga sekaligus terakhir, menulis dengan strategi tiga kata. A.S. Laksana dalam buku tipisnya Creative Writing menyebutkan metode sederhana ini. Ia memberi permisalan: pikirkan tiga buah kata yang tak berhubungan sama sekali. Misal kucing, kardus, dan rumput. Dari tiga kata itu, ambil satu kata, lalu jadikan sebuah kalimat, kemudian teruskan dan rangkailah dengan bermodal tiga kata itu menjadi sebuah cerita.

Dalam menerapkan metode terakhir ini, fokuslah pada bagaimana cerita itu berhasil selesai terlebih dahulu. Soal baik-buruk atau bagus-tidaknya, bisa dipelajari dan diperbaiki kemudian.

Demikianlah tiga metode latihan menulis sederhana tersebut. Barangkali metode-metode itu tidak memberi jaminan akan ampuh bagi setiap orang. Namun setidaknya akan cukup membantu bagi siapa pun yang tengah belajar dan latihan menulis.

Baca Juga:  Ramadhan Momentum Tumbuhkan Tradisi Menulis

Selama terus belajar, mengevaluasi kekurangan dan kesalahan, menjelajahi metode-metode baru, dan tidak mudah puas, lama kelamaan karya yang kita buat pun akan berkembang dan menjadi baik. Memangnya dengan apa Ernest Hemingway, Pramoedya Ananta Toer, dan Eka Kurniawan bisa menghasilkan karya-karya bagus, kalau bukan dengan terus-menerus latihan? Latihan yang tidak asal-asalan, tentu saja. (*)


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
erwinsetia