Menulis Adalah Soal Kerja Keras

Menulis butuh dan harus bekerja keras.


0
2 shares
Internet

Bagi seorang yang bermimpi jadi penulis, hadis Nabi berikut ini perlu diperhatikan baik-baik: “Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kau berlemah diri.” (HR. Muslim.

 Terang sekali hadis tersebut menunjukkan pentingnya semangat, kerja keras, doa, dan keteguhan tanpa kenal putus asa. Sesungguhnyalah kandungan hadis di atas menjadi syarat mutlak bagi orang-orang yang tengah berjuang untuk menggapai cita-citanya, apa pun itu, termasuk penulis.

            Namun di sini saya memfokuskan pada satu topik, yaitu soal kerja keras. Belakangan, muncul ungkapan kira-kira begini, “Kerja keras saja belum cukup, harus pula kerja cerdas.” Ungkapan yang sungguh benar. Tapi, saya tidak akan mengupas soal kerja cerdas. Mungkin pada lain waktu akan saya bahas.

            Kerja keras adalah syarat utama untuk meraih keberhasilan dalam bidang apa pun, tak terkecuali dalam hal menulis. Tanpa kerja keras, tulisan seseorang tak akan berkembang, malahan bisa jadi semakin mundur dan terkejar oleh orang-orang lain yang jauh bekerja lebih keras. Kerja keras dalam menulis dapat berarti bekerja keras memperbanyak referensi guna memperluas wawasan—bisa dengan membaca buku, menonton film, riset langsung ke lapangan, bercakap-cakap dengan banyak orang, mengikuti lokakarya dan seminar, dan lain sebagainya—dan dapat pula berarti bekerja keras memperbanyak menulis. Perbanyak menulis tentunya dengan tetap memerhatikan kualitas tulisan. Sebab kuantitas dan kualitas harus berjalan seiringan.

            Banyak kisah soal kerja keras para penulis dan tak ada salahnya mengambil pelajaran dari kisah-kisah mereka.

            Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal J.K. Rowling, penulis serial Harry Potter yang buku maupun versi filmnya laku keras di pasaran dunia, tidak sekonyong-konyong menjadi penulis terkenal seperti sekarang. Dulu naskah Rowling pernah ditolak 12 kali. Tapi ia tidak berhenti, ia tetap berusaha dan bekerja keras, hingga nasib baik menghampirinya dan ia menjadi masyhur, kaya raya, dan sukses.

            Stephen King, penulis Amerika, yang berbagai bukunya telah diangkat ke layar lebar dan sukses besar—sebut saja It dan The Shawshank Redemption—juga pernah mengalami penolakan. Tak tanggung-tanggung, naskahnya ditolak 30 kali! Tapi barangkali yang paling mengagumkan adalah Stephanie Garber. Ia pernah menulis tiga novel dan mengirimkannya ke 200 agen penerbitan, namun semuanya berbuah penolakan. Tapi, berkat kerja kerasnya, novelnya akhirnya terbit. Bahkan, novelnya Caraval pernah menjadi best seller selama 15 minggu berturut-turut versi The New York Times.

            Dalam konteks Indonesia, saya pernah mendengar beberapa nama yang mengalami penolakan sejenis itu. Cantik Itu Luka, novel terhebat Eka Kurniawan dan mungkin novel terhebat penulis Indonesia sepanjang abad 21, sebelum mendunia dan memperoleh penghargaan di mana-mana, dahulunya sempat ditolak penerbit-penerbit. Rama Dira, salah satu cerpenis top yang pernah Indonesia punya, sebelum cerpen pertamanya menembus Kompas—koran yang kurasi cerpennya terkenal paling ketat—ia sudah menulis tiga puluhan lebih cerpen dan semuanya ditolak. Ken Hanggara, cerpenis terproduktif Indonesia saat ini, pernah cerita, ia pernah mengirim seratusan cerpen ke sebuah media dan naskahnya tak kunjung diterima. Namun, ia tak menyerah dan suatu kali cerpennya akhirnya terbit di media tersebut.

            Kisah-kisah itu menggambarkan bahwa menulis itu butuh dan harus bekerja keras. Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Sekeras apa kita berusaha, senilai itulah hasil yang kita peroleh. Pada akhirnya, saya kutipkan kembali hadis di atas: “Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kau berlemah diri.” (HR. Muslim)

            Bersemangatlah menulis! Bekerja keraslah! (*)

            

Baca Juga:  Literasi Digital Generasi Milineal

Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
erwinsetia