25.6 C
Jakarta

Mengenal Oman Modern, Negeri Para Penganut Ibadi

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahUlasan Timur TengahMengenal Oman Modern, Negeri Para Penganut Ibadi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Mayoritas penduduk Oman menganut madzhab Ibadi, salah satu sekte yang diakui dalam Islam selain Syafi’i, Hanafi, Hanbali, Maliki, Zaidiyah (Syi’ah) dan Dzahiri. Jika dirunut sejarahnya maka akan dijumpai bahwa Ibadi merupakan pecahan dari sekte Khawarij yang terkenal ekstrem. Hanya saja secara praktek keagamaan, sosial dan politik Ibadi sangat berbeda jauh dengan Khawarij ekstrem. Ibadi terkenal moderat, santun, bahkan oleh sebagian kalangan cenderung dianggap liberal.

Ibadi dalam Lintasan Sejarah

Mengulas Ibadi tentu tidak bisa dilepaskan dari Khawarij, Perang Shifin yang mengkonfrontir kelompok Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan melahirkan kelompok Khawarij yaitu sebuah kelompok pendukung Ali yang merasa kecewa terhadap arbitrase atau tahkim sebagai hasil musyawarah antara kelompok Ali dan Mu’awiyah pasca terjadinya perang shifin.

Khawarij berpandangan bahwa hasil musyawarah manusia tidak dapat diterima, mereka beranggapan menggunakan hukum manusia adalah jalan menuju kekufuran. Kelompok yang berseteru dalam perang shifin dianggap kafir karena telah menggunakan hukum manusia sehingga halal darahnya, karenanya tidak mengherankan jika Ali bin Abi Thalib justru mati terbunuh di tangan Abdurahman Ibnu Muljam seorang penganut Khawarij.

Belakangan Khawarij terpecah belah disebabkan faktor ketidaksepahaman para pemimpinnya, bahkan diantara mreka cenderung saling mengkafirkan satu dengan yang lainnya. Salah satu sempalan dari Khawarij adalah Ibadiyah. Nama Ibadi sendiri dinisbatkan kepada seorang ulama asal Basrah Irak Abdullah bin Ibad At-Tamimi, beliau memiliki murid bernama Jabir bin Zaid Al-Azdi, Jabir berpindah dari Irak menuju Ghubaira (kini Oman modern) untuk menyebarkan ajaran sang guru, tidak lama kemudian pemimpin negeri Ghubaira yang saat itu dipimpin oleh Al-Julanda bin Mas’ud beserta pendukungnya menganut madzhab Ibadi.

Mengenal Karakteristik Ibadiyah

Ibadiyah sebagai turunan dari Khawarij tidak lantas mewarisi peninggalan ideologi pendahulunya, Ibadi merupakan sebuah anomali yang bertransformasi menjadi ideologi yang sangat bertolak belakang dengan Khawarij. Ibadiyah mengikis habis paham ekstrimisme yang mengakar pada Khawarij di masa lampau. Secara teologi mereka mengesakan Allah SWT, berikut sifat dan dzat-Nya. Secara sosial Ibadi dilarang untuk memusuhi kaum Muslim yang tidak sepaham dengan aliran ini apalagi sampai mengkafirkan.

Secara politik Ibadi sangat menekankan kepemimpinan yang berkualitas, harus adil, paham agama dan bersikap dewasa. Ibadiyah juga menolak paham pemimpin adalah ma’sum atau terbebas dari dosa, sebaliknya bilamana ada pemimpin yang melenceng maka berhak dilengserkan oleh kekuatan rakyat. Ibadi adalah sekte puritan di satu sisi, namun di sisi lain juga menampakkan wajah humanitarian dan toleran terhadap kemajemukan.

BACA JUGA  Konferensi Negev dan Sekuel dari Normalisasi Hubungan Arab-Israel

Oman Negeri Ibadi Modern

Oman menjadi salah satu negara di kawasan yang relatif aman dan stabil di tengah kobaran konflik yang melanda sebagian besar wilayah Timur Tengah. Berbatasan langsung dengan Arab Saudi dan Yaman yang hingga kini terus berseteru tidak menjadikan Oman latah terlibat dalam konflik berdarah tersebut. Begitu juga konflik yang mendera negara Timur Tengah lainnya seperti Suriah dan Iran. Alih-alih intervensi dalam konflik tersebut Oman justru mengambil jalan tengah untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai.

Sejak Oman modern dipimpin oleh Sayyid Qaboos bin Sa’id Al Bu Sa’id atau lebih dikenal dengan Sultan Qaboos Oman menjadi negara yang makmur, terbuka dan toleran terhadap segala keragaman dan perbedaan. Selain itu Oman dari dulu dikenal sebagai negara yang cinta damai, Oman menjadi negara di Timur Tengah yang aman dan hampir dipastikan nir konflik, mereka bersatu dibawah naungan madzhab Ibadi yang dianut oleh mayoritas Omani.

Mendamaikan Pihak yang Bertikai

Oman menjadi negara yang terkenal netral, sejak dulu sampai sekarang nyaris tidak pernah intervensi urusan negara lain. Meskipun namanya kurang populer dibanding negara tetangganya tapi perannya tidak dapat diabaikan begitu saja, kehadiran Oman di kawasan Teluk menjadi penengah di kala negara-negara yang notabene masih satu rumpun terlibat dalam pertikaian tak berkesudahan.

Pilar utama kebijakan luar negeri Oman adalah menjaga hubungan persahabatan dengan semua negara di kawasan dan komunitas internasional. Oleh karenanya untuk melindungi prinsip ini, Oman telah mengambil posisi netral di sebagian besar konflik Timur Tengah. Oman menjadi tempat rahasia bertemunya utusan Amerika Serikat dan Iran dalam membincang perjanjian nuklir, Oman menjadi mediator konflik antara Saudi dan Houthi Yaman, Oman tetap menjadi sahabat Suriah di kala banyak negara Arab yang mengasingkannya, singkatnya Oman akan selalu menjadi penengah bagi siapa saja yang berkonflik.

Kebijakan luar negeri Oman yang luwes dan menerima siapa saja agaknya terpengaruhi oleh cara pandang Ibadi sebagai madzhab mayoritas penduduk Oman. Ibadi yang toleran terhadap kemajemukan menjadikan Oman negeri yang aman, damai, tentram dan disegani oleh semua kalangan baik di tingkat regional maupun di pergaulan internasional.

Akhmad Saikuddin, Pengkaji Studi Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru