25.4 C
Jakarta

Mengapa Umat Islam Tak Kunjung Bangkit?

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Secara umum, kondisi umat Islam saat ini baru keluar dari masa penjajahan (kolonialisme). Dalam kondisi seperti ini, mencuat sebuah pertanyaan mendasar; mengapa umat Islam tak kunjung bangkit? Pertanyaan ini pula lah yang acapkali muncul di forum-forum akademis maupun forum yang lebih patrioris. Pertanyaan ini juga menjadi semacam “wake up call” bagi generasi Islam saat ini. Betapa tidak. Kita paham betul bahwa Umat Islam pernah berjaya, maju, bahkan menguasai peradaban dunia.

Umat Islam masalalu memiliki prestasi dan pengaruh luar biasa bagi kehidupan beragama dan bernegara. Berkat hidayah Islam, masyarakat arab yang semula terpecah-belah menjadi bersatu, yang sebelumnya “bodoh” menjadi tercerahkan dan berperadaban, bahkan roh mereka pun terbarukan sehingga, sekali lagi, kondisi ini menghantarkan mereka pada kewibawaan, kejayaan, keagungan, pengetahuan dan kekayaan. Dalam tempo separuh abad saja, umat Islam berhasil menaklukkan separuh bola dunia.

Kita ketahui pula bahwa sebelum Islam diturunkan dan disebarkan di jazirah arab, sama sekali tidak terdengar  riwayat bahwa bangsa arab pernah menaklukkan suatu wilayah, apalagi membangun peradaban yang mengakar. Barulah setelah Islam turun, melalui jaran Islam yang termaktub dalam Alquran dan hadis, bangsa arab menjadi bangsa yang baru; bangsa yang beradab, berpengetahuan dan lain sebagainya.

Namun kejayaan itu tak lagi kita miliki di masa saat ini. Lantas apa gerangan yang menjadikan umat Islam seperti saat ini? Sri Yunanto (2016) memberikan uraian terkait penyebab umat Islam tak kunjung bangkit. Pertama, umat Islam belum sepenuhnya merasa umat, karena masing-masing kelompok merasa pendapatnya dan caranya sebagai yang paling benar.

Ribuan bahkan jutaan tulisan yang mengulas menegenai kelompok yang sering memonopili kebenaran dan sering mengkafirkan kelompok lain sudah terpapar, baik di dunia nyata dalam bentuk buku, kitab dan sejenisnya maupun di dunia maya yang terdapat dalam website dan media sosial. Namun, semua itu ternyata tidak menyadarkan kelompok ini. Mereka masih saja memegang prinsip dan sikap yang justru dapat menjadikan umat Islam ketinggalan.

Akibat kondisi umat Islam belum sepenuhnya merasa umat, karena masing-masing kelompok merasa pendapatnya dan caranya sebagai yang paling benar, umat Islam energinya lebih dikuras untuk mengatasi perbedaan di kalangan sendiri. Antar sesama muslim saling menghujat dan lebih sering berbeda pendapat. Pertengkaran menjadi fenomena yang sulit dihindari.

Kedua, umat Islam cenderung melihat perbedaan dan kelemahan kelompok Islam lainnya. Kondisi atau faktor pertama kemudian diperparah dengan kondisi bahwa umat Islam lebih sering melihat kelompok lain sebagai firqah yang sulit disatukan. Antar kelompok atau golongan selalu menajamkan perbedaan. Tak ayal, sikut-sikutan, percek-cokan dan lain sejenisnya selalu muncul dalam tubuh Islam. Inilah yang kemudian menjadikan umat Islam lemah. Bahkan terkadang antar kelompok menyelesaikan perbedaan ini dengan cara kekerasan.

Ketiga,  secara metodologi, semangat belajar kaum muslimin lebih tereksploitasi kepada pendekatan-pendekatan tekstual, romantisme sejarah, dan mengesampingkan aspek-aspek analitis yang berpijak pada realitas yang paling dekat dan dialami oleh masyarakat muslim sekitarnya.

Berkembanganya kelompok radikal dan teroris dalam tubuh Islam sejatinya merupakan salah satu bentuk penjajahan yang lahir dalam rahim umat Islam sendiri. Ini terjadi karena semangat belajar kaum muslimin lebih tereksploitasi kepada pendekatan-pendekatan tekstual.

Keempat, lemahnya kepemimpinan kaum muslim. Kepemimpinan yang lemah artinya kepemimpinan yang gagal mendayagunakan seluruh potensi sumber daya (alam, manusia, dan ideologi) untuk mencapai tujuan umat. Jadi, pemimpin di sini sudah dalam taraf mendayakan potensi umat, tak lagi bicara soal golongan. Namun yang terjadi saat ini bukanlah itu, melainkan pemimpin kaum Muslimin saat ini hanyalah pemimpin simbolis, primordialistik yang justru semakin memperkuat kelompok, golongan dan aliran.

Dengan demikian dapat ditemukan jawabannya bahwa persoalan Islam (mengapa tidak bisa bangkit) itu ada pada umat Islam sendiri (al Islam mahjubun bil muslimin). Untuk itu, mari kita tengok diri kita sendiri: apakah kita sudah menjadi bagian dalam upaya membaskan segala bentuk persoalan yang menghambat kebangkitan Islam atau justru Anda termasuk dalam bagian persoalan yang mengintai umat Islam?

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...