Memutus Ekologi Terorisme: Antara Masyarakat, Ruang Digital, dan Radikalisasi

Artikel Trending

Milenial IslamMemutus Ekologi Terorisme: Antara Masyarakat, Ruang Digital, dan Radikalisasi

Harakatuna.com – Satu dekade tarakhir, fenomena terorisme menunjukkan perubahan yang signifikan. Ancamannya bergeser ke arah jaringan yang cair dan lebih sulit dideteksi. Ini bukan isapan jempol belaka. Sebagaimana beberapa kali disinggung pada tulisan yang lalu, banyak pelaku teror beberapa tahun terakhir diradikalisasi melalui ruang digital. Ada pergeseran penting bahwa kelompok teror saat ini bergantung kemampuan menciptakan ekosistem regenerasi, yang saya sebut ‘ekologi terorisme’.

Kasus tewasnya anggota sisa kelompok Daulah Islamiyah di Maguindanao, Filipina kemarin, menjadi deskripsi menarik tentang itu. Laporan masyarakat mengenai keberadaan pria bersenjata di lingkungan mereka, atau yang laik disebut kontra-terorisme berbasis masyarakat, merupakan bukti bahwa memutus ekologi terorisme akan berdampak pada kepunahan teroris itu sendiri. Informasi yang berasal dari masyarakat adalah faktor penentu keberhasilan penanggulangan terorisme.

Sebab, kelompok teror tidak hidup di ruang hampa. Mereka memerlukan lingkungan sosial untuk bersembunyi, memerlukan ruang komunikasi untuk diseminasi propaganda, dan memerlukan anak-anak muda baru untuk dikader meneruskan perjuangan. Dengan kata lain, terorisme bertahan karena adanya ekologi yang menopang eksistensi teroris tersebut. Ketika ekologi terganggu, ruang gerak kelompok teror akan menyempit. Sebaliknya, kaderisasi berlangsung mulus jika tak ditindak.

Perlu digarisbawahi, bahwa anak-anak muda menjadi sasaran paling rentan dalam radikalisasi. Di era digital, ancamannya semakin besar. Generasi yang tumbuh bersama internet menghadapi paparan yang besar terhadap berbagai bentuk manipulasi narasi. Isu ketidakadilan sosial, misalnya, kerap dikemas ulang secara emosional untuk meradikalkan anak-anak muda. Radikalisasi berlangsung melalui mekanisme yang tampak biasa, bahkan kadang tidak disadari.

Karena itu, ekologi terorisme harus diputus, dan itu satu-satunya jalan menanggulangi kompleksitas terorisme. Memahami ancaman teror hari ini tak cukup dilakukan dengan melihat organisasi atau pelakunya semata. Yang perlu dipahami adalah ekologi yang memungkinkan ideologi tersebut bertahan, berkembang, dan merekrut anak-anak muda. Pembahasan mengenai terorisme harus bergeser ke pemahaman mengenai relasi ruang sosial, ruang digital, serta proses radikalisasinya.

Memahami Ekologi Terorisme

Kesalahan paling sering terjadi dalam memahami terorisme adalah melihatnya sebagai tindakan individual yang otonom. Ketika terjadi aksi teror di sebuah daerah, atensi publik tertuju pada orang yang melakukan aksi tersebut. Padahal, sebagaimana fenomena sosial lainnya, aksi teror merupakan hasil dari rangkaian proses yang saling berkelindan. Terorisme lebih tepat dipahami sebagai ekologi, yakni terdiri dari berbagai unsur untuk memungkinkan lahir dan bertahannya paham radikal-teror.

Ekologi terorisme bekerja laiknya lingkaran yang terus berputar. Pada satu sisi, terdapat kelompok teror dan aktor-aktor radikal yang aktif memproduksi ideologi, propaganda, serta narasi permusuhan. Mereka butuh ruang untuk mendiseminasi gagasan dan menjangkau calon anggota baru. Di sisi lain, ada ruang digital yang menyediakan infrastruktur penyebaran tersebut. Medsos memungkinkan propaganda menjangkau audiens dalam jumlah besar secara gratis.

Relasi keduanya bersifat simbiois; kelompok radikal butuh ruang digital, sementara ruang digital menyediakan jalur distribusi yang tanpa batas. Tentu, ruang digital bukanlah pelaku utama. Teknologi boleh jadi bersifat netral, sebagai platform. Algoritma tidak memiliki ideologi, preferensi politik, maupun agenda keagamaan. Masalah muncul ketika mekanisme algoritmik yang dirancang untuk memaksimalkan perhatian user dimanfaatkan oleh aktor tertentu untuk menebar propaganda.

Konten yang memicu emosi, kemarahan, ketakutan, atau rasa teralienasi akan memperoleh tingkat interaksi (engagement) yang tinggi. Situasi tersebut lantas dimanfaatkan oleh kelompok teror untuk mengemas pesan mereka dalam bentuk yang menarik namun provokatif. Akibatnya, ruang digital yang semula berfungsi hanya sebagai medium komunikasi berubah jadi arena kontestasi pengaruh yang dapat mempercepat proses radikalisasi; digitalisasi jadi salah satu lorongnya.

Kendati demikian, radikalisasi sendiri memerlukan narasi, aktor, dan target yang jelas. Di sinilah kelompok teror memainkan peran sentral. Mereka secara sistematis membangun berbagai cerita tentang ketidakadilan, penindasan, atau jihad untuk menarik simpati kelompok tertentu. Narasi tersebut kemudian disebarkan secara berulang hingga membentuk persepsi baru pada sebagian pihak yang rentan. Mindset mereka dirombak, perilaku mereka dibuat pro-kekerasan.

BACA JUGA  Diplomasi Multi-Alignment: Ketika Prabowo Menjawab Tuduhan “Omon-omon”

Apabila dicermati lebih jauh, terdapat hubungan timbal balik yang membentuk rantai ekologis terorisme. Kelompok radikal memproduksi propaganda. Ruang digital mempercepat penyebaran propaganda. Propaganda mendorong radikalisasi. Radikalisasi menghasilkan simpatisan, pendukung, atau bahkan anggota baru. Kehadiran anggota baru kemudian memperkuat kapasitas kelompok radikal untuk memproduksi propaganda berikutnya. Siklus tersebut terus berulang dan menciptakan lingkaran setan dalam ekologi terorisme.

Karena itu, pendekatan yang berfokus pada penangkapan teroris semata itu baru menyentuh bagian paling akhir dari rantai masalah. Upaya yang cukup strategis adalah memahami interaksi seluruh komponen dalam ekologi tersebut. Selama ruang digital bisa dimanfaatkan sebagai saluran propaganda, selama proses radikalisasi mampu menjangkau anak-anak muda, dan selama kaum radikal mampu memproduksi narasi secara berkelanjutan, masalah radikalisasi belum teratasi.

Upaya Meradikalkan Anak Muda

Perlu dicatat bahwa, sasaran utama dalam ekologi terorisme adalah manusia, terutama generasi muda. Kelompok radikal memahami, keberlangsungan ideologi tak ditentukan oleh kemampuan mempertahankan anggota lama, melainkan kemampuan merekrut anggota baru. Karena itu, ruang digital tidaklah dimanfaatkan sebagai media komunikasi, tetapi sebagai arena perebutan kesadaran dan cara pandang generasi muda terhadap dunia, yakni membuat mereka jadi radikalis.

Di sinilah paradoksnya. Ruang digital telah menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Medsos memungkinkan masyarakat membangun relasi, memperoleh informasi, mengekspresikan pendapat, bahkan mengembangkan peluang ekonomi. Namun pada saat yang sama, medsos jadi ruang penyebaran propaganda terhadap anak-anak muda yang rentan. Ruang digital menjelma sebagai medan kontestasi ideologi tanpa disadari oleh penggunanya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat menempati posisi yang unik sekaligus rentan. Masyarakat merupakan aktor utama yang menghidupkan ruang digital melalui berbagai aktivitas, unggahan, komentar, dan interaksi. Tetapi, pada saat yang sama, masyarakat juga menjadi objek yang terus-menerus dibidik berbagai bentuk manipulasi informasi dan propaganda. Mereka adalah pengguna sekaligus target. Mereka membangun ekosistem digital sekaligus jadi korban di dalamnya.

Kelompok radikal memahami bahwa radikalisasi tidak harus dilakukan melalui doktrin yang keras. Di banyak kasus, pendekatan yang digunakan justru suoer duper halus. Narasi tentang ketidakadilan atau romantisasi jihadisme menjadi pintu masuk paling efektif. Bagi anak muda yang sedang tinggi adrenalinnya, menggebu nafsu amaliyah-nya, itu sangat menarik. Algoritma digital pun mengakomodasi itu untuk menciptakan echo chamber radikal-terorisme yang meresahkan.

Karena itu, memutus ekologi terorisme tidak dapat dilakukan hanya dengan menutup akun propaganda atau menangkap pelaku teror. Membangun ketahanan masyarakat agar tak mudah terseret arus radikalisasi di ruang digital adalah sesuatu yang niscaya. Masyarakat harus dipahami sebagai aktor strategis yang menentukan sehat atau tidaknya ekosistem digital yang mereka huni. Jika masyarakat mampu mengenali propaganda, menolak glorifikasi terorisme, dan berani melaporkan gejala yang mencurigakan, maka mata rantai ekologi terorisme akan terputus.

Kasus Daulah Islamiyah di Filipina menunjukkan bahwa kelompok teror akan melemah ketika masyarakat tidak lagi memberikan ruang bagi keberadaan mereka. Pelajaran tersebut semakin relevan pada era digital sebagai habitat baru radikalisasi: masyarakat harus jadi kekuatan utama yang melawannya. Sebab, terorisme selalu bergantung pada lingkungan, dalam arti bahwa ketika ruang sosial-digital tak lagi memberikan tempat bagi radikalisasi, maka ekologi terorisme akan kehilangan fondasi dan, hanya soal waktu, ia akan punah selama-lamanya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khairi
Ahmad Khairi
Alumni Universitas Negeri Malang

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru