Harakatuna.com. Surabaya — Semangat menjaga persatuan di tengah keberagaman menjadi pesan utama dalam Dialog Kebangsaan Bersama Sahabat Deradikalisasi bertema “Ikhtiar Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman” yang digelar di Ruang Pertemuan Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah Jawa Timur dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur sebagai mitra strategis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di tingkat daerah.
Peserta yang hadir berasal dari kalangan sahabat deradikalisasi, yakni warga yang sebelumnya pernah terpapar paham, ideologi, atau gerakan yang bertentangan dengan nilai kebangsaan dan dasar negara Indonesia. Melalui program pembinaan dan pendampingan, mereka didorong untuk kembali berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dialog dipandu Ketua LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehendak Tuhan yang harus diterima, dihormati, dan dijaga bersama. Menurutnya, perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama bukan alasan untuk menciptakan sekat sosial, melainkan menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan antarsesama.
“Allah tidak menciptakan manusia dalam satu warna dan satu budaya. Perbedaan adalah kehendak-Nya. Tugas kita bukan menghilangkan perbedaan itu, tetapi membangun kehidupan yang saling menghormati dan saling menjaga,” ujar Arifin.
Mengutip QS. Al-Hujurat ayat 13, Arifin menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Karena itu, keberagaman harus dipandang sebagai anugerah yang memperkaya kehidupan bersama.Ia menilai Indonesia menjadi contoh bahwa keragaman dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan baik. Di tengah ratusan suku, bahasa, budaya, dan tradisi, bangsa Indonesia tetap berdiri kokoh karena menjadikan persatuan sebagai fondasi utama.
Lebih lanjut, Arifin menegaskan bahwa menjaga persatuan bukan hanya amanat kebangsaan, tetapi juga bagian dari ajaran agama. Ia merujuk QS. Ali Imran ayat 103 yang mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan dan menghindari perpecahan. “Agama mengajarkan persaudaraan dan persatuan. Karena itu, menjaga kerukunan, menghormati sesama, dan menghindari perpecahan merupakan bagian dari pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Arifin juga mengajak peserta memahami Pancasila sebagai hasil ikhtiar para pendiri bangsa dalam mencari titik temu di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. “Pancasila adalah ikhtiar besar para pendiri bangsa untuk menghadirkan persatuan di tengah perbedaan. Indonesia dibangun oleh banyak kelompok yang beragam, sehingga yang dicari adalah titik temu, bukan titik perbedaan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki keselarasan dengan ajaran agama, terutama dalam menjunjung kemanusiaan, keadilan, persaudaraan, dan kehidupan yang damai. Menutup dialog, Arifin mengajak seluruh peserta untuk terus mengambil peran dalam menjaga persatuan melalui dialog, memperkuat semangat kebersamaan, serta menolak segala bentuk kebencian dan kekerasan.
“Indonesia adalah rumah bersama. Rumah ini diwariskan oleh para pendiri bangsa dalam keadaan utuh. Tugas kita hari ini adalah menjaganya, merawat persatuannya, dan memastikan bahwa keberagaman tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan,” pungkasnya.
