25.2 C
Jakarta

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Artikel Trending

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam juga mempunyai ajaran yang lengkap dalam berbagai aspeknya, seperti akidah, syariah, muamalah, budaya akademik dan etos kerja.

Budaya akademik adalah sebuah situasi atau keadaan dimana suatu ajaran atau suatu nilai dalam pendidikan telah menjadi kebiasaaan dan dilakukan secara berulang-ulang seperti ajaran rajin, tekun, suka mengkomparasikan berbagai ilmu, suka bereksperimen dll.

Budaya akademik dalam Islam tentu menjadi sebuah keharusan dimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam dunia pendidikan. Penting untuk dicatat bahwa muara dari budaya akademik yang ditumbuhkan dalam Islam adalah semakin bertambahnya keyakinan terhadap Allah SWT. Apapun keilmuan yang dipelajari baik itu fisika, kimia, biologi, ataupun ilmu keagmaan muaranya tetap satu yaitu bertambah keyakinannya terhadap tuhan.

Budaya akademik dalam Islam menghendaki semua orang muslim untuk memiliki sikap tekun dan ulet dalam mencari ilmu. Islam sebagai agama yang mendorong umatnya untuk menjadi cerdas dan pandai maka mempunyai banyak dalil-dalil mengenai keutamaan mencari ilmu. Seperti yang dikatakan Nabi Muhammad dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Huroiroh

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” [HR. Muslim].

Bahkan saking utamanya para pencari ilmu yang nantinya akan membentuk budaya akademik dalam Islam sampai-sampai Allah sendiri bersaksi atas nama pencari ilmu atau ahli ilmu. Hal ini seperti yang ditermaktub dalam al-Quran, Surat Al-Imran, Ayat 18.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: Arti: Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

BACA JUGA  Jangan Meremehkan Kebaikan Sekecil Apapun

Ciri-Ciri Budaya Akadamik dalam Islam

Perlu juga diingat bahwa ciri-ciri budaya akademik dalam Islam adalah satu akan dibawa oleh para ulama dan cendekiawan dalam setiap generasinya. Dua, memberantas dan pemyimpangan serta perubahan-perubahan yang ekstrim. Tiga, menolak kebohongan kesaksian orang batil. Empat, menolak interpretasi dari orang-orang bodoh. Hal ini seperti yang rasulullah katakan

BACA JUGA  Tidak Dikatakan Beriman, Orang Yang Suka Mencaci Maki

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ.

Artinya: “Ilmu ini akan dibawa oleh para ulama yang adil dari tiap-tiap generasi. Mereka akan memberantas penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (yang melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan (para pendusta), dan takwil orang-orang bodoh.

Selain ciri-ciri yang telah disebutkan diatas bahwasanya dalam budaya akademik dalam Islam dituntut adanya etos kerja yang bagus. Etos kerja yang bagus ini telah banyak dicontohkan oleh orang Islam khususnya pada abad pertengahan, seperti Ibnu Shina yang pakar dalam Ilmu kedokteran dengan buku hasil risetnya yang berjudul “Kanun At-Tib”.

Selain itu, etos kerja yang membentuk budaya akademik Islam lainnya adalah tidak menyia-nyiakan waktu. Prof. Said Ramadhan Albuti pernah menyatakan bahwa kemunduran umat Islam beberapa dekade terakhir ini disebabkan banyak umat Islam yang menyia-nyiakan waktunya, bahkan tak sedikit mereka menggunakan waktunya untuk bersendau gurau dan begadang yang melampaui batas.

Etos kerja yang membentuk budaya akademik dalam Islam ini ternyata sekarang banyak diterapkan oleh orang-orang eropa. Hal ini seperti pengakuan sang reformis Islam, Muhammad Abduh. Ketika mengunjungi Perancis, beliau mengatakan disini saya melihat budaya islami meskipun tidak melihat orang Islam. Dan di Timur Tengah, saya melihat banyak orang Islam tapi tidak melihat budaya Islami.

Walhasil budaya akademik dalam Islam erat kaitanya dengan etos kerja yang baik yang selalu mengutamakan ketekunan, keuletan dan tidak membuang-buang waktu.

 

Khalwani Ahmad
Khalwani Ahmad
Pemerhati Sejarah Peradaban Islam Nusantara

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru