30.2 C
Jakarta

Kemunculan ‘Sad Boy’ Akibat Bucin, Bagaimana Kalau Bucin kepada Agama?

Artikel Trending

KhazanahTelaahKemunculan ‘Sad Boy’ Akibat Bucin, Bagaimana Kalau Bucin kepada Agama?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.comMedia sosial, mulai dari Instagram, TikTok dan YouTube sedang ramai pembahasan seorang remaja asal Gorontalo, Fajar, yang dijuluki ‘sad boy’. Kemunculan Fajar menjadi salah saatu perbincangan hangat dengan sikapnya yang kaku dengan ekspresi sedih akibat kegagalan cinta yang dialaminya.

Sejumlah akun di media sosial banyak sekali membahas Fajar ‘sad boy’. Kemunculannya sebagai laki-laki muda yang menangis akibat kisah cintanya, sangat menarik perhatian publik. Sebab, tidak semua laki-laki ingin tampil dengan menangis apalagi karena alasan ditinggal oleh kekasihnya, yang lebih memilih orang lain. Bagaimana kita menyikapi ‘sad boy’?

Fenomena Fajar ‘sad boy’

Fenomena keviralan Fajar bukanlah suatu yang baru dalam dunia media sosial. Dunia baru ini (red:media sosial) memberi ruang yang sangat luas bagi seseorang, termasuk kita untuk viral. Tidak jarang, orang melakukan banyak hal agar viral sehingga bisa dikenal oleh publik yang lebih luas. Akan tetapi, perlu kita pahami bahwa, fenomena Fajar ‘sad boy’ dengan pengalaman pilunya yang ditinggal oleh kekasih atau akibat kebucinannya bukanlah akibat dari fenomena kapitalisme.

Persoalan anak muda yang mengalami krisis jati diri karena tidak memiliki bekal agama yang kuat, adalah sebuah fenomena yang seharusnya dipahami oleh kita semua, khususnya anak muda sebagai generasi Islam yang akan meneruskan nilai-nilai ajaran Islam di masa yang akan datang. Kita memahami bahwa, proses pencarian jati diri yang dibekali dengan agama, akan tampil sebagai personal selalu memberikan ruang kepada diri sendiri untuk terus belajar agama dan menjalankan segala bentuk peribadatan yang sesuai dengan anjuran agama.

Mengapa fenomena ‘sad boy’ penyebabnya bukan kapitalisme? Ini adalah pengalaman personal yang dialami oleh setiap orang ketika mengekspresikan kesedihannya. Hanya saja, kebetulan, sosok Fajar tampil di media sosial dengan ciri khas yang dimilikinya, yakni sikap kaku dan sedih akibat ditinggal kekasih, maka kemudian viral-lah dia karena dirasa unik oleh netizen di Indonesia.

Gimana kalau bucin terhadap agama?

Sikap ‘bucin’ ini memang berlebihan dan tidak baik dalam persoalan apapun, termasuk soal cinta. Kisah Fajar ‘sad boy’ adalah suatu tampilan yang nyata dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa, sikap ‘bucin’ ini tidak baik untuk diri sendiri. lalu, bagaimana ketika ‘bucin’ terhadap agama?

Seperti yang kita ketahui bahwa, agama adalah bentuk segala perasaan, tindakan dan pengalaman pribadi saat berhadapan dengan apa pun yang dianggap sebagai ilahiah. Perubahan ini bisa terjadi dengan cara change to another ataupun proses agitasi, bahkan dengan cara keluar dari agama.

Sementara itu, bagi seorang William James, seorang filsuf asal Amerika Serikat yang konsen di bidang psikologi, mengatakan bahwa agama merupakan sesuatu yang paralel dengan pengalaman, penghayatan, dan tindakan keagamaan (kerohanian) yang sifatnya unik dan personal dalam keterlibatan seseorang dengan sesuatu yang dianggap suci. Pengalaman agama inilah sesungguhnya hakikat manusia untuk melakukan berbagai hal di dalam keyakinannya sebagai makhluk yang beragama.

Atas dasar pemaknaan tersebut, maka agama akan menjadi sumber keyakinan kuat bagi seseorang melakukan peribadatan yang sesuai dengan keyakinannya tersebut dengan diwadahi oleh cinta. Orang akan melakukan sholat, berbuat baik kepada sesama, karena agama memberikan anjuran untuk berperilaku demikian. Lalu, bagaimana jika ‘bucin’ kepada agama?

Sikap ‘bucin’ ini akan sangat baik untuk meningkatkan keyakinan seseorang terhadap Tuhan. Bahwasanya saya sebagai seorang muslim, percaya tidak ada Tuhan selain Allah, dan meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah utusan Allah. Semakin saya bucin, maka akan semakin membuat saya jatuh cinta kepada Allah dan memahami secara utuh, hanya Islam adalah agama yang paling benar untuk dijadikan pedoman hidup di dunia.

Lalu, apakah sikap ‘bucin’ kepada agama akan merugikan orang lain? tentu akan merugikan orang lain, apabila memaksa orang lain untuk membenarkan sikap ‘bucin’ tersebut kepada agama yang kita yakini. Hal ini karena, orang lain juga merasakan ‘bucin’ pada agama yang berbeda. Sehingga dari sini kita pahami bahwa, ‘bucin’ kepada agama, terbatas pada upaya yang akan kita lakukan untuk meningkatkan kecintaan kita terhadap Tuhan. Bukan untuk memaksakan hal yang sama kepada orang lain.

Dalam suatu kasus misalnya. Fenomena orang yang sholat di tengah jalan. Mengapa ekspresi kebucinannya merugikan orang lain, sebab ada hak orang lain di langgar. Padahal, ada tempat lain yang lebih worth it untuk sholat. ‘bucin’ yang semacam ini sangatlah tidak tidak dianjurkan dalam agama. Fenomena ini juga sama dengan orang-orang yang masih bersuara keras untuk menegakkan khilafah.

Karena kita hidup di tengah keberagaman agama. Sehingga penegakkan khilafah bukanlah solusi dari segala setiap persoalan yang ada di Indonesia. Dengan demikian, sikap ‘bucin’ kepada agama harus kita memiliki untuk meningkatkan keimanan kita terhadap Tuhan tanpa melanggar hak orang lain bahkan melewati ikhwal kemanusiaan. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru