Jurnalistik Sebagai Pilihan Kegiatan Siswa Sekolah Dasar

membantu siswa menggunakan otaknya untuk berfikir tidak instan


0
3 shares

Banyak cara untuk mengenalkan teknologi dan informasi kepada anak-anak. Setiap orang tua punya cara masing-masing. Tetapi harus diingat, bahwa setiap cara mengandung resiko bukan?  Pengenalan teknologi dan informasi jangan hanya melalui interaksi dalam lingkungan keluarga. Sekolah juga punya tanggung jawab penting dalam pengenalan teknologi dan informasi.

Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah pemberian kegiatan non akademik jurnalistik pada kurikulum siswa sekolah dasar (SD). Siswa SD ? Apa tidak terlalu dini? Mungkin beberapa ada yang bertanya seperti ini.

Oke. Jadi begini. Teknologi dan informasi selain.memberikan kemudahan juga bisa menjadi ancaman. Hoax, ujaran kebencian, hingga penipuan berkembang pesat lewat terobosan manusia satu ini. Oleh karena itu, anak-anak tidak bisa menjadi bagian kelompok umur yang dilupakan begitu saja dalam proses penangannya.

Mengapa jurnalistik? Jurnalistik sering disebut sebagai kegiatan bak yang dilakukan wartawan. Kerjaannya nyari berita, fakta, opini, kemudian dijadikan bacaan sederhana dan disebar luaskan ke masyarakat. Tapi, jurnalistik tidak hanya sekedar itu. Lewat kegiatan ini, siswa akan dikenalkan dengan apa yang dinamakan membaca dan menulis.

Bukannya siswa sudah dikenalkan sejak TK? Ya benar. Tapi lewat kegiatan seperti ini siswa akan lebih gemar membaca dan menulis. Meskipun di Indonesia mengakarkan calistung diajarkan dari TK, tapi angka literasinya sangat rendah, bahkan dibandingkan dengan negara- negara di Asia Tenggara lainnya.

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan jurnalistik. Satu, kegiatan ini akan membantu siswa menggunakan otaknya untuk berfikir tidak instan, misalnya, untuk menyajikan berita di sekolah, ia harus mencari dengan bertanya, melihat, membaca, dan lain-lainnya. Kemudian ia tak langsung menyebarkannya begitu saja, tetapi harus melewati proses tertentu hingga menjadi sebuah berita yang layak dibaca oelh teman sebayanya, tentunya dengan bantuan para gurunya.

Baca Juga:  Literasi Digital Generasi Milineal

Kedua, hal ini akan membentuk pikiran anak menjadi kreatif dan inovatif. Tapi tentunya kreatif dan inovatif yang bermanfaat, bukan yang bablas. Bablas dalam arti kekreatifannya digunakan untuk membuat hoax misalnya. Nah dari sini, guru dapat mengenalkan pendidikan anti hoax kepada siswanya.

Ketiga, membentuk pikiran kritis dan objektif. Lewat proses pencarian berita, siswa akan belajar kritis terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Kegiatan-kegiatan ini akan membantu siswa agar tidak mudah menyimpulkan sesuatu secara mudah, tapi ia akan terbiasa kritis dan objektif dalam menerima suatu informasi.

Keempat, melatih simpati dan empati. Siswa diajarkan untuk melihat hal-hal di sekitarnya dengan teliti. Sehingga, hal ini akan membuat siswa peka terhadap lingkungannya. Sehingga ia tumbuh menjadi generasi yang tidak cuek terhadap sekitarnya.

Terakhir, adalah munculnya rasa kepercayaan diri. Dengan bertanya dalam proses wawancara dan pencarian berita, siswa akan menjadi pribadi yang penuh kepercayaan diri, karena ia memang harus dituntut berani dalan mencari berita.

Kegiatan jurnalistik dapat diaplikasikan dalam bentuk buletin, majalah cetak, dan majalah dinding sekolah. Kegiatan ini banyak manfaatnya bukan bagi siswa?  Sejak dini, siswa diajarkan dalam membuat, menyebarkan hingga membaca berita yang baik dan tidak tergolong hoax tentunya.


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Hafidhoh