Indonesia dalam Siklus 30 Tahun

Ayik Heriansyah

22/05/2026

3
Min Read
Indonesia

Harakatuna.com – Kendati angka 30 bukan harga mati, tapi titik-titik perubahan besar Indonesia berkisar tidak jauh dari angka itu. Perubahan rezim Orde Lama ke Orde Baru terjadi antara 1966-1968. Tiga puluh tahun kemudian rezim Orde Baru oleng dan akhirnya resmi tumbang pada tahun 1998.

Menjelang 30 tahun pasca Reformasi, pemerintahan sekarang sempoyongan. Dihantam krisis moneter dunia. Rupiah terus melemah. Ekonomi rakyat di kota dan di desa makin tertekan. Belum ada tanda-tanda akan menguat kembali. Akankah rezim game over pada tahun 2028? Wallahu a’lam.

Graham E. Fuller, mantan pejabat senior CIA, pernah menyinggung tradisi menarik di lingkungan intelijen Amerika. Para analis dan agen kerap diberi “kuiz” untuk memprediksi kondisi dunia tiga puluh tahun mendatang.

Tujuannya bukan meramal masa depan secara mistis, melainkan melatih kemampuan membaca pola perubahan sejarah global. Dalam pengantar bukunya A World Without Islam, Fuller mengungkapkan bahwa negara besar selalu berpikir dalam horizon panjang, bukan sekadar sibuk pada gejolak 5 tahunan. Cara pandang seperti ini penting dipakai untuk membaca kondisi ekonomi Indonesia hari ini.

Dunia memang bergerak dalam gelombang panjang. Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat tampil sebagai pusat kekuatan global. Memasuki 1970-an hingga awal 2000-an, globalisasi neoliberal dan dominasi dolar menguasai dunia.

Setelah krisis finansial 2008, arah sejarah mulai berubah. China bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru, perang dagang meningkat, konflik energi dan pangan menjadi instrumen geopolitik, sementara globalisasi mulai mengalami fragmentasi. Dunia kini bergerak menuju tatanan multipolar yang penuh ketidakpastian.

Dalam konteks itu, Indonesia sebenarnya sedang berada di titik persimpangan sejarah. Secara statistik, ekonomi nasional masih tampak tumbuh stabil. Pemerintah membanggakan pertumbuhan di atas lima persen, pembangunan infrastruktur berjalan, dan konsumsi masyarakat tetap menjadi penopang utama ekonomi.

BACA JUGA  Kemenangan Iran yang Tidak Dipahami Amir Hizbut Tahrir

Hanya saja di balik angka-angka itu terdapat kerentanan serius. Rupiah terus menghadapi tekanan, ketergantungan impor energi masih tinggi, industri manufaktur belum benar-benar kuat, dan ekonomi nasional masih terlalu bertumpu pada konsumsi ketimbang produktivitas dalam negeri.

Situasi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah semu. Seolah-olah tumbuh. Kita masih menikmati pertumbuhan tanpa fondasi kemandirian yang kokoh.

Ketika dunia memasuki era persaingan teknologi, kecerdasan buatan, dan perang rantai pasok global, Indonesia justru masih berkutat pada problem lama. Ekspor bahan mentah, ketergantungan investasi asing, dan lemahnya penguasaan riset dan teknologi nasional.

Di sinilah pentingnya berpikir seperti tradisi “kuiz tiga puluh tahunan” yang diceritakan Fuller. Negara besar tidak hanya bertanya bagaimana memenangkan pemilu berikutnya, tetapi bagaimana bertahan dalam perubahan sejarah global berikutnya.

Mereka memikirkan teknologi apa yang akan menguasai dunia, sumber energi apa yang menjadi rebutan, dan kawasan mana yang akan menjadi pusat pertumbuhan baru. Sebaliknya, banyak negara berkembang justru terjebak dalam politik jangka pendek. Konflik elite, perang buzzer, populisme elektoral, dan kebijakan tambal sulam.

Yang lebih mengkhawatirkan, tekanan ekonomi global biasanya diikuti dengan fragmentasi sosial di dalam negeri. Sejarah menunjukkan bahwa ketimpangan, pengangguran, dan ketidakpastian ekonomi berujung kepada jatuhnya rezim.

Pelajaran paling penting dari cara berpikir strategis agen-agen CIA seperti Graham Fuller adalah perlunya keberanian membangun visi bangsa melampaui siklus lima tahunan.

Leave a Comment

Related Post