Harakatuna.com – Fenomena meningkatnya kajian Islam di kalangan menengah atas Indonesia dalam dua dekade terakhir tidak dapat dipahami sebagai gejala meningkatnya kesalehan beragama semata. Di balik maraknya forum kajian di perkantoran, hotel, perumahan elite, komunitas profesional, hingga platform digital eksklusif terdapat dinamika reproduksi ideologi yang lebih kompleks.
Salah satu fenomena yang menarik adalah tetap beredarnya narasi penegakan khilafah yang secara historis berpusat pada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Meskipun organisasi tersebut telah dibubarkan, ideologinya tetap hidup melalui berbagai ruang kajian dan jaringan sosial yang terus beregenerasi.
Fenomena ini dapat dipahami sebagai ideologi sirkular, yaitu ideologi yang terus berputar, beradaptasi, dan menemukan medium baru tanpa bergantung pada struktur organisasi formal.
Model 3N (Need, Narrative, Network) yang dikembangkan oleh Arie W. Kruglanski, bersama rekan-rekannya, memberikan kerangka analisis yang relevan untuk menjelaskan fenomena tersebut. Model ini menjelaskan bahwa proses penerimaan ideologi lebih ditentukan oleh interaksi antara kebutuhan psikologis individu (need), narasi ideologis yang tersedia (narrative), dan jaringan sosial yang memvalidasinya (network). Dengan implikasi ketertarikan kalangan menengah atas terhadap ideologi tertentu tidak dipandang sebagai anomali, melainkan sebagai konsekuensi dari bertemunya tiga faktor tersebut.
Elemen pertama adalah need, yaitu kebutuhan universal manusia untuk memperoleh signifikansi diri, merasa bermakna, dihargai, dan memiliki tujuan hidup. Pada kelompok menengah atas, kebutuhan ini bukan dipicu oleh kemiskinan material, melainkan oleh kejenuhan terhadap kehidupan yang serba mapan.
Keberhasilan karier, kemapanan ekonomi, dan status sosial tidak selalu menghadirkan ketenangan batin. Banyak profesional, akademisi, birokrat, maupun pengusaha mengalami kegersangan spiritual dan krisis eksistensial. Dalam perspektif 3N, kondisi tersebut merupakan bentuk significance loss yang mendorong individu mencari makna hidup yang lebih tinggi daripada sekadar kesuksesan duniawi.
Kebutuhan tersebut kemudian bertemu dengan opportunity for significance gain, yaitu peluang memperoleh status moral yang lebih tinggi. Bergabung dalam gerakan yang mengusung cita-cita membangun kembali peradaban Islam dipersepsikan sebagai bentuk pengabdian yang melampaui kepentingan pribadi.
Seseorang tidak lagi sekadar dipandang sebagai profesional sukses, tetapi sebagai pejuang kebangkitan Islam dan umatnya. Perubahan identitas inilah yang memberikan kepuasan psikologis sekaligus rasa memiliki misi besar dalam kehidupan.
Faktor kedua adalah narrative. Narasi yang berpusat pada HTI memiliki karakter yang berbeda dengan kelompok ekstrem yang mengedepankan kekerasan. Narasi HTI lebih bersifat intelektual (fikriyah) dan politik (siyasiyah), dibangun melalui kritik sistematis terhadap demokrasi, kapitalisme, nasionalisme, dan negara-bangsa modern.
Berbagai persoalan seperti korupsi, ketimpangan ekonomi, krisis moral, hingga lemahnya posisi dunia Islam dijelaskan sebagai akibat tidak diterapkannya syariat secara menyeluruh dalam institusi khilafah. Bagi kalangan terdidik, pola argumentasi yang tampak logis, sistematis, dan teoritis ini jauh lebih mudah diterima dibandingkan propaganda yang bersifat emosional.
Narasi tersebut juga menawarkan kepastian kognitif melalui penyederhanaan realitas. Dunia modern yang kompleks direduksi menjadi satu penyebab utama, yaitu absennya khilafah, sekaligus satu solusi tunggal, yakni penegakan kembali sistem tersebut. Cara berpikir hitam-putih seperti ini memberikan rasa kepastian di tengah dunia yang penuh ambiguitas.
Dalam kajian-kajian yang berkembang, tema awal biasanya berupa keluarga, ekonomi syariah, pendidikan, sejarah peradaban Islam, atau etika kepemimpinan. Setelah terbentuk kedekatan intelektual dan emosional, pembahasan secara perlahan diarahkan menuju kritik terhadap sistem politik yang ada, sehingga ideologi diterima sebagai kesimpulan yang dianggap lahir secara rasional dari proses berpikir yang mendalam dan cemerlang.
Elemen ketiga adalah network, yaitu jaringan sosial yang memelihara keberlangsungan ideologi. Pasca-pembubaran HTI, pola jaringan berubah dari organisasi formal menjadi komunitas yang lebih cair dan sulit dikenali. Kajian berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil yang eksklusif di kawasan perumahan elite, ruang pertemuan perkantoran, komunitas bisnis syariah, forum literasi, maupun kelompok hijrah profesional.
Di ruang digital, jaringan tersebut diperkuat melalui grup WhatsApp, Telegram, webinar, podcast, dan kanal media sosial yang menyasar kelas menengah terdidik. Rebranding nama dan bentuk kegiatan membuat jaringan tetap hidup meskipun identitas organisasinya tidak lagi ditampilkan secara terbuka.
Keberadaan jaringan tersebut melahirkan mekanisme peer validation atau pembenaran sosial. Ketika narasi yang sama disampaikan dan didukung oleh sesama dokter, dosen, manajer, birokrat, atau pengusaha, muncul kesan bahwa pandangan tersebut merupakan pilihan yang rasional, terhormat, dan intelektual.
Algoritma media sosial semakin memperkuat proses ini dengan membentuk echo chamber, yaitu ruang informasi yang terus mengulang narasi serupa sehingga individu semakin yakin bahwa pandangannya merupakan kebenaran yang diterima luas. Dari sinilah lahir proses reproduksi ideologi yang berlangsung terus-menerus tanpa harus bergantung pada struktur organisasi lama.
Singkatnya, ideologi HTI menyebar secara sirkular karena membentuk siklus yang saling menguatkan. Kebutuhan akan makna hidup (need) mendorong individu memasuki ruang kajian. Ruang kajian menghadirkan narasi ideologis (narrative) yang menawarkan jawaban sederhana atas persoalan umat. Narasi tersebut kemudian diperkuat oleh jaringan sosial (network) yang memberikan rasa memiliki, pengakuan, dan legitimasi.
Setelah kebutuhan signifikansi terpenuhi, individu terdorong mengajak anggota baru, membuat komunitas baru dan menyebarkan kembali narasi yang sama. Siklus ini terus berulang sehingga ideologi tetap hidup meskipun organisasinya telah dibubarkan.
Upaya pencegahan memerlukan strategi yang lebih komprehensif, yaitu menghadirkan ruang-ruang kajian Islam yang mampu menjawab kegelisahan spiritual kalangan menengah atas, membangun narasi keislaman yang moderat dan argumentatif, serta memperkuat komunitas intelektual yang inklusif.
Dengan harapan kebutuhan kalangan menengah atas akan makna hidup dapat dipenuhi melalui jalan yang konstruktif, tanpa harus masuk ke dalam sirkulasi ideologi politik yang terus bereproduksi di bawah permukaan.

















Leave a Comment