30.5 C
Jakarta

Ibu, Radikalisme, dan Religiusitas

Artikel Trending

Milenial IslamIbu, Radikalisme, dan Religiusitas
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Suatu pagi, usai melaksanakan ibadah salat Idul Fitri, seorang pemuda menghampiri ibunya. Secara sengaja ia meminta restu untuk mencari ilmu. Dulu, orang-orang berhijrah itu membasuh kaki ibu. Tentu hal itu dilakukannya seorang anak kepada seorang ibu.

Hal yang menjadikan haru dan menangis, pemuda itu tak membuang figur atau budaya lama Jawa—meminta membasuh kaki ibu di teras kobung (langgar), dengan sikap takzim dan merasa perlu sebagai pembelajaran hidup kedepan. Belajar merunduk dan tetap rendah diri.

Narasi itu mungkin tak perlu karena tidak ada kaitannya dengan kecerdesan otak dan penyingkapan jati diri kehidupan manusia. Namun, bagi sebagian yang lain sangat dibutuhkan supaya diri belajar nilai keadaban dan menifestasikan bahwa manusia adalah mahluk ringkih, tak patut jumawa di atas kehidupan orang lain, terlebih kepada ibu kandung sendiri.

Anak muda itu merunduk, duduk bersimpuh membasuh atau mencuci kaki ibu dengan menggunakan air dalam baskom. Kemudian, mengelapnya dan menaruh kaki ibu di atas dengklik. Si ibu mengembun matanya karena tak kuasa melihat anak itu sangat ikhlas dan penuh welas asih melakukannya. Ibunya mengusap-usap pusar si anak sambil mendoakannya. Pada momen itulah anak meminta maaf dan ibu memafkan.

Sungguh, kegiatan mulia membasuh kaki ibu menunjukkan mulianya derajat orang tua kita dan patut dimuliakan bagi seorang anak. Sesugguhnya, ridha Allah tergantung ridhanya kedua orang tua. Alhasil, kesuksesan hidup akan terengkuh manakala kita bisa memuliakan orang tua.

Barangkali perilaku itu mudah dibayangkan tapi sulit diupayakan. Mudah diupayakan, sulit diistikamahkan. Pendidikan yang tak ada di lembaran-lembaran buku sebagai perwujudan perkhidmatan hormat kepada orang tua dan orang yang lebih tua. Membangun konektivitas penuh cinta dan toleran sesama manusia.

Karenanya, hal itu perlu dibangun dan diejawantahkan dalam gelimang kehidupan anak, remaja, bahkan oran tua terhadap orang taunya, dan orang yang lebih tua. Supaya memberikan prinsip pada pembekalan berpikir, membuka pandora dirinya sendiri, dan mempunyai komitmen tinggi untuk menjadi baik bagi dirinya dan orang lain (saleh secara pribadi dan sosial). Serta menjadi insan yang selesai dengan dirinya sendiri.

Istimewanya, dulu, tradisi membasuk kaki ibu, tak hanya dilakukan saat ingin berpamit mencari ilmu dan merantau. Tetapi juga di momen-momen seperti saat mau melaksanakan ujian sekolah, mau berlomba, dan sebagainya—yang memberikan refleksi, betapa beribu-ribu berkorbannya orang tua selama kita dalam kandungan dan merasakan terang dunia nyata. Basuh kaki ibu mengartikan ketaatan kepada orang tua. Barangkali ini perlu direkontruksikan kedalam kehidupan sehari-hari.

Perlu Ibu

Pandangan terkini di Indonesai, manusianya tak bisa lepas dari unsur budaya lokal. Oleh sebab itu, ritual basuh kaki ibu dalam masyarakat sudah diketahui–menjadikan hadir dan menjadi pengatahuan psikologis bagi kehidupan warga masyarakat.

Maka dari itu, sangat diperlukan orang-orang yang memiliki kesadaran yang sesuai dengan kondisi karakter manusia Indonesia. Bahkan, kalau perlu sekolah patut menggelarkan acara basuh kaki ibu secara bersama di waktu acara tertentu, seperti saat akan melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Kompeter (UNBK).

Karena sejatinya, kesuksesan anak tak terlewat oleh peran seorang ibu. Di depan terdapat anak yang hebat, dibelakang ada jerih payah orang tua yang hebat. Maka tidak ada cara lain untuk mensyukuri perjuangan seorang ibu, kecuali berbakti kepadanya, dan di antaranya dengan cara melalui ritual basuh kaki.

Kita tahu, Ibu adalah orang paling berjasa dan juga paling utama dihormati. Sebagaimana ketika Nabi ditanya, “Siapa yang paling utama dihormati?” jawaban Nabi, “Ibumu, ibumu, ibumu; kemudian ayahmu. Hal ini jelas terangkum bahwa menghormati ibu adalah pekerjaan utama untuk menumbuhkan kemuliaan hidup dan mengentaskan kemacetan diri menjadi keadaban yang memberi makna  bagi hidup seseorang.

Sungguh, berat bila kita membayangkan. Ibu tak jemu menanti kehadiran kita tiba kedunia. Apapun jalan akan ia tempuh, agar kita tetap sehat dalam kandungan. Apapun ia jalani; sakit karena diterjang, mual kita timbulkan tak membuatnya berkeluh kesah supaya kita tetap nyaman dan tertawa-menangis dalam kandungan.

Dari hari ke hari, kandungan semakin membesar. Kita semakin berat tapi ia tak menyempitkan hatinya untuk bersikap berat. Ia tetap selalu bersyukur dan berdoa dalam tetirah hidupnya, sambil mengelus-elus kita dengan pengharapan kita tumbuh sehat dan lahir  dengan selamat.

Dan pada saat waktunya tiba, ibu menisbahkan segalanya; tenaga dan sakit hanya untuk melihat kita selamat ke dunia. Bahkan nyawa ia pertaruhkan agar kita berada di dunia dan merasakan kreasi cipta Tuhan, yaitu dunia.

Membasuh kaki ibu dapat memberikan pelajaran penting bagi kita. Tak hanya menumbuhkan percaya diri tapi juga memberikan bentuk karakter yang baik dan bijak untuk menapaki jalan terang hidup kedepan—dari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat di masalalu. Keguncangan gulita jiwa dapat terdeteksi sejak dini dari kekalutan berhidup, manakala relasi ritual ini diarahkan kekeinsafan kepada Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Dalam situasi kini yang makin krisis etika, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, berpamit dan mulai rajin merenungkan makna relegiusitas ketimbang melontarkan bahasa memicu perseteruan, kebencian, pembunuhan, lewat refleksi basuh kaki ibu kita. Selamat Hari Ibu.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru