26.7 C
Jakarta

Radikalisme Hanya Bisa Dimatikan Oleh Proyek Manusia Beradab

Artikel Trending

Milenial IslamRadikalisme Hanya Bisa Dimatikan Oleh Proyek Manusia Beradab
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Tujuan kehidupan adalah menjaga keadaban. Mengapa? Sebab, lentera keadaban dapat memandu nurani, serta mengutakaman kebenaran dan keadilan lintas ruang waktu, menuju Tuhan.

Kita tahu hidup itu pendek, yang panjang adalah kehidupannya. Dengan penyadaran kependean itu, maka perilaku harus menembus samudra batas sekat panjang itu, melalui percikan isian perilaku kebaikan.

Jangan sampai hidup yang pendek membunuh kehidupan yang panjang. Kehidupan yang pendek harus mewujudkan kebaikan. Prinsip itu wajib ditegakkan. Sebab, tak ada kemuliaan selain dapat menghidupi kebahagian yang panjang.

Untuk mencapainya, kita butuh apa yang namanya adab kemanusiaan. Tak ada kemajuan tanpa bangsa yang berkeadaban. Barang siapa yang tak menanam benih keadaban, ia tak akan bisa memanen kebahagiaan dan peradaban.

Keadaban yang kita rumuskan atau butuhkan adalah meniscayakan persatuan-kedamaian di atas perbedaan pandangan, serta keramahan yang luhur. Ia yang menghayati realitas subyektifnya, yang melandasi perilaku kehidupan manusia.

Sebagaimana ucapan Kohut, Stolorow, Brandchaft, & Attawood dalam Limas Susanto (2018), adab diejawantahkan oleh warga yang koheren jiwanya. Menghargai lian dan memantapkan mitra kerja kemanusiaan: saling melengkapi untuk hidup yang lebih utuh. Yang lebih mendamaikan.

Dua Faktor Kemanusiaan

Sekurang-kurangnya ada dua faktor untuk menuju kemantapan diri atau koheren jiwa. Faktor pertama adalah pengamalan menjadi hidup terus menerus dalam solidaritas kemanusiaan, yang oleh keempat pelopor psikoanalisis intersubyektif itu diperinci dalam “keterhubungan serasi perasaan antarinsan” (affact attunement), dan “pengakuan empatik atas pengamalan subyektif liyan” (empathic validation).

Sementara faktor kedua untuk bertumbuh kembangnya koherensi diri ialah pengalaman tentram yang panjang karena berdampingan oleh tokoh yang disegani dan dihormati.

Sikap gotong-royong misalnya, menjadi bukti berlansungnya tumbuh kembangnya yang pertama. Sekaligus fenomena itu membuktikan kehendak manusia Indonesia untuk menghidupi kemantapan diri di tengah solidaritas kemanusiaan. Sebagaimana disebutkan posisi adab orang Indonesia, bisa menyatupadukan banyak orang dalam keterhubungan setara.

Misalnya juga, berlaku lemah lembut kepada sesamanya dan menghindari kekerasan, ekstremisme. Sebisa mungkin jika ada kesalahan saling berembuk mencari jalan keluar. Ketika menemukan jalan keluar (jawaban), semampu-mampunya diserahkan kepada Sang Pemilik Keputusan.

Hal itu mendapat pernyataan yang nyata dari firmannya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka mejauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudia ketika kamu telah membulatkan tekad maka bertaqwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya (QS Ali ‘Imran: 159).

Berdasarkan ayat di atas, bilamana ingin menyampaikan pendapat dan segala hal, seyogyanya dengan cara-cara beradab. Dengan cara-cara berkeadaban yang mengedepankan akhlakul karimah. Bahkan, untuk berdakwah kepada Tuhan, firman Tuhan menyuruh berdakwah dengan cara-cara sholeh yang sudah dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Apa itu? tidak radikal, ekstrem, keras, dan mematikan umat lian. Itu!

Nabi itu, berislam dengan cinta.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru