31.4 C
Jakarta

Gempa Cianjur dan Wujud Intoleransi di Tengah Persoalan Sosial

Artikel Trending

KhazanahTelaahGempa Cianjur dan Wujud Intoleransi di Tengah Persoalan Sosial
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Sangat disayangkan ketika beredar sebuah video yang menampilkan warga yang sedang mencopot logo bertuliskan gereja reformed di sebuah tenda bantuan korban gempa Cianjur. Momen ini juga diunggah kembali oleh akun Instagram pribadi Gubernur Jawa Barat @ridwankamil yang menyesali perbuatan tersebut.

“Sangat disesalkan dan tidak boleh terulang lagi, pencabutan label identitas pemberi bantuan tenda oleh oknum warga setempat di tenda penguangsian di Cianjur,” ujarnya pada Minggu, (27/11/2022).

Kejadian ini justru menjadi kesedihan yang amat mendalam kepada kita semua di tengah duka yang dirasakan oleh warga Cianjur. Saya masih ingat beberapa tahun silam ketika dalam sebuah organisasi kampus melakukan penggalangan dana untuk korban banjir lalu turun ke jalan. Saya sempat di tegur oleh beberapa pengendara motor dan mobil karena tidak mencantumkan logo kampus dan logo organisasi. Mengapa itu sangat penting? Sebab informasi Lembaga yang membantu untuk korban sangat penting diketahui oleh semua orang sebagai transparansi berkenaan dana yang masuk dan dana yang akan disalurkan kepada korban.

Sayangnya, aksi yang dilakukan oleh warga yang ada di video tersebut menggambarkan perilaku yang sangat tidak manusiawi. Seharusnya, sikap yang ditampilkan untuk menghormati orang-orang yang sedang membantu para korban, perlu diapresiasi dengan sangat baik karena sudah mengulurkan tangannya.

Intoleransi dan mabuk agama

Berdasarkan fenomena di atas, kita perlu memahami bahwa, ada sikap anti yang dimiliki oleh sebagian kelompok kepada kelompok agama lain. Pencabutan bendera gereja yang diduga sebagai upaya kristenisasi merupakan sikap yang menggambarkan wajah masyarakat dalam keberagamaannnya. Agama yang pada dasarnya menjadi peneduh kehidupan sosial, justru menjadi pemicu konflik dengan mengatasnamakan agama. Dalam konteks ini yang menjadi masalah bukanlah agama, akan tetapi para penganut yang kurang menginternalisasi keberadaan toleransi beragama kepada penganut agama lain, bersikap frontal dan tidak percaya diri akan eksistensi agamanya sendiri, sehingga tidak berkenan apabila ada agama lain berdiri di ruang dan waktu yang sama.

Lagi pula, apabila agama dipahami secara substansi, perbedaan agama adalah suatu keniscayaan dalam diri manusia sehingga tidak perlu untuk dipertentangkan dalam hubungan sosial. Setiap agama yang mengajarkan cinta dan damai, maka memiliki sikap empati kepada sesama saudaranya untuk saling membantu masyarakat yang sedang kesulitan, khususnya yang sedang mengalami musibah. Barangkali kita perlu ingat kalimat yang pernah Gus Dur,

Tidak penting apapun agamamu atau suku mu, kalo kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, karena orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Keteladanan Gus Dur untuk bersikap sama kepada orang lain tanpa melihat latar belakang agama seseorang, bukti bahwa ajaran agama tersebut adalah sikap cinta dan kasih sayang. Artinya, representasi ajaran agama, dilihat dari bagaimana seseorang menampilkan laku kesehariannya. Orang-orang yang masih mempertentangkan perbedaan agama dengan sikap anti terhadap agama lain, menampilkan agamanya sebagai ajaran yang tidak menerima perbedaan dan tidak menganggapnya saudara.

Stigmatisasi yang muncul kepada agama lain dalam kasus di atas, perlu kiranya untuk diciptakan dialog untuk saling memahami ajaran agama lain, dalam rangka meningkatkan hubungan sosial kepada manusia agar tidak terjadi perilaku yang terulang. Wujud toleransi antar umat beragama adalah sikap saling mengerti dan saling memahami.

Pada fenomena di atas, yang tampil ada sikap Primordialisme (membanggakan apa yang dimiliki) dan Etnosentrisme (mengukur budaya atau hal lain dengan apa yang dimiliki), kemudian muncul sikap inklusif kepada hal lain tersebut sehingga membuat kekacauan di tengah persoaan sosial. Di tengah carut marut soal kekurangan dan kehilangan berbagai hal, dilanda kelaparan ataupun kesedihan mendalam, sikap pemuda di atas semakin membuat gaduh dan menghambat persatuan.

Seharusnya, bencana alam yang menjadi salah satu alternatif untuk saling merangkul satu sama lain dengan wujud kebersamaan dan saling membantu, justru sebaliknya. Wujud intoleransi masih tetap saja ada, dan dilakukan oleh orang-orang yang menganggap bahwa, kebenaran adalah satu dan itu hanyalah milik kelompoknya. Padahal dalam konteks sosial, hidup bukan tentang kebenaran semata, akan tetapi merajut kasih sayang dan kebersamaan di tengah perbedaan yang sudah tercipta. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru