25.7 C
Jakarta

Densus 88 Ajak Eks Napi Terorisme Beri Edukasi Bahaya Radikalisme di Sekolah

Artikel Trending

AkhbarDaerahDensus 88 Ajak Eks Napi Terorisme Beri Edukasi Bahaya Radikalisme di Sekolah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Semarang – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengajak para eks narapidana terorisme (napiter) berikan edukasi bagi para siswa sekolah mengenai bahaya radikalisme. Pelibatan eks napiter sudah mendapat dukungan penuh dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota sampai tingkat desa.

“Mereka yang kita tangkap itu merupakan korban ideologi yang disampaikan secara ekstrem. Jadi yang kita perangi perbuatannya bukan orangnya. Sedangkan yang terdampak kita upayakan menyelamatkan anak dan istrinya agar tidak masuk ke jaringan teroris. Anak istri kita anggap sebagai keluarga,” kata Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Antiteror, Brigjen Pol Arif Makhfudiharto di kantor Gubernuran, Semarang, Kamis (22/9).

Dia menyebut eks napiter yang akan dirangkul merupakan orang-orang yang menyatakan ikrar kembali ke NKRI, sudah insyaf serta yang memiliki sikap toleran antar sesama.

“Sekolah-sekolah yang kita berdayakan eks napiter yang punya komitmen mencintai dirinya dan toleran. Agar pendiriannya mantap serta kita arahkan dengan beri edukasi ke siswa ketimbang dilakukan deradikalisasi,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Densus 88 disebutkan sampai awal September 2022, terdapat 212 terpidana teroris yang masih ditahan di Jawa Tengah. Rinciannya, ada 191 terpidana teroris yang menghuni sejumlah lapas di Pulau Nusakambangan Cilacap. Dan sisanya 20 orang mendekam di lapas luar Nusakambangan.

“Jumlah mantan napiter di Jawa Tengah sebanyak 230 orang. Yang terbanyak tinggal di Surakarta ada 47 orang, Sukoharjo ada 43 orang dan di Kota Semarang ada 20 orang,” jelasnya.

Saat seorang teroris ditangkap, maka yang ditinggalkan ada keluarga yakni ada istri, dan anak. Bila yang ditangkap kepala keluarga, maka keluarga yang ditinggalkan butuh menopang kebutuhan.

BACA JUGA  Kaum Milenial Terpapar Paham Radikal Cenderung Meningkat

Peran pemerintah lebih tepat memberikan kepastian kebutuhan keluarga tercukupi. Sebab, momen ini juga digunakan oleh jaringan teroris untuk masuk dan mengambil keluarga yang ditinggalkan.

“Kita coba berikan pemahaman kepada masyarakat mereka ini juga masyarakat, keluarga kita dan berpikir yang kita perangi adalah perbuatannya bukan orangnya. Kita harus selamatkan keluarganya agar terputus dengan jaringan mereka,” ujarnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sepakat dengan Densus 88 untuk masuk ke sekolah-sekolah dengan melibatkan eks napiter. Selain sebagai deradikalisasi eks napiter, langkah Densus juga bisa memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme.

“Kita mengajak banyak pihak untuk terlibat, umpama para aktor itu kita ajak menjadi juru bicara kita untuk menjelaskan deradikalisasi itu musti dilakukan seperti apa, terorisme itu bahayanya seperti apa, dan masuk ke sekolah. Tentu kami ini tidak ingin memanjakan mereka (mantan napiter), tapi mengedukasi,” kata Ganjar.

Dukungan penuh juga disampaikan Ganjar Pranowo terkait upaya tersebut. Pemprov Jateng selama ini sudah mencoba menggandeng eks Napiter untuk bercerita mengenai bahaya radikalisme dan terorisme melalui program Gubernur Mengajar. Ganjar selalu menyisipkan pendidikan karakter, bahaya narkoba, hingga pencegahan radikalisasi dalam setiap pertemuan dengan pelajar.

“Maka tadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kesbangpol kita ajak agar semua masyarakat ikut terlibat, sehingga kepeduliannya ada, awarenes-nya ada dan di antara warga yang lain tidak melakukan karena mendengar cerita mereka (eks napiter),” ungkapnya.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru