34.2 C
Jakarta

Corona Bukan Tuhan

Artikel Trending

KhazanahOpiniCorona Bukan Tuhan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Tulisan ini merupakan sedikit curahan pikiran dan perasaan yang dialami oleh penulis. Adalah terkait maraknya kasus Covid-19 atau yang kita kenal dengan Corona. Penulis sangat menyadari bahwa adanya Corona tersebut hampir ¼ Dunia terporak-porandakan, bahkan sebagian kota di negara2 tetangga sudah memblockdown total. Iya, itu adalah salah satu upaya penanggulangan dan pencegahan menyebarnya virus Corona.

Penulis tidak akan membahas apa itu Corona, bagaimana penularanya dan kemudian bagaimana penanggulanya, karena penulis rasa ulasan-ulasan tersebut sudah di paparkan gamblang oleh beberapa pakar kesehatan dan kontributor lain Harakatuna.

Judul tulisanya adalah “Corona Bukan Tuhan

Akhir-akhir ini, seluruh media, baik media sosial, Televisi, Radio (bagi yg masih mendengarkan), hampir semuanya terpenuhi oleh Corona, Corona, dan Corona. Imbasnya adalah masyarakat sedikit demi sedikit terdoktirin dan tetsugesti bahwa Corona adalah penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan, well. Padahal nyatanya Corona yg sebenarnya tidak semematikan itu teman.

Coba kita liat kembali, buktinya dari 120.an warga Indonesia yang terinfeksi Corona baru meninggal 4. kan masih 1: 25.an. dan mereka yang meninggal adalah yang memang sudah terkena penyakit kompleks dan berusia lanjut.

Jadi intinya apa? Penulis hanya ingin menyampaikan, ayoklah kita sikapi ini dengan bijak dan tenang, terlebih lagi kita sebagai orang muslim yang mengaku beriman. Kan kata Allah juga tidak boleh kita khawatir berlenih-lebihan. Lagian temen-temen juga harus ingat bahwa yang memiliki alam ini dan seisinya adalah Allah. Jadi serahkan semuanya kpada Allah.

Perlu temen-temen ketahui juga, bahwa kalian harus bisa membedakan mana waspada yang positif dan waspada negatif. Begini penulis jelaskan.

Waspada negatif adalah waspada yang sifatnya menjrumus pada kehawatiran yang berlebih-lebihan, sampai kita lupa bahwa masih ada kuasa tuhan yg harusnya kitapun bersandar. Disamping itu, kita juga harus benar-benar melihat betul, kehwatiran kita terhadap Corona ini karena apa?. Jangan-jangan gara-gara takut kena Corona terus kita takut mati kalo sudah mati kita tidak bisa menikmati gemerlapnya Dunia?, Jangan-jangan kita takut terkena Corona ini karena takut kita sakit lalu kemudian kita tidak bisa jalan-jalan kemudian nongki diwarung Kopi?, Bukankah itu sebuah keegoisan?, Iya benar yang demikian adalah bentuk dari Hadzzun Nafs.

BACA JUGA  Pemilu 2024: Menyelamatkan Demokrasi dari Ancaman Radikalisme

Tentu kita sebagai muslim yang baik tahu betul bahwa segala sesuatu yang berorientasikan nafsu adalah sebuah ketidak baikan.

Lalu waspada yang bagaimana yang perlu kita lakukan. Penulis teringat dari cramah seorang kyai favorit yang alim ‘allamah. Beliau adalah Kyai Baha. Dalam sebuah cramahnya. Beliau mengatakan yang intinya begini.
Waspada dan khawatir boleh, tapi ingat kewaspadaan itu seharusnya diniatian dengan niat yang benar. Lalu bagaimana niat yang benar, misalnya begini “Ya Allah dengan saya waspada atas Virus Corona ini saya niatkan karena saya takut jika terkena Virus Corona kemudian terjatuh sakit sehingga mengganggu ibadahku kepadamu, sujudku kepadamu, dan solatku kepadamu”

Yai Baha juga menekankan bahwa kehawatiran ini seharusnya diorientasikan karena Allah, karena takut menganggu hubungan kita dengan Allah. Kurang lebih demikian yang penulis pahami.

Habib Novel alAydrus Solo juga pernah menyampaikan dalam sebuah ceramahnya bahwa ketakutan dan kewaspadaan kita terhadap Corona ini diniatkan agar kita tidak ingin apabila kita terkena Corona kemudian menyusahkan keluarga, temena-teman, dan saudara-saudara kita.

Kesimpulannya, Corona memang patut kita waspadai dan takuti. Tapi jangan sampai ketakutan kita melebihi ketakutan kita kepada tuhan yang menciptakan Corona. Kewaspadaan dan ketakutan kita terhadap Corona seharusnya kita orientasikan karena hubungan kita dengan Allah dan sesama, bukan karena kepentingan nafsu sendiri. Wallahua’lam []

Latif Sulton, M.A
Latif Sulton, M.A
Pegiat Kajian Islam dan Politik

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru