Beragama Berarti Menyayangi Sesama


-1
6 shares, -1 points
INT

Agama pada dasarnya berisi ajaran yang sarat nilai-nilai kemanusiaan. Di samping berfungsi secara spiritual, agama di saat bersamaan juga berfungsi secara sosial. Dengan kata lain, agama tak sekadar tentang hubungan kita dengan Tuhan, namun juga berisi sumber nilai dan pedoman tentang bagaimana membangun dan menjalin hubungan yang beradab dan harmonis dengan sesama manusia.

Beragama tak sekadar tentang ibadah, namun juga tentang bagaimana sikap dan perilaku kita sebagai bagian dari kehidupan sosial. Agama, di titik ini, menjadi pedoman etika dan keadaban yang diharapkan melahirkan sikap dan tindakan yang baik dan bermanfaat dalam kehidupan bersama. Dalam Islam, ajaran agama yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw. diturunkan untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. dalam sebuah hadits, bahwa beliau telah diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Akhlak, dalam Islam bahkan menjadi ukuran keberagamaan seseorang. Husein Ja’far Al Hadar dalam esainya Islam dan Kesalehan (Kompas, 24/2/2017), memberi gambaran gamblang tentang hal ini. Dalam fikih (hukum), jelas Husein, selalu diukur dengan parameter akhlak. Misalnya tentang shalat untuk menjauhkan kita dari kekejian dan kemungkaran (Al-Ankabut: 45). Juga sebaliknya: neraka adalah jalan (way)/bagi mereka yang shalat untuk riya’ dan tidak mau memberi pertolongan (Al-Ma’un: 4-7). Kemudian, zakat menjadi sia-sia jika diikuti kata-kata yang melukai (Al-Baqarah: 264).

Kita melihat bagaimana perintah beribadah tidak terpisahkan dengan akhlak atau perilaku kita terhadap sesama. Dari sana, semakin terlihat betapa mendasarnya posisi akhlak dalam perilaku beragama seorang Muslim. Hukum (fikih), di samping tentang ketaatan atau hubungan kita dengan Allah Swt, juga selalu bermuara pada akhlak kita dalam menjalin hubungan baik dengan sesama. Dengan kata lain, bagaimana sikap dan perilaku kita terhadap orang lain, menjadi ukuran penting sejauh mana kita telah menjalankan perintah agama.  

Baca Juga:  Peran Ormas dan Tokoh Agama Menangkal Radikalisme

Jika kita sadar bahwa beragama adalah juga tentang bagaimana kita memberikan manfaat dan kepedulian pada sesama, sudah selayaknya kita semakin menguatkan ikatan solidaritas dan kepedulian pada orang lain. Agama mesti menjadi sumber yang memandu dan membimbing kita untuk selalu memberikan kebaikan pada orang lain. Beragama mestinya membuat kita semakin peka dengan keadaan dan problem sosial yang ada di masyarakat. Ketika di masyarakat terjadi persoalan seperti ketidakadilan, kemiskinan, sampai bencana dan konflik, agama harus menjawabnya.

Spirit beragama tak sekadar tentang penghayatan dan seberapa sering kita sibuk dalam ritus-ritus beribadah, namun juga tentang seberapa jauh ia telah dihayati, ditransformasikan, dan dipraktikkan untuk memberi kemanfaatan dan menjawab pelbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, spirit beragama menjelma menjadi spirit untuk menyambung ikatan solidaritas, kepedulian, dan kemanfaatan pada sesama. Spirit beragama adalah juga tentang sejauh mana kita bisa menciptakan kehidupan sosial yang harmonis, damai, saling menghargai, dan mengutamakan kepentingan bersama, ketimbang kepentingan pribadi.

Gus Dur, sebagaimana dikutip Abdul Wahid (2018: 28), berpandangan bahwa keimanan dan keberagamaan seseorang menjadi tidak begitu berarti manakala ia hanya mementingkan diri sendiri, mabuk dalam ritus-ritus formal, atau tenggelam dalam dzikir dan khalwat. “Keyakinan tauhid seseorang dan ketaatannya kepada syariat mesti berwujud dalam kecintaannya kepada sesama manusia,” tegas Gus Dur. Dari Gus Dur, kita banyak belajar tentang bagaimana spirit beragama diwujudkan lewat sikap, peran, dan berbagai tindakan yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Menjunjung tinggi kemanusiaan di antaranya bisa diwujudkan lewat sikap-sikap peduli, menghormati, dan menyayangi sesama manusia, tanpa memandang perbedaan yang ada. Konkretnya, hal tersebut bisa berwujud sikap-sikap dan tindakan seperti memberi dukungan dan kepedulian pada yang orang-orang yang lemah dan tertindas, memberi bantuan kepada orang-orang yang sedang dilanda kesusahan dan bencana, serta selalu menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di antara sesama manusia,

Baca Juga:  Bias Kognitif Kaum Radikalis

Jika spirit beragama diwujudkan dalam sikap-sikap solidaritas tersebut, saat itulah agama menjadi lentera yang memendarkan cahaya di antara sesama manusia dan menjadi sumber terciptanya persaudaraan, keharmonisan, dan kedamaian bersama. Alih-alih menjadi penyebab terciptanya konflik dan ketegangan sosial, agama sebagai pedoman hidup sudah semestinya mampu hadir sebagai solusi atas berbagai permasalahan sosial dan pendorong terciptanya keharmonisan dan perdamaian.

Beragama tidak seharusnya membuat kita merasa paling suci ketimbang orang lain, sehingga justru membuat kita mengisolasi diri atau menciptakan jarak dan batas untuk berinteraksi, menyambung kepedulian, dan membantu sesama. Beragama tidak semestinya membuat kita merasa paling berkuasa, sehingga mudah menyakiti dan menyerang sesama. Sebab agama memang tak pernah mengajarkannya. Sebaliknya, beragama mestinya membuat kita semakin tawadhu, ramah, toleran, dan menyayangi sesama. Beragama mestinya mendorong kita selalu menjalin solidaritas sosial, demi terciptanya kehidupan bersama yang harmonis dan damai. Wallahu a’lam..

*Al-Mahfud, lulusan STAIN Kudus. Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa.


Like it? Share with your friends!

-1
6 shares, -1 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.