32 C
Jakarta

Benarkah Berpolitik dengan Menggunakan Ayat-ayat Al-Quran?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanBenarkah Berpolitik dengan Menggunakan Ayat-ayat Al-Quran?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Menjelang kontestasi politik seringkali kita menggunakan berbagai cara untuk menggapai kepentingan. Satu di antara cara yang digunakan adalah menyandarkan terhadap teks Al-Quran dengan penafsiran yang mendukung terhadap kepentingannya. Ini banyak terjadi di tengah-tengah kontestasi politik sehingga penting untuk disikapi dengan baik.

Sebab Al-Quran itu diturunkan bukan untuk kepentingan Individual atau kelompok melainkan untuk kepentingan bersama. Kepentingan di sini bukan sesuatu yang membawa kepada kemafsadatan melainkan dapat menghadirkan kemaslahatan.

Kemaslahatan di sini di antaranya bisa berbentuk tumbuhnya perdamaian, persatuan dan kesejahteraan. Jika tidak ada di antara tiga hal itu maka tidak dapat dibenarkan menyandarkan terhadap teks kitab suci.

Saya masih ingat bagaimana Al-Quran digunakan untuk kepentingan politik semata. Dulu pada saat kubu lawan Golkar menyerang mereka menggunakan ayat Al-Quran yang melarang untuk mendekati sebuah pohon.

Pohon itu ditafsirkan dengan pohon yang menjadi simbol Partai Golkar sehingga diambil suatu kesimpulan bahwa kita dilarang mendekati partai yang berlogo pohon itu. Padahal penafsiran atau yang dimaksud dengan ayat itu bukan Partai Golkar melainkan pohon khuldi yang dilarang untuk didekati oleh Nabi Adam dan istrinya.

Selain itu, ketika Megawati mencalonkan sebagai presiden kepulauan menyerangnya dengan menggunakan ayat Al-Quran yang melarang menjadikan pemimpin dari nisa’. Nisa’ yang dimaksud di sini adalah perempuan. Sedangkan pemimpin yang diutamakan adalah kaum laki-laki.

Penafsiran semacam ini tidak dapat dibenarkan karena ayat yang dimaksud bukan mengenai kepemimpinan di ranah publik atau pemerintahan melainkan kepemimpinan di ranah domestik atau keluarga.

Penyalahgunaan tafsir terhadap kepentingan politik tentu tidak dapat dibenarkan karena itu masuk dalam kategori sesuatu yang itu bukan tafsir karena tafsir yang sesungguhnya adalah menelaah maksud ayat yang sesungguhnya. Tentu, di situ membutuhkan seperangkat Ilmu Tafsir untuk memahami ayat-ayat Al-Quran.

Sedangkan beberapa politisi yang dengan gampangnya menafsirkan ayat belum memiliki kemampuan sedikitpun sehingga tafsirnya lebih mendekati terhadap kesesatan.

Memang tafsir Al-Quran itu tidak lepas dari subjektivitas penafsir. Tapi penting juga diperhatikan beberapa hal yang dilarang dilakukan oleh orang yang mau memahami Al-Quran. Bukankah Nabi juga pernah menyebutkan bahwa siapa saja yang memahami Al-Quran dengan hawa nafsunya maka ia akan disanksi dengan hukuman di neraka. Pesan Nabi ini merupakan peringatan bagi siapapun yang hendak memahami Al-Quran.

Penting diingat bahwa Al-Quran adalah kitab petunjuk. Pesan-pesan yang terdapat di dalamnya tentu bernilai positif yang siapapun memahaminya akan mendapatkan hidayah yang mengantarkan kepada jalan yang benar. Tapi jika pesan itu digunakan kepada kepentingan dan bersifat politis dan tentunya itu negatif maka ia tidak akan memperoleh petunjuk sedikitpun sehingga pemahaman itu sia-sia.

Sudah banyak orang yang memahami Al-Quran dengan benar, mereka akhirnya mengakui bahwa Al-Quran itu bukanlah karangan manusia melainkan karangan Tuhan. Sehingga tidak dapat disamakan kitab suci ini dengan buku-buku yang lain.

Maka dari itu, perlu meluruskan niat ketika memahami ayat-ayat Al-Quran. Agar mereka mendapatkan petunjuk dari kitab suci ini. Petunjuk itu akan membawa kepada masa depan yang lebih baik.[] Shallallahu ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru