29.6 C
Jakarta

Belajar Sejarah Sebagai Penangkal Radikalisme Bagi Anak Muda

Artikel Trending

KhazanahPerspektifBelajar Sejarah Sebagai Penangkal Radikalisme Bagi Anak Muda
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Kita sudah mengetahui bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah dibubarkan oleh pemerintah melalui Perpu Ormas No. 2 Tahun 2017. Harapan kita sebagai rakyat Indonesia yang mencintai tanah air, adanya pembubaran HTI mampu menjadikan Indonesia lebih bersih dari radikalisme agama.

Namun pada kenyataan organisasi tersebut masih melakukan pergerakan bawah tanah. Kalau dulu mereka mendakwahkan pemikiran mereka melalui mimbar umum seperti masjid, sekarang dengan populernya aplikasi online meeting mereka berdakwah melaui platform tersebut. Platform online meeting menjadi populer semenjak pandemi merebak di seluruh dunia terutama di Indonesia.

Melalui platform tersebutlah dakwah mereka dapat menjangkau di semua kalangan terutama di anak muda yang sedang populer menggunakan itu. Tentu ini menjadi bahaya laten bagi generasi penerus bangsa. Jika anak-anak muda dicekoki paham radikalisme beragam maka bukan tidak mungkin kedepannya pemikiran dari anak-anak tersebut menjadi sempit dan kolot.

Radikalisme sendiri menurut kamus Cambrigde University adalah suatu kepercayaan atau bentuk ekspresi dari keyaknan bahwa harus ada perubahan sosial atau politik yang besar atau secara ekstrem.

Dalam ranah keagamaan, radikalisme agama Islam menurut M.I Rahmad (2005) yaitu suatu gerakan yang memiliki ciri radikal dengan indikator adanya karakter tegas dan keras, cenderung tanpa kompromi dalam mencapai agenda-agenda tertentu yang berkaitan dengan kelompok muslim tertentu, bahkan dengan pandangan dunia Islam tertentuh sebagai sebuah agama.

Dilihat dari pengertian diatas,radikalisme beragama Islam menjadikan pelakunya  memiliki pribadi yang keras dan bersifat menang sendiri sehingga menimbulkan sikap intoleransi terhadap kelompok yang bersebrangan dengan mereka.

Radikalisme beragama yang dikampanyekan oleh oknum-oknum HTI tak lain dan tak bukan yakni penegakkan khilafah Islamiyyah. Khilafah yang sering dikampanyekan yakni khilafah dengan jalan kepartaian. Padahal didalam Islam tidak ada sejarahnya penegakkan khilafah Islamiyyah dengan partai.

Mulai dari kekhalifahan setelah Nabi Muhammad SAW yaitu Khulafaur Rasyidin, kekhalifaan Bani Umayyah, kekhalifahan Bani  Abbasiyah sampai kekhalifahan terakhir Ottoman tidak menggunakan sistem kepartaian. Bila kelompok HTI bersikukuh mengatakan khilafah ajaran Islam itu sangat tidak tepat. Maka dari itu generasi kita harus kita pahamkan mengenai hal itu.

Janji-janji yang ditawarkan oleh kelompok radikalis HTI seperti kemakmuran merupakan slogan basi yang usang. Sama seperti halnya ideologi Komunisme yang sebelumnya pernah ada antara tahun 1918-1989 juga menawarkan janji-janji kemakmuran melalui slogan sama rata sama rasa.

Pada praktiknya, negara yang menganut sistem ideologi komunis tersebut hanya menguntungkan segelintir oligarki yang menguasai kekuasaan. Tak heran dengan kerancuan-kerancuan sistem tersebut menjadikan negara berideologi komunis hancur juga.

BACA JUGA  Melawan Terorisme, Media, dan Pola Penghancuran Negara

Kelompok radikalis sering memoles citra negara atau kerajaan yang menerapkan sistem khilafah Islamiyyah sebagai kerajaan yang makmur, berdaulat, kuat dan tentunya bagi umat Islam dapat menjalankan syariat Islam secara kaffah.

Padahal jika dilihat kembali, kerajaan yang pernah menganut sistem khilafah tak luput dari konfik dan instabilitas negara seperti: pembunuhan khalifah ke sepuluh Dinasti Abbasiyah Al-Mutawwakil, kasus korupsi pada Khalifah ke dua belas Dinasti Abbasiyah Al-Mustain, bangkrutnya negara pada masa khalifah ke tiga belas Dinasti Abbasiyah al Mu’tazz dinasti Abbasiyah dan lain-lain.

Dakwah  yang dikampanyekan kelompok ekstrimis beragama seperti HTI dan ISIS (Islamic State Iraq and Syria) menghendaki bahwa kemajuan Islam dapat dicapai terlebih dahulu kalau khilafah ditegakkan dahulu. Mereka selalu mengkampanyekan kejayaan Islam di masa lampau yang tokoh-tokohnya lahir pada zaman kekhalifaan.

Padahal tidak demikian, tokoh-tokoh Islam yang moncer pada zaman dahulu ialah mereka ulama yang memiliki pemikiran maju & moderat. Bukan karena kekhalifahan yang membentuk mereka hebat, namun murni kecerdasan, semangat belajar dan semangat mencari penemuan baru.

Disinilah letak kelemahan dari konsep khilafah yang diusung HTI. Mereka menghendaki sistem kekuasaan politik yang utama namun mengabaikan aspek lain seperti budaya dan kultur masyarakat Indonesia yang berbeda-beda. Bukan tidak mungkin, kalau dipaksakan khilafah ala HTI maka Indonesia akan terpecah-belah.

Pemikiran radikalisme beragama ini sangat rentan bagi generasi muda karena sifat keingintahuaanya yang tinggi. Dengan kurangnya pendampingan dan pengawasan oleh orang yang ahli dapat menjerumuskan generasi muda ke arah pemikiran radikalisme. Anak muda juga harus lebih banyak lagi membaca sejarah kebelakang agar memahami persoalan yang ada di masa lalu, masa kini dan yang akan terjadi di masa depan.

Generasi muda merupakan aset bangsa yang harus dijaga pemikirannya agar tidak menjadi generasi ekstrimis yang mudah menyalahkan orang lain. Dampak buruk kampanye khilafah dilakukan menjadikan generasi muda yan masih belum paham mengenai agama akan menjadi generasi yang beringas dan keras.

Kampanye khilafah berusaha menjauhkan generasi muda untuk tidak cinta tanah air dan melupakan sejarah perjuangan dari bangsa Indonesia. Soekarnoo dalam peringatan hari pahlawan tahun 1961 mengatakan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan”. Soekarno juga mengatakan dalam pidato HUT RI tahun 1966 “Jas Merah” yang artinya jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Muhamad Riza
Muhamad Riza
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru