Yang Hilang Dari Kita (1)

0
22

Moral yang dipraktikkan dan diajarkan oleh leluhur bangsa kita, demikian juga yang diajarkan oleh agama, tidak lagi terlihat dalam kehidupan keseharian kita. Ia telah hilang, padahal ia adalah milik kita yang paling berharga lagi sangat dihargai orang lain. Ada sesuatu yang hilang dari kita, terutama dari orang-orang yang mestinya menjadi teladan. Betapapun jika kita berkata, “Yang hilang dari kita,” kata kita di sini bukan menunjuk pribadi (Anda atau Dia), tetapi menunjuk masyarakat kita sebagai Muslim atau sebagai bangsa atau sebagai umat manusia. Umat Islam tidak mencerminkan ajaran Islam di tengah masyarakat.” (Quraish Shihab).

Pernyataan sekaligus kegelisahan Ulama Nusantara diatas bukan tanpa sebab. Betapa saat ini kita sedang dilanda krisis moral atau akhlak mulia. Hampir semua lini kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara nyaris tidak dilandasi dengan akhlak. Sekali lagi, ia telah hilang!

Dalam ranah politik, kita melihat dengan mata kepala sendiri betapa seseorang maupun kelompok menghujat, menyerang, dan membantai lawan politiknya. Persaingan politik pun sudah tidak dilakukan dengan asas-asas keadilan dan kejujuran. Yang menjadi penentu bukan lagi kompetensi diri (integritas, track record, prestasi, dll), melainkan seberapa besar ia berani bermain dan kongkalikong dengan pemodal dan lain sebagainya. Walhasil, sistem seperti ini sangat manjur dalam mencetak kader “korup.”

Seolah tidak mau ketinggalan. Dalam bidang ekonomi pun demikian. Kita menyaksikan betapa orang miskin semakin miskin. Alih-alih berharap naik kelas dan merasakan kesejahteraan, bisa bertahan di tengah gempuran kapitalisme dan liberalisme yang semakin kejam sama sudah luar biasa. Bayangkan, kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta penduduk termiskin. Sudah barang tentu fenomena ini di dalamya ada indikasi kuat bisnis yang tidak sehat!

Dalam bidang pendidikan pun tidak jauh berbeda dengan bidang lainnya. Sekalipun sampai saat ini masyarakat kita masih percaya penuh terhadap lembaga pendidikan untuk mendidik anak dan mencetak generasi unggul dan berbudi luhur, para pemangku lembaga ini justru banyak terjerat korupsi dan melakukan tindakan amoral. Kasus jual-beli ijazah palsu dan plagiarisme yang dilakukan sejumlah elite lembaga ini serta vitalnya berita anak SD melahirkan adalah bukti nyata yang tidak bisa dibantah lagi. Dan satu lagi, ada orang yang pandai, tetapi kepandaiannya itu digunakan untuk menipu banyak orang.

Mungkin ada yang berharap bahwa bidang teknologi, informasi, dan komunikasi dipenuhi oleh manusia yang beradab. Sayang seribu kali sayang, langit-langit media sosial lebih banyak dipenuhi oleh orang-orang bar-bar. Selain nyaris tidak ada batas antara ruang publik dan privat, media sosial juga dipenuhi oleh manusia bejat yang mata pencahariannya adalah membuat konten/ berita provokasi yang dibalut kebencian, fitnah, dan yang haram-haram lainnya.

Yang lain mungkin sangat menaruh harapan terakhirnya pada bidang agama. Namun lagi-lagi para pemeluk agama (sebagian) sedang lupa dan melupakan nilai-nilai luhur ajaran agama terutama dalam menjalankan kehidupan sehar-hari. Bayangkan saja, ada jasa yang bergerak di bidang suci nan sakral, tetapi di dalamnya dipenuhi oleh orang-orang yang kering terhadap moral. Agama atau ayat suci dijual dengan harga murah. Bisnis yang bergerak di ranah agama, jika tidak ingin dikatakan mengatasnamakan agama, tetapi nilai-nilai agama diabaikan. Barangkali First Trevel adalah salah satu contoh teranyar terkait hal ini. Tidak hanya itu, hari-hari ini kita melihat betapa banyak kelompok yang menjadikan agama sebagai alat untuk memuaskan kepentingan pribadi dan kelompok. Cara-cara keji seperti aksi terorisme dengan mengatasnamakan agama semakin membuat dada kita sesak. Bagaimana mungkin agama yang rahmat dan menunjung tinggi HAM dan keselamatan nyawa berubah menjadi agama keras, tidak toleran dan lain sebagainya.

Sesungguhnya banyak aspek yang di dalamnya minus moral. Bahkan jika ditulis semua, niscaya akan menghabiskan banyak rubrik. Oleh sebab itu, setidaknya uraian di atas kiranya sudah dapat meyakinkan kita semua, betapa akhlak yang menjadi ikon bangsa ini kini tidak terlihat lagi dalam kehidupan sehari-hari. Ia telang hilang! (bersambung).

(NJ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here