Wakapolri Bedah Buku “Gamifikasi Kekerasan”, Ungkap Ancaman Baru Radikalisme Digital yang Sasar Anak Muda

Ahmad Fairozi, M.Hum.

22/05/2026

2
Min Read
Wakapolri Bedah Buku “Gamifikasi Kekerasan”, Ungkap Ancaman Baru Radikalisme Digital yang Sasar Anak Muda

Harakatuna.com. Jakarta – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Dedi Prasetyo membedah buku berjudul Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital yang mengulas perubahan pola penyebaran radikalisme dan terorisme di era digital yang kini semakin menyasar generasi muda melalui media sosial hingga game online.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman publik terhadap ancaman ekstremisme modern yang dinilai semakin kompleks dan sulit dideteksi karena berkembang melalui ruang siber. Dalam pemaparannya, Komjen Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa pola terorisme saat ini telah mengalami transformasi besar. Jika sebelumnya kelompok radikal bergerak secara terstruktur dan tertutup, kini mereka lebih banyak memanfaatkan jejaring digital yang cair, anonim, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Ancaman terorisme modern tidak lagi hadir dalam bentuk konvensional. Mereka masuk melalui ruang digital, membangun pengaruh lewat media sosial, komunitas virtual, bahkan melalui platform game yang dekat dengan kehidupan anak muda,” ujar Komjen Dedi pada Rabu (20/5) di Hotel Bidakara Jakarta.

Menurutnya, konsep “gamifikasi kekerasan” menjadi salah satu strategi baru kelompok ekstrem dalam menyebarkan propaganda. Kekerasan dibungkus menyerupai permainan, tantangan, simbol visual, hingga narasi heroik agar terlihat menarik dan mudah diterima generasi muda.

BACA JUGA  Densus 88 Gandeng FLO DKI Jakarta Perkuat Pencegahan Radikalisme di Masyarakat

Ia menegaskan, anak-anak dan remaja menjadi kelompok paling rentan karena tingginya aktivitas mereka di dunia digital serta minimnya literasi dalam memilah konten berbahaya. “Kelompok radikal memanfaatkan algoritma media sosial, forum online, hingga fitur komunikasi dalam game untuk membangun kedekatan emosional dengan targetnya,” katanya.

Komjen Dedi juga menyoroti pentingnya pendekatan baru dalam membaca ancaman ekstremisme modern. Menurutnya, penanganan terorisme tidak cukup hanya menggunakan pendekatan keamanan semata, tetapi harus diperkuat dengan edukasi, literasi digital, dan perlindungan anak.

Ia menilai keterlibatan keluarga, sekolah, komunitas, hingga platform digital menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran radikalisme di kalangan generasi muda. “Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat anak. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu memahami bagaimana pola rekrutmen digital bekerja agar bisa melakukan deteksi dini,” ujarnya.

Buku tersebut juga memperkenalkan pendekatan Composite Violent Extremism (CoVE), yakni cara pandang baru untuk memahami ekstremisme modern yang kini bercampur antara ideologi, budaya digital, psikologi, hingga pengaruh global.

Melalui peluncuran buku ini, Polri berharap masyarakat semakin memahami bahwa ancaman radikalisme saat ini tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi dapat berkembang secara perlahan melalui interaksi digital yang tampak biasa di kehidupan sehari-hari.

Leave a Comment

Related Post