30.3 C
Jakarta
Array

Tujuh Hal Yang Tidak Dimiliki Selain Para Nabi

Artikel Trending

Tujuh Hal Yang Tidak Dimiliki Selain Para Nabi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Nabi merupakan makhluk Allah swt yang berasal dari bangsa manusia. Terpilihnya bangsa manusia sebagai nabi dibandingkan bangsa jin mengisyaratkan kedudukan manusia lebih tinggi. Namun tidak berarti tingginya kemuliaan dan keistimewaan itu dimiliki oleh setiap manusia. Setidaknya ada tujuh yang menjadi kekhususan bagi para nabi yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya;

  1. Menerima wahyu

Wahyu memang satu-satunya dari tujuh kekhususan yang masuk dalam definisi nabi. Sebab wahyu merupakan menjadi media penyampaian misi Allah swt yang dibawa para nabi terhadap umat manusia. Wahyu merupakan pembeda para nabi dengan manusia biasa. Ini sudah tercatat jelas dalam al-Quran tepatnya QS al-Kahfi [18]: 110.

Selain menjadi media interaksi Allah swt dengan para nabi-Nya, wahyu juga menjadi media interaksi mereka dengan para malaikat-Nya. Melalui media interaksi berupa wahyu itulah para nabi bisa mengetahui hal-hal yang lintas dimensi baik alam gaib, peristiwa yang telah terjadi maupun kejadian yang akan datang.

2. Mendapat penjagaan (maksum)

Maksum dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan dengan terpelihara dari dosa dan kesalahan. Sekelumit pandangan ulama mengenai keterjagaan para nabi ini bisa dilihat dalam tulisan, Nabi-Nabi, Bukan Manusia Biasa.

https://www.www.harakatuna.com/harakatuna/nabi-nabi-bukan-manusia-biasa.html

3. Hati mereka tidak tidur ketika mata tidur

Tidur merupakan sarana istirahat bagi manusia. Begitu juga bagi manusia luar biasa semacam nabi. Namun tidur mereka berbeda, hatinya tidak ikut tidur meski mata terpejam erat. Hal ini sudah dikabarkan dalam Shahîh al-Bukhârî dari sahabat Anas bin Malik; Seorang nabi itu tertidur matanya. Namun hatinya tidak ikut tertidur. Begitupun juga semua para nabi-nabi. 

4. Izrail izin sebelum mencabut nyawanya

Mati merupakan sebuah rahasia yang waktunya hanya diketahui oleh-Nya. Namun bagi para nabi, ajal merupakan suatu pilihan mereka. Di mana malaikat maut harus izin terlebih dahulu sebelum mencabut nyawa sang nabi.

Keistimewaan ini sendiri berdasarkan riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah bahwa ia pernah mendengar Nabi saw menyampaikan; Tidaklah seorang nabi sakit kecuali ia ditawari untuk masih tetap hidup di dunia atau berpindah di alam akhirat. Sementara dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Musa as ketika dimintai izin oleh malaikat maut, beliau malah memukulnya dan mencongkel matanya.   

5. Dikebumikan di tempat meninggal dunia

Sebagaimana riwayat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal bahwa tidaklah seorang nabi dikuburkan kecuali di tempat ia wafat. Oleh karenanya para sahabat menggali tempat peristirahatan terakhir baginda Nabi Muhammad saw di kamar isteri beliau, Aisyah binti Abu Bakar.

6. Jasadnya tetap utuh

Dalam riwayat sahih dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan al-Nasa’i disebutkan bahwa Allah swt mengharamkan tanah untuk memakan jasad para nabi. Sebagaimana kisah ditemukannya jasad utuh Nabi Danial as yang dirwiyatkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidâyah wa al-Nihâyah dari Abu al-Aliyah.

7. Masih hidup di alam kubur

Kehidupan di alam kubur memang benar adanya. Ini bisa dibaca secara jelas dalam QS al-Baqarah [2]: 154 dan QS Ali Imran [3]: 169. Adapun kehidupan para nabi di alam kubur secara tersurat ada keterangannya dalam riwayat-riwayat sahih (HR. Muslim nomor 1641 dan hadis yang diriwayatkan oleh al-Jama’ah dari Anas bin Malik). Para nabi dalam riwayat tersebut digambarkan mereka masih hidup sedang salat di kubur mereka. Nabi Muhammad saw melihat secara langsung saat Isra Mikraj, Nabi Musa as sedang melaksanakan salat di kuburnya. Begitu juga para nabi-nabi lain sebut saja Nabi Isa as dan Nabi Ibrahim as.

Akhirnya ketujuh hal di atas menegaskan bahwa para nabi bukanlah manusia biasa. Namun sebagai tambahan perlu dicatat bahwa nomor tiga hingga ketujuh tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada hamba-hamba-Nya yang saleh. Mengingat mereka juga hamba-hamba yang istimewa di mata-Nya. Wallahu Aʻlam [Ali Fitriana]

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru