Transformasi Digital dan AI Picu Ancaman Siber, Universitas Jayabaya Gelar Diskusi Etika Komunikasi Digital

Ahmad Fairozi, M.Hum.

11/06/2026

2
Min Read

Harakatuna.com. Jakarta – Perkembangan transformasi digital yang semakin masif serta kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius bagi kehidupan manusia. Di satu sisi, AI mampu meningkatkan efisiensi di berbagai sektor. Namun di sisi lain, teknologi ini juga membuka ruang bagi penyalahgunaan, mulai dari penyebaran konten deepfake, disinformasi, hingga serangan siber yang semakin kompleks dan berpotensi mengganggu stabilitas negara.

Merespons tantangan tersebut, Universitas Jayabaya bekerja sama dengan Penerimaan Internasional Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “Komunikasi Digital dan Etika AI: Tantangan Menghadapi Ancaman Siber”. Kegiatan berlangsung di Ruang Seminar I Gedung Rektorat Universitas Jayabaya, Rabu (10/6/2026).

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Irjen Pol. Dr. Alexander Sabar, S.I.K., M.Si., yang hadir sebagai pembicara utama, menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan perkembangan zaman dan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. “Tema ini sangat relevan dengan realitas yang kita hadapi. Isu ini bukan sekadar topik akademik, tetapi telah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari negara dalam menjaga ruang digital Indonesia,” ujar Alexander.

Ia menjelaskan bahwa telah terjadi pergeseran besar dalam pola interaksi masyarakat. Jika pada abad ke-20 ruang publik utama berada di ruang fisik seperti alun-alun dan tempat pertemuan, maka pada abad ke-21 ruang publik terbesar masyarakat telah berpindah ke ruang digital.

BACA JUGA  Wali Kota Jakpus Ingatkan Bahaya Radikalisme bagi Pelajar

Menurut Alexander, perubahan tersebut membawa konsekuensi baru terhadap tata kelola keamanan dan etika penggunaan teknologi. Meski AI dikembangkan untuk membantu berbagai sektor kehidupan, ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut juga kerap dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kejahatan digital.

Karena itu, Alexander menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tiga fondasi utama dalam pengelolaan ruang digital, yakni People (manusia), Process (proses), dan Technology (teknologi). “Insiden keamanan siber sering kali bukan terjadi karena lemahnya teknologi, melainkan karena faktor manusia. Teknologi hanyalah alat, sedangkan efektivitasnya sangat ditentukan oleh manusia dan tata kelola yang diterapkan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi di ruang digital. “Kita harus membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum melakukan amplifikasi informasi,” tambahnya.

Pandangan tersebut turut diperkuat oleh Executive Board Penerimaan Internasional Indonesia, Misriyah, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun kesadaran publik terhadap etika komunikasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Diskusi ini diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan literasi digital bagi masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab di tengah meningkatnya tantangan keamanan siber.

Leave a Comment

Related Post