Tafsir Qs. Al-Ma`idah: 73 dan Al-Ma`idah: 116


0
2 shares

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” (Qs. Al-Ma`idah: 73).

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (Qs. Al-Ma’idah: 116).

Jika melihat ayat di atas, maka Qs. Al-Ma`idah: 73 dan Qs. Al-Ma`idah: 116 ini dapat dilihat sebagai ayat-ayat yang berisi tentang penolakan pada konsep ketuhanan dalam agama Kristen.

Selanjutnya, jika mencoba melihat penafsiran dari Jamaluddin al-Qasimi dan Muhammad Quraish Shihab terhadap Qs. Al-Ma`idah: 73, maka akan terlihat bahwa ada perbedaan dalam memahami konsep ketuhanan dalam Kristen yang ditolak oleh Alquran.

Muhammad Quraish Shihab, dalam kitab tafsir al-Mishbah, menjelaskan bahwa yang ditolak dalam ayat ini yaitu konsep Trinitas (Shihab, 2002: 201). Sedangkan menurut Jamaluddin al-Qasimi, dalam kitab tafsir Mahasin al-Ta’wil nya, yang ditolak dalam ayat ini adalah konsep ketuhanan dari salah satu sekte dalam Kristen yaitu sekte Collydrian. Adapun konsep ketuhanan yang dikatakan oleh sekte Collydrians ini yaitu bahwa Tuhan itu ada 3: Bapak, Anak dan Maryam.

Baca Juga:  Etika Berdebat dalam Al-Qur`an (Bagian 3)

Al-Qasimi juga mengutip Sirah Ibnu Ishaq yang menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk merespon 3 jenis pernyataan yang dikatakan orang-orang dari Kristen Najran dalam pertemuannya dengan Nabi. Dalam pertemuan itu, beberapa dari Kristen Najran mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, sementara yang lainnya mengatakan bahwa Yesus adalah anak Tuhan, sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa Yesus merupakan yang ketiga dari tiga. (Sirry, 2013: 301).

Konsep ketuhanan yang seperti itu tampaknya merupakan konsep triteisme dan berbeda dengan konsep ketuhanan yang umum dalam agama Kristen yaitu Tritunggal (yang dalam bahasa latinnya yaitu Trinitas). Dalam hal ini, terlihat bahwa menurut al-Qasimi, yang dikritik dalam ayat ini adalah konsep ketuhanan yang tidak umum dalam agama Kristen.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan Qs. Al-Ma`idah: 116 yang seakan menunjukkan bahwa Maryam merupakan salah satu Tuhan dari umat Kristiani? Mengenai hal itu, Quraish Shihab juga berkesimpulan bahwa ayat ini tidak tertutup kemungkinan membicarakan salah satu sekte yang mempertuhankan Maryam. Quraish Shihab berpendapat seperti ini dengan mendasarkan pada fakta bahwa ada banyak sekte dalam Kristen yang memiliki pandangan tentang Ketuhanan yang berbeda-beda.

Sebagai informasi tambahan, Quraish Shihab juga mengutip penjelasan dari Thabathaba`i dalam menafsirkan Qs. Al-Ma`idah: 116. Thabathaba’i, dalam menafsirkan Qs. Al-Ma`idah: 116, berpendapat bahwa kata “menjadikan Tuhan” bukan menyatakan bahwa Isa dan Maryam adalah dua Tuhan, karena kata “menjadikan Tuhan” berbeda dengan “meyakini sebagai Tuhan”. Menurutnya, seseorang yang tunduk serta taat pada sesuatu yang kemudian diiringi dengan melakukan peribadatan, maka hal itu dinamakan sebagai “menjadikan sesuatu itu Tuhan.” Nah, beberapa kalangan Kristen tertentu “mempertuhankan” Maryam dalam arti yang seperti ini (Shihab, 2002: 300-302).

Baca Juga:  Sebuah Usaha Mengurai Makna Surah Al-Mulk (Bagian-II)

Wa Allahu a’lam bi al-shawab.

DAFTAR PUSTAKA
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah vol. 3, Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Mun’im Sirry, Polemik Kitab Suci Tafsir Reformis Atas Kritik Alquran terhadap Agama Lain terj., Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013.


Like it? Share with your friends!

0
2 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
2
Suka
afifahamani