Harakatuna.com. Mogadishu – Pemerintah Somalia mengeluarkan peringatan keras terkait kemungkinan penutupan Selat Bab el-Mandeb di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan pada April 2026.
Ancaman tersebut muncul seiring memanasnya dinamika regional, khususnya terkait isu hubungan Israel dengan Somaliland yang ditolak tegas oleh pemerintah Somalia. Dalam laporan FTL Somalia (19/4/2026), pemerintah menegaskan tidak akan tinggal diam terhadap pelanggaran kedaulatan.
Seorang pejabat Somalia menyatakan bahwa semua opsi tengah dipertimbangkan, termasuk langkah strategis di jalur pelayaran tersebut. “Kami tidak akan tinggal diam terhadap pelanggaran kedaulatan kami. Semua opsi, termasuk tindakan di Selat Bab el-Mandeb, sedang dipertimbangkan,” ujarnya.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini menjadi rute utama perdagangan global dan distribusi energi, dengan jutaan barel minyak melintas setiap hari, sehingga memiliki peran vital bagi stabilitas ekonomi dunia.
Ancaman Somalia ini dinilai berkaitan dengan eskalasi yang lebih luas di kawasan. Sebelumnya, Iran disebut telah menutup Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan dari Amerika Serikat. Sejumlah analis pun memperingatkan potensi “efek domino” pada jalur pelayaran strategis dunia.
Menurut laporan Saxafi Media, ancaman ini meningkatkan kekhawatiran global karena Bab el-Mandeb merupakan chokepoint penting kedua setelah Hormuz dalam rantai distribusi energi. Gangguan di kedua jalur tersebut berpotensi memicu krisis pasokan serta lonjakan harga energi dunia.
Meski demikian, sejumlah pengamat meragukan kemampuan Somalia untuk benar-benar menutup jalur tersebut secara efektif, mengingat keterbatasan kapasitas militer dan pengawasan maritim negara itu. Namun, pernyataan ini tetap dipandang sebagai sinyal politik yang kuat.
Seorang analis keamanan kawasan menilai ancaman tersebut lebih bersifat geopolitik dibanding operasional, tetapi tetap berdampak besar terhadap persepsi risiko global.
Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Timur yang saling terhubung melalui jalur perdagangan laut strategis. Komunitas internasional kini memantau perkembangan tersebut dengan cermat karena berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global dan keamanan maritim.
Jika penutupan benar terjadi, dampaknya diperkirakan akan memperburuk kondisi perdagangan dunia yang уже tertekan akibat konflik di Selat Hormuz, sekaligus meningkatkan risiko gangguan besar pada rantai pasok global. Export Message as PDF
















Leave a Comment