30 C
Jakarta
Array

Saat Tuhan Berdialog Dengan Ahli Al-Qur’an

Artikel Trending

Saat Tuhan Berdialog Dengan Ahli Al-Qur'an
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Dalam kitab Shifah al-Shafwah Ibnu Al-Jawzy (w. 597 H) pernah menceritakan suatu kisah ahli Al-Quran bernama Hamzah Al-Zayyat. Muridnya, Sulaim bin Isa mengisahkan, suatu ketika aku pernah masuk ke rumah guruku Hamzah. Aku dapati beliau sedang menangis sesenggukan sambil membolak-balikan pipinya di tanah. Lalu aku memohonkan perlindungan Allah swt baginya serta bertanya, kenapa wahai guru?.

Hamzah bercerita, semalam aku bermimpi kiamat datang. Saat itu semua ahli Al-Quran dipanggil. Aku termasuk yang hadir ditengah-tengah mereka. Tiba-tiba ada suara sejuk berseru, “Yang masuk ke sini hanya orang-orang yang mengamalkan Al-Quran” (ahli Al-Quran). Aku pun mundur berbalik beranjak pulang merasa bukan bagian dari mereka.

Di mana Hamzah bin Habib al-Zayyat?,” tiba-tiba ada suara yang memanggilku. Aku mengira itu suara malaikat dan aku menjawab, iya penyeru Allah (labbaik dâʻiy Allah). Lalu ada malaikat yang menyahut, katakan labbaik Allahumma labbaik. Aku pun mengikutinya. iya saya wahai Allah.

Kemudian aku dimasukkan ke sebuah tempat yang gaduh dipenuhi suara bacaan Al-Quran. Aku pun gemetaran menghentikan melangkah. Datanglah suara menyapaku, “Tidak mengapa Hamzah, maju saja ikutlah membaca. Ternyata setelah membalikkan wajah, aku berada pada sebuah mimbar yang terbuat dari mutiara putih berkilauan. Kedua sisinya dari perhiasan yakut kuning. Tangganya dari permata hijau.

Naik dan ikutlah membaca. Bacakan surah Al-Anʻam”. Aku pun mengikutinya meskipun sebenarnya aku tidak tahu sedang membaca al-Quran dihapan siapa. Ketika sampai pada ayat ke 60, aku melanjutnya ayat ‘wa huwa al-Qâhiru Fawqa ʻIbâdih’ suara itu bertanya, “Hamzah, bukankah aku yang memaksa di atas para hambaku?” iya, jawabku. “Kamu benar, lanjutkan bacaanmu” sambungnya. Aku melanjutkan bacaanku hingga akhir surah. Lalu suara itu kembali menyuruhku, “Teruskan bacaanmu”. Lalu aku membaca hingga akhir surah al-A’raf dan kututup dengan sujud tilawah. “Cukup Hamzah. Sujudmu cukup di dunia saja. Jangan sujud lagi” perintah suara itu.

Siapa yang membacakan (mengajarkan) bacaan al-Quran ini padamu?,” tanyanya.

Sulaiman Al-Aʻmasy, jawabku.

Sulaiman dibacakan oleh siapa?”, lanjutnya.

Yahya, sahutku.

Ya benar Yahya. Yahya membaca pada siapa?”, suara itu kembali bertanya.

Aku menjawab, pada Abdurrahman al-Sullami.

Suara itu tetap menyahut, “Iya benar Abdurrahman al-Sullami. Siapa yang membacakan Abdurrahman?”.

Aku menyahut, keponakan Nabimu, Ali bin Abi Thalib.

Siapa yang membacakan pada Ali?” tanyanya.

Nabi-Mu Muhammad saw, jawabku.

Siapa yang membacakan pada Nabiku?” lanjutnya.

Jibril as, sahutku.

Suara itu bertanya kembali, “siapa yang membacakan pada Jibril?”.

Aku pun sekejap terdiam tanpa kata. Suara itu memecahkan diamku, “katakan, Engkau”. Sejenak, aku tidak berani mengatakannya karena malu mengulang ucapan dihadapan-Nya. Akhirnya kuucapkan, Engkau yang membacakannya.

Benar, Hamzah. Demi kebenaran al-Quran. Aku pasti akan memuliakan ahli al-Quran. Khususnya mereka yang mau mengamalkannya. Hamzah, al-Quran itu kalam-Ku. Aku tidak mencintai siapapun seperti kecintaan-ku kepada ahli al-Quran. Mendekatlah wahai Hamzah. Aku pun mendekat. Dia melumuriku minyak wangi ghâliyah yang sungguh berharga.

Suara itu melanjutkan, “Aku tidak hanya melakukan itu terhadapmu saja. Aku telah melakukannya kepada orang-orang yang setara denganmu baik ahli Al-Quran sebelum kamu maupun sesudahmu. Orang yang telah membacakan Al-Quran seperti yang telah kamu bacakan, ia tidak akan datang selain kepada-Ku. Aku tidak menyembunyikan darimu lebih banyak dari ini, Hamzah. Beritahu sahabat-sahabatmu tentang kecintaan dan perlakuan-Ku terhadap ahli Al-Quran. Mereka adalah orang-orang pilihan (Al-Mushthafayna Al-Akhyar). Hamzah, demi kemulian dan kebesaran-ku, Aku tidak akan menyiksa lisan yang telah membaca Al-Quran dengan panasnya api neraka. Begitu pun juga hati yang mau menangkap isinya, telinga yang telah mendengarkannya dan mata yang telah memandangnya.

Aku pun menyahut, Maha Suci Engkau Tuhanku.

Allah swt kembali bertanya, “Hamzah, di mana para pembaca Al-Quran yang sering melihat mushaf?”.

Aku menjawab, Tuhan, apakah yang anda maksud para hafidz Al-Quran?.

Dia menyahut, “Tidak, namun Aku akan menjaganya bagi mereka hingga hari kiamat. Jika mereka bertemu dengan-Ku, akan kuangkat derajat bagi mereka setiap ayat satu derajat”.

Lalu Hamzah menoleh pada muridnya, Sulaim bin Isa, sambil berkata, Apa kamu akan mencaciku saat aku menangis berguling-guling di atas tanah?

Kisah ini diceritakan oleh Sulaim bin Isa (w. 181 H) kepada muridnya Khalaf bin Hisyam Al-Bazzar (w. 229 H) yang merupakan salah satu dari dua perawi Imam Hamzah bin al-Habib Al-Zayyat (w. 156 H) dalam Qirâ’ah Sab’ah. Selain Ibnu Al-Jawzy (w. 597 H), kisah ini juga dinukil oleh Al-Mazzy (w. 742 H) dalam Tahdzîb Al-Kamâl serta Ibnu Syahin (w. 873 H) dalam karya al-Isyârat Fî ʻIlm Al-ʻIbârât. []

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru