Petani Beberkan Fakta Keberhasilan Swasembada Pangan secara Natural

Ahmad Fairozi, M.Hum.

12/04/2026

2
Min Read

Harakatuna.com. Jakarta – Pernyataan yang meragukan capaian swasembada pangan di era Presiden Prabowo Subianto menuai bantahan luas, terutama dari kalangan petani dan warganet. Mereka menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Namun demikian, berdasarkan rangkuman redaksi Harakatuna Media yang dilakukan di Jakarta pada Minggu (12/4) terhadap bebagai platform media sosial, publik menyebut narasi yang meragukan swasembada pangan justru mengaburkan data resmi pemerintah. Banyak warganet menilai capaian tersebut telah terlihat nyata melalui peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.

Sebelumnya, pengamat Feri Amsari mempertanyakan klaim swasembada pangan, termasuk penghentian impor beras yang dinilainya tidak masuk akal. Namun, pernyataan itu langsung mendapat respons dari warganet. Salah satu akun media sosial menegaskan bahwa swasembada beras sudah mulai tercapai sejak 2025. “Bukan 2026 kita swasembada pangan, itu mulai tahun 2025,” ujarnya.

Bantahan juga muncul terkait isu penyusutan lahan sawah. Berdasarkan data yang beredar, luas panen padi nasional justru mengalami peningkatan dari 10,05 juta hektar pada 2024 menjadi 11,32 juta hektar pada 2025 atau naik 12,69 persen.

BACA JUGA  Kesbangpol Jakarta Timur Siapkan Program Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Selain itu, kebijakan pemerintah dinilai menjadi faktor utama keberhasilan. Program pembelian gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram disebut mampu meningkatkan motivasi petani dan mendorong kenaikan produksi.

“Program utama swasembada beras adalah membeli gabah petani dengan harga tinggi. Dampaknya, produksi naik dan kesejahteraan petani ikut meningkat,” tulis salah satu warganet.

Capaian ini juga diklaim mendapat pengakuan dari Food and Agriculture Organization (FAO). Bahkan, penghentian impor beras Indonesia disebut berdampak pada penurunan harga beras global.

Di sisi lain, sejumlah petani dari berbagai daerah turut membagikan pengalaman langsung mereka. Mayoritas mengaku merasakan peningkatan kesejahteraan, baik dari sisi harga jual gabah maupun kemudahan akses pupuk subsidi.

“Sebelumnya harga gabah sekitar Rp570 ribu per kuintal, sekarang bisa mencapai Rp700 ribu. Pupuk juga lebih mudah didapat,” ungkap salah satu petani.

Pengakuan serupa disampaikan petani lain yang menilai perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian semakin meningkat. Mereka optimistis capaian swasembada beras dapat terus dipertahankan ke depan.

Leave a Comment

Related Post