27.9 C
Jakarta

Perempuan, Anti-Patriarki, dan Relasi Kemanusiaan

Artikel Trending

KhazanahPerempuanPerempuan, Anti-Patriarki, dan Relasi Kemanusiaan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Berbagai ungkapan yang melabelisasi perempuan dengan stigma negatif secara masif masih sering terjadi di sekitar. Bahkan, mungkin kita juga termasuk salah satu yang turut mengalami stigma hanya karena menjadi perempuan. Contoh sederhana yang sering saya temui yakni, ketika ada perempuan yang membaca buku di ruang publik, mereka kurang diapresiasi ketimbang laki-laki.

Ketimpangan yang dialami oleh perempuan takkan pernah terlepas dari bias gender yang cenderung menempatkan kaum laki-laki sebagai pihak yang lebih superior daripada perempuan. Hal tersebut terjadi, karena norma yang berkembang secara turun-temurun di masyarakat masih bercorak patriarki. Bahkan, dalil agama pun turut digunakan oleh segelincir orang untuk melanggengkan sistem patriarki yang telah mendarah daging dalam berbagai aspek kehidupan.

Bias gender yang dialami oleh kaum perempuan meliputi lima pengalaman sosial berupa stigmalisasi, marjinalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda. Lantas, bagaimana kita sebagai perempuan bisa memposisikan diri sebagai manusia utuh sebagaimana laki-laki di tengah bias gender yang terjadi? Kita bisa memulai dengan memperkaya diri kita dengan membaca buku. Bukan hanya satu dua buku, melainkan beragam buku-buku.

Sebab, setiap buku yang kita konsumsi belum tentu menjamin kita akan terbebas dari bias gender tersebut. Maka penting bagi kita untuk mencari tahu pesan yang tersirat maupun tersirat dari buku yang dibaca. Bukah hanya sekadar membaca, alangkah lebih baiknya kita menempatkan barometer penilaian pada setiap buku yang dibaca—terutama yang membahas kaum perempuan antaranya sebagai berikut; pertama, mengusung kesetaraan keadilan antara perempuan dan laki-laki.

Kedua, menempatkan posisi perempuan sebagai subjek penuh kehidupan. Ketiga, tidak menempatkan perempuan sebagai mahluk inferior. Selain beberapa poin tersebut, kita juga harus menggali lebih jauh isu-isu bias gender dengan mengikuti beragam diskusi, baik daring maupun luring.

Hal ini agar, kesadaran kita akan bias gender mengalami peningkatan. Kesadaran akan bias gender yang diperoleh dari bacaan akan menumbuhkan pengetahuan dalam diri yang mengajarkan pada kita, bahwa sejatinya pengetahuan ialah jalan pembuka sekaligus perantara bagi manusia untuk memanusiakan sesama.

Dalam Islam pun, membaca memiliki kedudukan yang penting, sebab ayat yang pertama kali turun berbunyi, “Iqra’ bismi Rabbikallazii khalaq (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (Surah Al Alaq 96:1). Kedudukan pengetahuan yang diperoleh dari membaca teks dan konteks memiliki kaitan yang erat dengan tugas manusia sebagai khalifah fil ardh di muka bumi untuk memakmurkan alam, mengelolanya—termasuk menebar kemaslahatan terhadap sesama mahluk hidup sebagai wujud ketaatan pada-Nya.

BACA JUGA  As-Syifa; Perempuan Pegiat Literasi Pertama dalam Islam

Tanpa membaca sebagai media memperoleh pengetahuan, akankah kita memiliki kesadaran untuk saling berbuat baik pada sesama dan mencegah keburukan di bumi? Maka sudah sepatutnya perempuan maupun laki-laki saling memperkaya diri dengan pengetahuan. Bahkan, Lebih daripada itu, membaca setiap fenomena yang terjadi juga harus dibarengi dengan refleksi atas bacaan tersebut.

Ketika semakin sering membaca, ke arah manakah cara pandang kita dalam melihat relasi kemanusiaan? Bila membaca hanya melahirkan cara pandang yang cenderung abai pada kemanusiaan itu, maka kita perlu lagi untuk terus membaca beragam buku-buku dan berani untuk membuka pikiran dari segala prasangka yang masih mendekam di pikiran kita.

Prasangka muncul, karena ketidaktahuan kita akan sesuatu. Stigmalisasi yang dialami oleh kaum perempuan juga bermula dari prasangka akan kedudukan kaum perempuan yang anggap manusia kelas dua. Hal ini yang berimplikasi pada cara berperilaku pada perempuan juga berbeda, bahkan cenderung diskriminasi. Padahal, hal ini jelas-jelas pertentangan dengan misi Islam yang rahmatan lil alamin.

Yahya al-Mazini Ra. meriwayatkan bahwa Rasullah SAW. bersabda, “Tidak diperbolehkan mencederai diri sendiri maupun mencederai orang lain.”(Muwathta’ Malik). Untuk mencegah kemudharatan yang timbul dari ketidaktahuan, maka membaca menjadi alternatifnya. Kita juga harus mengingat kembali jati diri manusia sebagai hamba Allah SWT. Sebagai seorang hamba, sudah sepatutnya kita menjunjung kemanusiaan dengan memperlakukan tiap orang dengan kedudukan derajat yang setara, tanpa melihat latar belakang maupun jenis kelamin.

Jadikan setiap bacaan sebagai sahabat kita, dan jadikan relasi kemanusiaan sebagai barometernya. Sebab, membaca buku bukan hanya menawarkan beragam pengetahuan bagi kita, melainkan juga menjadi media memutus mata rantai bias gender yang selama ini dialami oleh kaum perempuan maupun kelompok rentan yang dilemahkan oleh sistem.

Fatmi Isrotun Nafisah
Fatmi Isrotun Nafisah
Anggota Puan Menulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru