Harakatuna.com – Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia menyaksikan pertumbuhan yang sangat pesat dalam sektor pendidikan Islam. Berbagai bentuk lembaga pendidikan berbasis agama bermunculan, mulai dari madrasah, sekolah Islam terpadu, pesantren modern, hingga berbagai institusi pendidikan berbasis komunitas yang menawarkan alternatif pendidikan bagi masyarakat Muslim. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak lagi bersifat eksklusif sebagaimana pada masa lalu, ketika akses terhadap pendidikan keagamaan banyak terkonsentrasi pada lingkungan pesantren tradisional atau kelompok sosial tertentu.
Kini pendidikan Islam telah bertransformasi menjadi ruang yang lebih terbuka dan dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Bahkan kelompok-kelompok yang dalam klasifikasi Clifford Geertz sering disebut sebagai kelompok abangan pun mulai banyak memanfaatkan lembaga pendidikan Islam formal sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia kontemporer.
Perkembangan tersebut tentu tidak terjadi tanpa sebab. Meningkatnya keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan moral, sosial, dan budaya menjadi salah satu faktor utama yang mendorong orang tua memilih pendidikan Islam. Di tengah kekhawatiran terhadap kenakalan remaja, penyalahgunaan teknologi digital, degradasi etika, hingga krisis identitas generasi muda, pendidikan Islam dipandang sebagai jalan untuk memberikan fondasi moral dan spiritual yang lebih kuat.
Harapan masyarakat cukup sederhana namun mendasar. Mereka ingin anak-anaknya memperoleh bekal untuk menjalani kehidupan dunia sekaligus memiliki pegangan untuk kehidupan akhirat. Dengan kata lain, pendidikan Islam diharapkan mampu menghadirkan keseimbangan antara pembentukan karakter, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan.
Namun demikian, perkembangan kuantitatif pendidikan Islam tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas dan efektivitasnya dalam menjawab tantangan zaman. Di satu sisi, menjamurnya lembaga pendidikan Islam merupakan kabar baik bagi perkembangan umat. Akan tetapi, di sisi lain, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan.
Sebab, Islam bukanlah ruang yang homogen. Di dalamnya terdapat beragam corak pemikiran, orientasi keagamaan, metode dakwah, dan cara pandang terhadap kehidupan sosial-politik. Keragaman tersebut merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Persoalannya muncul ketika sebagian kelompok mengembangkan cara pandang yang eksklusif, tertutup, dan bahkan cenderung ekstrem dalam memahami agama.
Dalam konteks inilah pendidikan menjadi arena yang sangat strategis. Berbagai kelompok keagamaan memahami bahwa pendidikan merupakan instrumen paling efektif untuk membentuk cara berpikir generasi masa depan. Karena itu, perebutan pengaruh dalam dunia pendidikan sering kali berlangsung secara senyap namun memiliki dampak jangka panjang yang sangat besar.
Pendidikan sebagai Kunci Perubahan
Dalam bukunya Teologi Kiri (2020), Prof. Abdul Munir Mulkhan menjelaskan bahwa umat beragama senantiasa berusaha mewujudkan cita-cita keagamaannya melalui berbagai jalur yang tersedia. Perjalanan tersebut berlangsung panjang dan mengalami berbagai perubahan strategi sesuai dengan dinamika sosial-politik yang berkembang.
Pada masa awal kemerdekaan, sebagian kelompok Islam berupaya mewujudkan aspirasi keagamaannya melalui jalur politik formal. Berbagai perdebatan mengenai dasar negara, Piagam Jakarta, hingga perjuangan partai-partai Islam merupakan bagian dari upaya tersebut. Melalui jalur politik, mereka berharap nilai-nilai syariat dapat memperoleh legitimasi formal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun perjalanan tersebut tidak selalu berjalan sesuai harapan. Berbagai perdebatan politik, negosiasi dengan penguasa, serta kompetisi elektoral menunjukkan bahwa agenda-agenda keagamaan tidak selalu memperoleh dukungan mayoritas masyarakat. Bahkan dalam sejumlah momentum penting sejarah Indonesia, aspirasi tersebut menghadapi jalan buntu.
Perdebatan mengenai Piagam Jakarta, dinamika perolehan suara partai-partai Islam dalam pemilu, hingga munculnya gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menjadi contoh bagaimana cita-cita politik keagamaan mengalami berbagai hambatan dan kegagalan.
Kegagalan tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor politik semata. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat turut memengaruhi orientasi umat. Persoalan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan sering kali dianggap lebih mendesak dibandingkan perdebatan ideologis mengenai bentuk negara atau sistem politik tertentu.
Dalam kondisi seperti itu, pendidikan menjadi semakin penting. Kelompok-kelompok keagamaan mulai menyadari bahwa perubahan masyarakat tidak dapat dicapai hanya melalui perebutan kekuasaan politik. Perubahan yang lebih mendasar justru harus dimulai dari proses pembentukan cara berpikir manusia melalui pendidikan.
Karena itulah berbagai kelompok Islam, termasuk kelompok yang memiliki kecenderungan ekstrem, mulai menempatkan pendidikan sebagai salah satu instrumen utama perjuangan mereka. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang dapat menghasilkan generasi yang sejalan dengan cita-cita ideologis yang mereka yakini.
Kekosongan dalam Pendidikan Islam
Di sinilah persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Ketika sebagian kelompok yang memiliki agenda ideologis bekerja secara sistematis dalam bidang pendidikan, kelompok-kelompok Islam moderat justru menghadapi tantangan yang tidak kecil. Banyak tokoh agama, elite organisasi keagamaan, maupun pemimpin lembaga Islam yang kemudian lebih banyak terlibat dalam urusan birokrasi, politik praktis, atau berbagai aktivitas kelembagaan lainnya.
Tentu saja keterlibatan mereka dalam pemerintahan bukan sesuatu yang salah. Bahkan dalam banyak kasus hal tersebut diperlukan untuk memperjuangkan kepentingan umat. Namun persoalannya muncul ketika perhatian terhadap penguatan pendidikan masyarakat menjadi berkurang.
Akibatnya, pendidikan Islam moderat sering kali kehilangan daya jangkau sosial yang luas. Banyak program pendidikan berjalan secara administratif, tetapi kurang mampu menjawab problem nyata yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Situasi ini menjadi semakin mengkhawatirkan ketika masyarakat menghadapi berbagai tekanan sosial-ekonomi yang semakin kompleks. Kenaikan biaya hidup, ketimpangan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, perubahan sosial akibat digitalisasi, hingga krisis identitas generasi muda menimbulkan berbagai pertanyaan yang membutuhkan jawaban keagamaan yang relevan dan membumi.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan ceramah mengenai halal-haram atau ritual ibadah semata. Mereka membutuhkan panduan tentang bagaimana menghadapi kehidupan modern, mengelola tantangan ekonomi, membangun keluarga yang sehat, menghadapi krisis moral, serta menemukan makna hidup di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Sayangnya, sebagaimana dikemukakan Abdul Munir Mulkhan, sebagian pendidikan agama masih terlalu berfokus pada aspek ritualistik. Pendidikan agama sering kali berhenti pada pengajaran tata cara ibadah, hafalan, atau pengetahuan normatif yang terpisah dari realitas sosial masyarakat.
Akibatnya, pendidikan Islam yang seharusnya menjadi solusi justru kehilangan relevansinya bagi sebagian kalangan. Ia hadir sebagai formalitas keagamaan, tetapi belum sepenuhnya menjadi sarana pemberdayaan dan pembebasan umat dari berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Ketika Ekstremisme Menawarkan Jawaban
Kekosongan inilah yang berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstrem. Berbeda dengan anggapan umum, kelompok ekstrem tidak selalu hadir dengan wajah yang keras sejak awal. Dalam banyak kasus, mereka justru tampil sebagai kelompok yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Mereka menawarkan pendidikan murah, jaringan solidaritas yang kuat, pendampingan sosial, bahkan narasi yang dianggap mampu menjawab kegelisahan generasi muda.
Di titik inilah mereka sering kali lebih mudah diterima. Ketika sebagian lembaga pendidikan moderat sibuk dengan persoalan internal, kelompok ekstrem bergerak secara lebih fokus membangun kaderisasi, memperkuat jaringan, dan mengisi ruang-ruang sosial yang kosong.
Lebih dari itu, kelompok semacam ini umumnya memiliki tingkat militansi yang tinggi. Mereka menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam penyebaran gagasan. Mereka membangun kurikulum, jaringan guru, komunitas belajar, kelompok diskusi, hingga ekosistem digital yang saling terhubung dan mendukung.
Di era media sosial, proses tersebut bahkan berlangsung lebih mudah. Pendidikan tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Kanal YouTube, grup Telegram, podcast, platform video pendek, hingga komunitas daring menjadi sarana efektif untuk membentuk cara pandang generasi muda.
Karena itu, ancaman ekstremisme tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan keamanan. Ia juga merupakan persoalan pendidikan. Ketika pendidikan Islam gagal menjawab kebutuhan masyarakat, ruang kosong tersebut akan diisi oleh pihak lain yang menawarkan jawaban, meskipun jawaban tersebut belum tentu sejalan dengan prinsip Islam yang moderat dan kebangsaan Indonesia.
Refleksi bagi Kelompok Moderat
Kondisi ini seharusnya menjadi bahan refleksi yang serius bagi kelompok-kelompok Islam moderat. Selama ini perhatian sering kali terfokus pada upaya mendeteksi, mengawasi, atau mencegah penyebaran ekstremisme. Langkah tersebut memang penting. Namun upaya pencegahan semata tidak akan cukup apabila akar persoalannya tidak diselesaikan.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya bagaimana mencegah ekstremisme berkembang, melainkan juga mengapa sebagian masyarakat merasa tertarik pada kelompok-kelompok tersebut.
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar, yaitu kualitas pendidikan Islam yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Karena itu, agenda yang mendesak hari ini bukan hanya memperkuat narasi moderasi beragama, tetapi juga membangun kembali pendidikan Islam yang inklusif, terjangkau, relevan, dan dekat dengan problem kehidupan umat. Pendidikan Islam harus mampu menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus ruang pemberdayaan sosial.
Jika kekosongan ini tidak segera diisi, maka akan selalu ada kelompok lain yang siap mengambil peran tersebut. Dan ketika itu terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan pandangan keagamaan, melainkan menyangkut arah masa depan masyarakat Muslim Indonesia secara keseluruhan.
Pada akhirnya, tugas kelompok moderat bukan hanya mencurigai atau mengkritik kelompok ekstrem, melainkan memastikan bahwa ruang pendidikan Islam tetap menjadi tempat yang mampu menghadirkan harapan, pengetahuan, dan solusi bagi umat. Sebab dalam dunia pendidikan, siapa yang paling hadir dan paling mampu menjawab kebutuhan masyarakat, dialah yang pada akhirnya akan memenangkan pengaruh.

















Leave a Comment