Harakatuna.com – Menanggapi serangan Israel ke Desa Abidin (dan sekitarnya di Provinsi Daraa, Suriah selatan) pada dini hari tanggal 11 Juni 2026, Kantor Media Hizbut Tahrir Suriah mengeluarkan siaran pers pada 29 Juni 2026 atau 14 Muharram 1448 H. Siaran Pers Nomor 1448/04 berjudul “Arogansi Entitas Yahudi, Khususnya di Wilayah Selatan, Menegaskan Keniscayaan Konfrontasi dan Kewajiban untuk Mempersiapkannya.” (http://www.tahrir-syria.info).
Desa Abidin (atau Abdeen) adalah sebuah desa di Suriah selatan yang secara administratif berada di bawah Kegubernuran Daraa. Desa agraris yang mengandalkan sektor pertanian berkat lahan yang subur dan sumber air di sekitarnya dengan penduduk berjumlah sekitar 1.454 jiwa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Desa Abidin berkali-kali menjadi wilayah yang terdampak konflik di perbatasan Suriah dengan Dataran Tinggi Golan yang sekarang dikuasai Israel. Pengerahan pasukan, bentrokan bersenjata, hingga evakuasi sementara warga menjadikan desa ini sebagai salah satu kawasan yang rentan terhadap eskalasi militer.
Jika dibaca melalui perspektif sosiologi pedesaan, siaran pers Hizbut Tahrir Suriah tentang Desa Abidin menunjukkan bagaimana sebuah komunitas desa dikonstruksi sebagai basis perlawanan ideologis. Desa yang semula merupakan komunitas agraris kemudian direpresentasikan sebagai basis perjuangan politik dan keagamaan.
Perspektif Eric Wolf relevan untuk membaca fenomena ini. Dalam Peasant Wars of the Twentieth Century, Wolf menjelaskan bahwa masyarakat desa bukanlah komunitas yang terisolasi dari dinamika politik, melainkan bagian dari struktur kekuasaan yang lebih luas. Desa yang terlibat dalam konflik, biasanya dipengaruhi oleh relasi dengan negara, militer, maupun organisasi politik yang berusaha memobilisasi masyarakat pedesaan.
Dari sudut pandang Wolf, masyarakat desa pada dasarnya berjuang untuk mempertahankan ruang hidupnya. Ancaman terhadap tanah, keamanan, keluarga, dan keberlangsungan ekonomi merupakan faktor utama yang mendorong keterlibatan mereka dalam konflik. Karena itu, tindakan warga Desa Abidin menghadapi operasi militer dapat dipahami terlebih dahulu sebagai respons komunitas yang berusaha mempertahankan kehidupan sosialnya di tengah situasi perang.
Namun, siaran pers Hizbut Tahrir Suriah memberikan makna yang berbeda. Perlawanan warga Desa Abidin direpresentasikan sebagai legitimasi bagi agenda yang lebih luas, yaitu mobilisasi umat untuk menegakkan Khilafah. Khilafah lah nanti yang akan berkonfrontasi langsung dengan Israel. Desa Abidin menjadi titik mobilisasi menuju perjuangan yang bersifat transnasional.
Menurut Wolf, transformasi seperti ini merupakan salah satu karakter gerakan politik yang memanfaatkan komunitas pedesaan sebagai basis mobilisasi. Pengalaman konkret masyarakat desa diterjemahkan ke dalam bahasa ideologi sehingga memiliki daya tarik yang lebih luas daripada sekadar konflik lokal.
Karena itu, membaca siaran pers Hizbut Tahrir Suriah melalui perspektif Eric Wolf membantu kita membedakan antara realitas sosial masyarakat desa dan konstruksi ideologis yang dibangun di atasnya. Yang satu berbicara mengenai kehidupan sehari-hari komunitas pedesaan yang terdampak perang, sedangkan yang lain berbicara mengenai pemaknaan politik atas pengalaman tersebut.
Desa Abidin contoh bagaimana ruang pedesaan dapat berubah menjadi arena perebutan makna. Bagi masyarakatnya, Desa Abidin adalah tempat hidup yang harus dipertahankan. Melampaui dimensi-dimensi ideologi.
Galibnya, dimensi-dimensi tersebut mudah tertutupi ketika pengalaman desa direduksi menjadi simbol perjuangan politik. Oleh Hizbut Tahrir dikonstruksi menjadi arena perjuangan global yang melampaui batas-batas teritorial desa itu sendiri.

















Leave a Comment