Dari Masjid Kampus ke Ballroom Hotel: Strategi Resiliensi HTI di Perkotaan

Ayik Heriansyah

08/07/2026

3
Min Read
Ballroom

Harakatuna.com – Fenomena kajian Islam berskala besar yang kini marak di ballroom-ballroom hotel berbintang kota-kota besar Indonesia yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak bisa hanya dibaca sebagai geliat syiar keagamaan biasa. Dari sudut pandang sosiologi, ini merupakan strategi resiliensi komunitas HTI pasca pencabutan badan hukum 2017.

Seperti yang dijelaskan Karl Weick dan Holling, komunitas yang resilien mampu menyerap tekanan, beradaptasi, dan membangun kembali ruang aktivitasnya. HTI tidak sekadar bertahan di bawah tanah, melainkan menemukan bentuk baru yang lebih cair, yang memungkinkan jaringan dan aktivitas penyebaran ideologi tetap berlanjut.

Transformasi paling mencolok terlihat di perkotaan. Spot-spot aktivitas HTI pindah dari masjid kampus ke hotel berbintang. Dari kajian-kajian gratis menjadi berbayar. Dari kelas minimum menjadi premium.

Contohnya event Disconnect dan Reconnect yang diselenggarakan Komunitas YukNgaji. Event dengan harga tiket Rp399.000- Rp1.998.000. RêmBook yang menggelar safari dakwah acara bedah buku Tapak Dakwah yang ditulis M. Ismail Yusanto, membandrol tiket dengan harga Rp250.000–Rp1.750.000 (couple), serta event Amazing Muharram oleh Cinta Quran Foundation dengan tiket Rp1.200.000–Rp3.000.000.

Aktivis HTI mengemas dakwah sesuai logika pasar dan selera kelas menengah ke atas Muslim perkotaan. Ballroom hotel menjadi panggung baru yang menawarkan kenyamanan, profesionalisme, dan pengalaman eksklusif.

Dengan demikian, stigma “organisasi terlarang” dapat dihindari. Materi dakwah bergeser dari narasi politik menjadi pengalaman spiritual perjalanan hidup menuju hijrah, motivasi, parenting, kesehatan mental, hingga pengembangan diri. Namun, nilai komunal dan kepatuhan syariat tetap ditanamkan secara subtil.

Harga tiket berfungsi sebagai penyaring alami. Peserta mayoritas berasal dari kalangan profesional, pengusaha, dan akademisi. Kajian premium ini sekaligus arena jejaring sosial baru untuk memperluas relasi bisnis, mencari mitra organisasi, bahkan pasangan hidup, yang membentuk kesalehan sebagai gaya hidup kelas menengah ke atas Muslim perkotaan.

BACA JUGA  Masalah Nasab Taqiyuddin an-Nabhani Pendiri Hizbut Tahrir

Event management yang mengadopsi standar korporat memperkuat daya tarik. Promosi estetik di media sosial, tata panggung megah, pencahayaan dramatis, dan disiplin jadwal. Dakwah tampil layaknya produk industri modern yang memikat.

Tingginya minat peserta disebabkan oleh faktor kelelahan bermedia sosial (social media fatigue). Setelah bertahun-tahun mengonsumsi ceramah digital, masyarakat kota merindukan validasi fisik dari majelis ilmu di dunia nyata. Kerelaan untuk membayar tiket mahal sebenarnya untuk membeli pengalaman sosial dan spiritual, ketimbang materi ilmu.

Fenomena tersebut sejalan dengan teori Experience Economy yang dikemukakan oleh B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore. Menurut teori ini, masyarakat modern tidak lagi sekadar membeli barang atau jasa, melainkan membeli pengalaman (experience) yang memberikan kesan emosional dan identitas sosial.

Karena itu, peserta kajian premium sesungguhnya tidak hanya membayar ceramah, tetapi juga membeli atmosfer ballroom, kesempatan bertemu langsung dengan narasumber, jejaring pertemanan, suasana spiritual, serta pengalaman kolektif yang tidak mungkin diperoleh hanya dengan menonton video di media sosial.

Dalam kerangka Pierre Bourdieu, partisipasi dalam kajian premium menjadi sarana validasi kesalehan sosial dan pembentukan identitas kelas. Kesalehan ditampilkan sebagai status sosial, bukan sekadar hubungan privat dengan Tuhan.

Melalui kajian-kajian premium di ballroom-ballroom hotel, aktivis HTI memanfaatkan titik temu antara kebutuhan spiritual dan validasi sosial kelas menengah ke atas di perkotaan untuk menjaga keberlanjutan gerakan dengan elegan. Jauh dari kesan radikal.

Leave a Comment

Related Post