Algoritma Tidak Mengenal Pahala

Harakatuna

09/07/2026

9
Min Read
Algoritma Tidak Mengenal Pahala

Harakatuna.com – Pernahkah kita bertanya mengapa media sosial terasa begitu pandai mengetahui apa yang ingin kita lihat? Baru saja kita menonton satu video tentang kajian agama, beberapa menit kemudian muncul video lain dengan tema serupa. Ketika kita berhenti cukup lama pada sebuah unggahan yang memancing emosi, beranda seolah dipenuhi konten dengan nada yang sama. Tanpa kita sadari, ruang digital yang setiap hari kita kunjungi sesungguhnya sedang dibentuk oleh sebuah sistem yang bekerja di balik layar yang bernama algoritma.

Sebagian orang menganggap algoritma hanyalah teknologi yang membantu pengguna menemukan informasi sesuai minatnya. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Menurut Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Semakin lama seseorang bertahan di aplikasi, semakin besar pula peluang munculnya iklan dan keuntungan bagi platform. Karena itu, sistem akan lebih sering menampilkan konten yang membuat pengguna berhenti menggulir layar, memberikan komentar, atau membagikannya kepada orang lain. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan algoritma bukanlah apakah sebuah informasi benar atau salah, melainkan apakah informasi tersebut mampu menarik perhatian pengguna.

Jauh sebelum era kecanggihan digital ini, prosedur langkah sistematis untuk memecahkan masalah telah digagas oleh seorang matematikawan brilian abad ke-9, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Istilah ‘algoritma’ itu sendiri berasal dari pelafalan Latin (algoritmi) untuk nama belakang sang ilmuwan Muslim pelopor aljabar tersebut. Berbekal pemikirannya di House of Wisdom di Baghdad, beliau meletakkan fondasi komputasi yang hari ini menjelma menjadi urutan instruksi prosedural di balik layar media sosial. Sayangnya, prinsip dasar perhitungan logis yang mulanya diciptakan untuk mempermudah sains dan kehidupan tersebut, kini dimanfaatkan oleh platform digital sebagai mekanisme pengikat atensi.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian kita sebagai umat Islam. Mesin tidak memiliki kemampuan untuk menilai nilai moral sebuah informasi. Ia tidak dapat membedakan mana nasihat yang menenangkan hati dan mana provokasi yang memecah belah. Selama sebuah unggahan menghasilkan interaksi tinggi, algoritma akan menganggapnya layak untuk terus disebarkan. Akibatnya, tidak mengherankan jika konten yang memancing kemarahan, perdebatan, atau sensasi sering kali menyebar lebih cepat dibandingkan tulisan yang mengajak berpikir jernih. Berbagai penelitian mutakhir dari bahkan menunjukkan bahwa personalisasi algoritma dapat menciptakan filter bubble dan echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri sehingga semakin jarang berjumpa dengan perspektif yang berbeda.

Padahal, Islam sejak awal mengajarkan bahwa kualitas sebuah informasi tidak diukur dari seberapa cepat ia menyebar, melainkan dari seberapa benar dan seberapa besar manfaatnya. Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan yang sangat relevan dengan kehidupan digital hari ini. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Nilai ini menjadi fondasi etika komunikasi Islam yang tetap relevan meskipun teknologi informasi berkembang sangat pesat. Penelitian juga menegaskan bahwa kejujuran, tabayyun, penyampaian pesan yang baik, dan semangat perdamaian merupakan prinsip utama etika komunikasi Islam di media sosial.

Ketika Angka Mengalahkan Nilai

Barangkali di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: mengapa konten yang penuh kemarahan terasa lebih sering muncul daripada konten yang menenangkan? Mengapa kabar yang belum jelas kebenarannya begitu cepat memenuhi lini masa, sementara tulisan yang mengajak berpikir justru tenggelam? Jawabannya bukan semata-mata karena masyarakat menyukai konflik, tetapi karena sistem digital dirancang untuk membaca pola perhatian manusia. Dalam logika algoritma, perhatian adalah mata uang yang paling berharga.

Ketika seseorang menonton sebuah video hingga selesai, memberikan komentar, atau membagikannya kepada orang lain, algoritma membaca perilaku itu sebagai sinyal bahwa konten tersebut menarik. Semakin tinggi interaksi yang dihasilkan, semakin besar peluang konten itu direkomendasikan kepada pengguna lain. Sayangnya, emosi seperti marah, takut, atau penasaran sering kali menghasilkan interaksi yang lebih tinggi dibandingkan rasa tenang atau kebijaksanaan. Akibatnya, konten yang memancing emosi cenderung memperoleh ruang yang lebih luas daripada konten yang mengajak berpikir jernih. Penelitian mengenai personalisasi algoritma menunjukkan bahwa sistem rekomendasi media sosial memang membangun pengalaman pengguna berdasarkan riwayat interaksi mereka sehingga memperkuat kecenderungan untuk terus mengonsumsi jenis konten yang sama.

Fenomena ini melahirkan apa yang dikenal sebagai filter bubble dan echo chamber. Sederhananya, seseorang semakin sering dipertemukan dengan informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri, sementara pandangan yang berbeda semakin jarang muncul di hadapannya. Lama-kelamaan, ruang digital berubah menjadi cermin yang hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Bukan karena dunia hanya memiliki satu kebenaran, tetapi karena algoritma menganggap itulah yang paling mungkin membuat kita tetap bertahan di dalam aplikasi. Para peneliti bahkan mengingatkan bahwa kondisi seperti ini dapat mempersempit wawasan, memperkuat bias, dan meningkatkan risiko penyebaran hoaks maupun polarisasi sosial.

Ironisnya, seorang Muslim bisa saja tanpa sadar ikut larut dalam mekanisme tersebut. Kita merasa telah memperoleh banyak ilmu agama karena setiap hari beranda dipenuhi ceramah, potongan ayat, atau kutipan hadis. Padahal, belum tentu semua informasi itu utuh, memiliki konteks yang benar, atau berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak sedikit pula potongan ceramah yang sengaja dipenggal agar terdengar kontroversial sehingga mengundang lebih banyak komentar. Bagi algoritma, kontroversi adalah peluang meningkatkan keterlibatan pengguna. Namun bagi Islam, penyampaian ilmu yang dipotong dari konteksnya justru dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Di sinilah ajaran Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menjadi yang paling ramai berbicara, melainkan menjadi orang yang paling berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi. Firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan tabayyun ketika menerima berita agar tidak menimbulkan penyesalan akibat keputusan yang didasarkan pada informasi yang keliru. Nilai ini bukan sekadar etika komunikasi, melainkan bentuk perlindungan terhadap martabat manusia dan keutuhan masyarakat.

BACA JUGA  Adab Berbeda Pendapat dalam Islam: Pelajaran yang Sering Dilupakan

Prinsip tersebut diperkuat oleh penelitian yang menjelaskan bahwa etika komunikasi Islam di media sosial bertumpu pada empat pilar utama, yaitu kejujuran (ṣidq), penyampaian pesan yang baik, tabayyun, dan silm atau semangat menciptakan kedamaian. Keempat prinsip ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan komunikasi seorang Muslim tidak diukur dari seberapa banyak orang yang melihat unggahannya, melainkan dari seberapa besar kebenaran dan kemaslahatan yang dibawanya.

Karena itu, setiap kali jari kita hendak menekan tombol bagikan, sesungguhnya kita sedang dihadapkan pada dua ukuran yang berbeda. Ukuran pertama adalah ukuran algoritma: berapa banyak klik, komentar, dan engagement yang akan diperoleh. Ukuran kedua adalah ukuran Islam: apakah informasi ini benar, bermanfaat, dan membawa kebaikan bagi orang lain. Algoritma hanya mengenal angka, sedangkan Islam mengajarkan nilai.

Jejak Digital, Jejak Amal

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Cukuplah seseorang disebut berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim). Jika pada masa itu berita berpindah dari satu lisan ke lisan yang lain, maka hari ini ia berpindah melalui satu sentuhan jari. Bentuknya boleh berubah, tetapi pesan moralnya tetap sama yakni tidak setiap informasi layak dipercaya, apalagi disebarkan. Selain itu, hadis tersebut juga terasa semakin relevan di tengah budaya media sosial yang serba cepat. Tidak sedikit orang membagikan sebuah unggahan hanya karena judulnya menarik, videonya menyentuh emosi, atau karena telah lebih dahulu dibagikan oleh banyak akun lain. Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa penyebaran informasi palsu lebih sering dipicu oleh kebiasaan berbagi secara spontan daripada niat untuk menyesatkan orang lain. Karena itu, etika digital tidak cukup berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengendalikan diri sebelum menekan tombol share. Penelitian mengenai etika komunikasi Islam menegaskan bahwa sikap tabayyun, kejujuran, dan tanggung jawab moral merupakan fondasi penting untuk membangun ruang digital yang sehat dan beradab.

Mungkin inilah tantangan dakwah pada zaman algoritma. Dahulu, seorang Muslim menjaga lisannya karena khawatir menyakiti orang lain. Kini, ia juga perlu menjaga jemarinya karena setiap komentar, unggahan, dan tautan yang dibagikan dapat menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik. Teknologi memang memperluas jangkauan komunikasi manusia, tetapi pada saat yang sama juga memperbesar tanggung jawab moralnya. Semakin mudah seseorang berbicara di ruang digital, semakin besar pula amanah yang dipikulnya.

Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah bahwa algoritma bekerja tanpa mengenal nilai-nilai agama. Memang sejak awal algoritma tidak diciptakan untuk menilai pahala, dosa, kejujuran, atau niat manusia. Ia hanya menjalankan perintah untuk menghitung perhatian, membaca pola perilaku pengguna, lalu menyajikan konten yang dianggap paling menarik. Kesalahan justru muncul ketika manusia mulai mengadopsi ukuran algoritma sebagai ukuran keberhasilannya. Kita merasa berhasil ketika unggahan memperoleh ribuan likes, bangga ketika jumlah pengikut terus bertambah, dan kecewa ketika tulisan yang penuh manfaat hanya dibaca segelintir orang. Sedikit demi sedikit, ukuran keberhasilan bergeser dari nilai menuju popularitas.

Padahal, Islam mengajarkan ukuran yang berbeda. Amal saleh tidak pernah ditentukan oleh seberapa viral ia di mata manusia, melainkan oleh keikhlasan niat dan manfaat yang dihadirkannya. Bisa jadi sebuah nasihat yang hanya dibaca satu orang lebih bernilai di sisi Allah daripada sebuah unggahan yang ditonton jutaan kali tetapi menebarkan kebencian. Di sinilah seorang Muslim diajak untuk tidak terjebak pada logika angka yang dibangun media sosial. Sebab, ukuran langit tidak pernah sama dengan ukuran layar.

Barangkali mulai hari ini kita perlu mengganti satu pertanyaan sederhana. Sebelum mengunggah sesuatu, jangan hanya bertanya, “Apakah ini akan banyak ditonton?” atau “Apakah ini akan viral?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah informasi ini benar? Apakah ia membawa manfaat? Dan apakah aku siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?” Jika tiga pertanyaan itu menjadi kebiasaan, maka media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang mencari perhatian, tetapi juga menjadi ladang amal yang terus mengalir.

Sebab pada akhirnya, algoritma memang tidak mengenal pahala. Namun Tuhan mengenal setiap kata yang kita tulis, setiap gambar yang kita unggah, dan setiap informasi yang kita sebarkan. Jejak digital mungkin tersimpan di server, tetapi jejak amal tersimpan dalam catatan yang tidak pernah keliru.

Daftar Pustaka

  • Briliyanda, N., Areifien, T. W., Ghanistyana, L. P., & Dewi, A. S. (2025). Peran Algoritma AI dalam Personalisasi Konten dan Filter Bubble. Jurnal Riset Public …, 43–54.
  • Wulandari, V., Rullyana, G., & Ardiansah. (2021). Pengaruh algoritma. Berkala Ilmu Perpustakaan Dan Informasi, 17(1).
  • Saggaf, M. I., Arif, M. W., Habibie, M., & Atqiya, K. (2021). Prinsip Komunikasi Islam Sebagai Etika Bermedia Sosial. Journal of Communication Studies, 1(01), 15–29. https://doi.org/10.37680/jcs.v1i01.698
  • Aldewo Dillon Perkasa, Mohammad Luthfan Faohan, Kania Dewi, Galuh Inti Aulia, & Hisny Fajrusallam. (2021). Penemuan Muhammad Bin Musa Al Khawarizmi. Jurnal Soshum Insentif, 4(2), 114–129.
  • Arif Aminin, M. R. (2026). Implementasi tabayyun sebagai etika komunikasi islam dalam interaksi di media sosial. Spekta Komunika, 5.
  • Putri Nanda Irma, A. (2023). Media Sosial dan Isolasi Digital ( Kajian Teori Information Gaps pada Algoritma Filter Bubble ). Sadida: Islamic Communications and Media Studies, 3(1), 17–32.

Oleh: Muhammad Ali Rifqi (Lahir di Kudus dan Lulusan Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Tahun 2024 pada Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Selain itu, sering menulis berita di NU Online Jateng dan Suara Nahdliyin).

Leave a Comment

Related Post