“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13).
Harakatuna.com – Ayat tersebut terasa sangat relevan ketika dunia sedang menyaksikan Piala Dunia FIFA 2026. Di tengah meningkatnya polarisasi politik, konflik geopolitik, ujaran kebencian di media sosial, hingga propaganda kelompok ekstrem yang gemar membelah dunia menjadi “kami” dan “mereka”, jutaan pasang mata justru menyaksikan sebuah ironi yang indah: puluhan negara dengan latar belakang agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda dapat bertanding dalam satu lapangan dengan aturan yang sama.
Inilah paradoks yang jarang dibahas. Ketika sebagian kelompok membangun identitas melalui kebencian terhadap “yang lain”, Piala Dunia justru memperlihatkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kenyataan yang dapat dikelola secara damai.
Piala Dunia bukan sekadar turnamen sepak bola empat tahunan. Sejak pertama kali digelar pada 1930, ajang ini telah berkembang menjadi salah satu peristiwa global terbesar yang menyatukan miliaran penonton. Edisi 2026 bahkan mencatat sejarah baru karena diikuti 48 negara, terbanyak sepanjang sejarah, serta diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Format baru ini memperluas partisipasi negara dari berbagai kawasan dan menjadikan Piala Dunia semakin merepresentasikan keragaman dunia.
Menariknya, di lapangan hijau tidak ada satu pun negara yang diminta meninggalkan identitasnya. Setiap tim datang membawa bendera, lagu kebangsaan, bahasa, tradisi, bahkan keyakinan masing-masing. Namun identitas itu tidak menjadi alasan untuk menghilangkan penghormatan terhadap lawan. Setelah peluit panjang berbunyi, para pemain saling berjabat tangan, bertukar kaus, dan mengakui keunggulan lawan. Rivalitas berhenti di lapangan, bukan berubah menjadi permusuhan.
Fenomena ini bertolak belakang dengan pola pikir kelompok ekstrem. Dalam kajian ilmu sosial, psikolog sosial Henri Tajfel melalui Social Identity Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung membagi dunia menjadi kelompok “kami” (in-group) dan “mereka” (out-group). Dalam kondisi tertentu, pembagian ini dapat memunculkan prasangka dan diskriminasi. Kelompok radikal mengeksploitasi kecenderungan tersebut dengan membangun narasi bahwa hanya kelompoknya yang benar, sedangkan pihak lain adalah musuh yang harus dijauhi, bahkan diperangi.
Di sinilah letak pelajaran penting dari Piala Dunia. Kompetisi tidak harus melahirkan kebencian. Perbedaan identitas tidak harus berujung pada kekerasan. Negara-negara boleh bersaing keras selama 90 menit, tetapi tetap mengakui kemanusiaan lawannya. Inilah bentuk kompetisi yang beradab.
Islam sendiri menawarkan konsep yang berbeda dari narasi eksklusif tersebut. Al-Qur’an menggunakan istilah lita’arafu—agar kalian saling mengenal. Perbedaan bangsa dan suku bukan untuk saling meniadakan, melainkan menjadi jalan membangun kerja sama dan saling memahami. Prinsip ini melahirkan konsep ukhuwah insaniyah, yaitu persaudaraan sesama manusia yang berdiri di atas penghormatan terhadap martabat setiap insan.
Piala Dunia 2026 menghadirkan gambaran nyata tentang konsep tersebut. Suporter dari berbagai negara duduk berdampingan di tribun. Relawan dari beragam latar belakang bekerja sama melayani tamu dunia. Media internasional meliput kisah-kisah persahabatan lintas budaya yang lahir selama turnamen. Semua itu menunjukkan bahwa identitas nasional tidak menghalangi lahirnya solidaritas kemanusiaan.
Pelajaran ini penting bagi Indonesia. Sebagai bangsa yang dibangun di atas keberagaman agama, suku, bahasa, dan budaya, Indonesia terus menghadapi tantangan polarisasi, terutama di ruang digital. Media sosial kerap memperbesar perbedaan hingga memunculkan kebencian. Dalam situasi seperti ini, narasi kelompok ekstrem menemukan ruang untuk berkembang. Mereka menawarkan identitas yang sempit, memandang dunia dalam dua warna: kawan atau lawan, mukmin atau musuh, kami atau mereka.
Padahal sejarah bangsa ini justru dibangun melalui kemampuan hidup bersama dalam keberagaman. Nilai-nilai Islam yang berkembang di Indonesia melalui dakwah para ulama Nusantara lebih banyak menekankan dialog, akhlak, dan kebijaksanaan daripada konfrontasi. Karena itu, memperkuat narasi persaudaraan bukan hanya menjadi kebutuhan sosial, tetapi juga bagian dari menjaga keutuhan bangsa.
Piala Dunia memang tidak akan menyelesaikan konflik dunia. Ia bukan obat bagi seluruh persoalan kemanusiaan. Namun turnamen ini memberikan pelajaran penting bahwa manusia mampu berkompetisi tanpa kehilangan rasa hormat kepada sesamanya. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, pelajaran seperti ini justru semakin berharga.
Kelompok ekstrem membutuhkan tembok pemisah agar ideologinya tetap hidup. Sebaliknya, masyarakat yang terbiasa berdialog, bekerja sama, dan berinteraksi lintas identitas akan lebih sulit dipengaruhi oleh narasi kebencian. Semakin banyak ruang perjumpaan yang sehat, semakin sempit ruang bagi propaganda yang membelah manusia.
Karena itu, pelajaran terbesar dari Piala Dunia 2026 bukanlah siapa yang mengangkat trofi. Pelajaran terbesarnya adalah bahwa miliaran manusia dengan identitas yang berbeda dapat bersorak dalam satu peristiwa yang sama tanpa harus saling meniadakan. Dalam dunia yang terus digoda oleh politik identitas dan ekstremisme, pesan seperti ini layak dirawat.
Mungkin inilah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan satu negara atas negara lain, melainkan kemenangan gagasan bahwa perbedaan tidak selalu berakhir dengan permusuhan. Dan selama gagasan itu terus hidup, ideologi “kami versus mereka” akan selalu kehilangan panggungnya. []

















Leave a Comment