26.4 C
Jakarta

Orang Lebanon Pembawa Hizbut Tahrir ke Indonesia

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Bagaimana Hukum Memberi Nasehat dalam Islam?

Tahukah kalian, mengapa agama merupakan suatu nasehat? Kehidupan seseorang bisa berubah dengan nasehat anda. Jalan kehidupan seseorang juga bisa berubah sedemikian baik lantaran duduk...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Orang Lebanon Pembawa Hizbut Tahrir ke Indonesia

Ayik Heriansyah*

Namanya Abdurrahman al-Baghdadi datang ke Indonesia tepatnya ke Bogor sekitar tahun 1982. Orang Lebanon. Ia dititipkan oleh orang tuanya, Syaikh Nasir, kepada sahabatnya K.H. Abdullah bin Nuh untuk belajar. Perjumpaan K.H. Abdullah bin Nuh dengan Syaikh Nasir terjadi di Australia, ketika K.H. Abdullah bin Nuh menjenguk anaknya di sana.

K.H. Abdullah bin Nuh sosok ulama sunni bermadzhab Syafi’i dan penganut tarekat, mendirikan Pesantren al-Ghozaly di kota Bogor. Di pesantren itu juga, Abdurrahman al-Baghdadi tinggal. Sebagai amanah dari sahabatnya, Abdurrahman al-Baghdadi diperlakukan dengan baik, layaknya anak sendiri.

Mengenal Al-Baghdadi Pembawa Hizbut Tahrir ke Indonesia

Ternyata Abdurrahman al-Baghdadi ini seorang syabab Hizbut Tahrir. Di Bogor, Abdurrahman al-Baghdadi mengadakan pengajian dan membuka halaqah di tiga tempat: Di pesantren al-Ghazali, Masjid al-Ghifari IPB dan pesantren mahasiswa di Layungsari. Halqah ula (sel pertama) Hizbut Tahrir di Indonesia lahir dari tiga tempat ini. Tidak semua peserta halqah-nya yang menjadi kader, sebagian besar berhenti dari per-halaqah-an dan keluar dari Hizbut Tahrir.

Yang tersisa kader-kader inti Hizbut Tahrir di Indonesia yang sekarang duduk sebagai pimpinan pusat. Dari mereka kemudian terbentuk sel-sel halaqah Hizbut Tahrir di berbagai daerah yang menjadikan kampus-kampus sebagai titik simpul. Abdurrahman al-Baghdadi sendiri kemudian keluar dari Hizbut Tahrir. Entah, apa masalahnya. Setelah keluar dari Hizbut Tahrir, ia di-bully oleh murid-muridnya sendiri.

Sebenarnya Abdurrahman al-Baghdadi dititipkan ayahknya kepada K.H. Abdullah bin Nuh untuk belajar, bukan untuk menyebarkan pemikiran Hizbut Tahrir, merekrut kader dan membentuk organisasi Hizbut Tahrir di Indonesia. Akan tetapi kenyataan, ia memanfaatkan keberadaannya di Bogor untuk melakukan kegiatan yang sejatinya bertentangan dengan ajaran Sunni Syafi’i yang diyakini oleh K.H. Abdullah bin Nuh.

Penyimpangan amanah ilmiah yang diduga dilakukan oleh Abdurrahman al-Baghdadi mengingatkan kita pada kisah Bal’am bin Ba’ura. Bal’am adalah ulama Bani Israil yang mendapat tugas dari Nabi Musa as untuk menyampaikan dakwah kepada raja Madyan. Ia  mendapat sambutan sangat baik dari raja Madyan dengan menyediakan tempat tinggal yang layak sebelum melaksanakan tugas dari Nabi Musa. Di tengah jalan, Bal’am berubah pikiran. Ia terlena dengan kehidupan yang mewah lalu berubah pendirian dengan mengikuti agama raja Madyan. Ia tidak melaksanakan tugas dari Nabi Musa.

Modus Pembawa Hizbut Tahrir ke Indonesia

Modus mengkhianati amanah ilmiah ala Bal’am seperti ini marak terjadi di kalangan syabab Hizbut Tahrir di Indonesia. Beberapa anak kiai NU, dikuliahkan di kampus-kampus umum dengan harapan bisa meneruskan dan mengembangkan pesantren milik keluarga. Memelihara tradisi Aswaja dan menjadi benteng pertahanan fikrah, amaliyah dan harakah NU.

Malah di tempat kuliah, mereka mempelajari ajaran Hizbut Tahrir dan menjadi anggotanya. Setelah lulus, menyebarkan pemikiran Hizbut Tahrir di pesantren dan majlis taklim yang dirintis oleh orang tuanya. Mereka memanfaatkan nama baik orang tua untuk merekrut warga masyarakat agar bergabung dengan Hizbut Tahrir. Padahal mereka tahu dan sadar, ajaran NU yang diadopsi orang tuanya bertentangan dengan fikrah dan thariqah Hizbut Tahrir.

Modus lainnya, mereka menyimpangkan perkataan dan makna kitab para ulama agar sesuai dengan agenda politik mereka, ingin mendirikan khilafah tahririyah. Isi kitab tafsir, hadits, ushul fiqih, fiqih, sirah dan tarikh dicocok-cocokan dengan khilafah tahririyah. Mereka mau membuat persepsi di benak umat, seolah-olah semua ulama mendukung khilafah tahririyah.

Murid-murid Abdurrahman al-Baghdadi yang masih hidup kini berusia antara 50 – 60 tahun. Mereka sudah tua-tua. Mereka menyaksikan sendiri, bagaimana Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia dengan cara-cara yang tidak baik, ternyata berakhir dengan su’ul khatimah. Pada prinsipnya, tidak ada keberkahan bagi siapapun yang mengkhianati amanah ilmiah sebagaimana yang dilakukan oleh Bal’am bin Ba’ura.

*Ayik HeriansyahPengamat Sosial Keagamaan, dan Mantan Ketua DPD HTI Bangka Belitung

Ayik Heriansyah
Ayik Heriansyah
Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI, dan Direktur Eksekutif CNRCT

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Hayya ‘Alal Jihad, Mari Berjihad Berantas FPI!

Boleh jadi, setelah membaca tulisan ini, atau sekadar membaca judulnya saja, Hayya ‘Alal Jihad, sementara orang akan berkomentar: “Bocah kemarin sore kok mau bubarkan...

Israel Musnahkan Tangga Bersejarah Masjid Al-Aqsa

Harakatuna.com. Yerusalem - Pemerintah Kota Yerusalem Israel menghancurkan tangga bersejarah yang mengarah ke Bab Al-Asbat, Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem. Penghancuran tangga bersejarah ini...

Benarkah Ulama Itu Harus Jadi Oposan Pemerintah?

Saya pikir, hari ini kita sedang berada dalam kegamangan berbagai masalah kenegaraan yang tidak kunjung usai. Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru sudah terpilih,...

Video Hayya Ala Al-Jihad Bagian dari Penyalahgunaan Agama

Harakatuna.com. Jakarta – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi menyebut seruan jihad yang dilantunkan seorang muazin saat melantukan azan Hayya Alal Jihad dalam video...

Hukum Menambah Kalimat Adzan “Hayya Ala Al-Jihad“, Bolehkah?

Dunia media media sosial kembali dihebohkan dengan penambahan lafal adzan “Hayya ala Al-Jihad” oleh simpatisan ormas Islam di Petamburan, Jakarta. Tentu penambahan adzan ini...

GP Ansor DIY Tolak Radikalisme dan Intoleransi

Harakatuna.com. Sleman - Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY berkomitmen untuk menjaga ketentraman dan kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat...

Mengapa Teroris MIT Berulah Kembali?

Kini, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Tengah sedang berduka. Pasalnya, kehidupan seseorang (hak asasi) di sana dengan mudahnya direnggut oleh sekelompok teroris. Kelompok teroris...