31 C
Jakarta

Pasang Surut Hubungan Turki-Israel dan Kepentingan Dibalik Rujuknya Kedua Negara Tersebut

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahUlasan Timur TengahPasang Surut Hubungan Turki-Israel dan Kepentingan Dibalik Rujuknya Kedua Negara Tersebut
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. – Turki merupakan negara dengan lokasi geografis yang strategis. Posisinya  terletak diantara sisi Barat dan Timur, dengan kata lain, Turki mengadaptasi pandangan Muslim dan juga Barat. Dalam perkembangannya, ada banyak dinamika yang mempengaruhi politik luar negeri Turki. Termasuk politik luar negeri Turki yang sangat kontroversial, yaitu menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Perlu dicatat, Turki adalah negara yang pada tahun 1947 menentang keputusan Persatuan Bangsa Bangsa untuk membagi wilayah Palestina terhadap Israel. Di sisi lain, tepat setelah dua tahun yaitu 1949, Turki justru menjadi negara pertama yang mengakui Israel sebagai sebuah negara.

Alasan Turki mengakui kedaulatan Israel saat itu, sebab Israel berpihak pada Blok Barat. Hal tersebut, bagi Turki  bisa membantu untuk mencegah persebaran ideologi komunis di Timur Tengah yang dibawa oleh Uni Soviet. Meski Israel memiliki permasalahan dengan negara-negara Arab, namun Israel tidak menganggap Turki sebagai ancamannya. Sebab, Turki pada saat itu lebih condong kepada negara-negara Barat.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana bisa Turki yang pemimpinnya sering digembar-gemborkan sebagai representasi pemimpin Muslim, ternyata mempunyai sejarah hubungan mesra dengan Israel. Negara yang menjajah Palestina? Untuk melihat hal tersebut, tentu harus melihat bagaimana hubungan Turki-Israel sejak awal.

Sejarah Pasang Surut Hubungan Turki-Israel

Sejarah hubungan Turki-Israel berawal dari pengakuan Turki terhadap kedaulatan Israel, bahkan Turki dikatakan sebagai negara pertama yang mengakui Israel sebagai negara. Dan pada tahun 1950, Turki memulai hubungan diplomatik pertama kali dengan Israel, ditandai adanya penyerahan diplomatic credentials kepada presiden Israel pada saat itu, Chaim Weizmann dari kepala misi diplomatik Turki, Seyfullah Esin. Enam tahun setelahnya, yaitu 1956 Turki justru menurunkan level hubungan diplomatiknya dengan Israel pasca Perang Suez pada tahun yang terjadi pada tahun yang sama.

Hubungan Turki-Israel sempat membaik, hingga pada 1970-an, Turki mengalami krisis ekonomi berbarengan dengan krisis minyak global. Demi kepentingan ekonominya, Turki pun mendekatkan hubungannya dengan negara-negara Arab. Langkah Turki tersebut membuat hubungan dengan  Israel selama tahun-tahun mengalami masa-masa renggang.

Hubungan Turki-Israel sempat memanas pada tahun 1980. Penyebabnya adalah munculnya Jerusalem Act yang memberikan pernyataan bahwa, Yerusalem dan Israel sepakat untuk bersatu, dan menjadi ibu kota dari Israel. Turki yang pada dasarnya mempunyai tanggung jawab terhadap Palestina, khususnya Masjidil Aqsha di Jerussalem tentu tidak bisa menerima hal tersebut. Dampaknya adalah, Turki kembali menurunkan tingkatan diplomatiknya terhadap Israel. Langkah Turki pada waktu itu pun banyak mendapatkan apresiasi dari negara Arab.

Tetapi tidak selamanya hubungan Turki-Israel selalu berada di level saling tegang. Karena pada  Desember 1991, tepatnya minggu ke-enam setelah Konferensi Perdamaian Madrid Timur Tengah. Ketika Resolusi PBB 48/86, Turki ternyata memilih untuk abstain terhadap resolusi yang berisikan menyamakan Zionisme dengan rasisme. Padahal resolusi tersebut adalah kasus yang diangkat oleh Turki ke dalam sidang PBB. Turki kemudian memilih mencabut resolusinya, dan mendekatkan kembali hubungannya dengan Israel. Hal tersebut terwujud pada 1992, saat Turki mengirimkan duta besarnya ke Tel Aviv dan begitu juga dengan Israel yang mengirimkan duta besarnya ke Ankara.

Kedekatan hubungan ini pun terus berlanjut. Bahkan,  pada tahun 1993, perdana menteri Turki Tansu Ciller mengunjungi Israel. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama perdana menteri Turki ke Israel semenjak awal pengakuan Turki terhadap kedaulatan Israel. Dan kunjungan itu pun disusul segera dengan kunjungan yang dilakukan oleh mantan presiden Turki Suleyman Demirel pada tahun 1996. Pada tahun yang sama, kedua negara menandatangani kerja sama strategis dan perjanjian perdagangan.

Insiden Mavi Marmara dan Retaknya Hubungan Israel Turki

Sejak 2002, Turki mempunyai banyak politik strategis luar negeri, termasuk dengan Israel. Tentu saja banyak kepentingan dibalik politik luar negeri dan kedekatan kedua negara tersebut. Namun, ada sebuah insiden yang membuat hubungan Turki-Israel menjadi renggang. Terutama di masa kepemimpinan Recep Tayyib Erdogan.

Tepatnya, pada awal tahun 2009, Turki mengikuti Konferensi Ekonomi Dunia. Turki pun mengecam keras adanya penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Bahkan pada saat itu, Erdogan menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Israel salah, karena telah menghilangkan banyak nyawa manusia tidak berdosa.

Namun, puncak dari surutnya hubungan Turki-Israel adalah saat pasukan Israel menyerang Gaza Freedom Flotilla pada tanggal 31 Mei 2010. Dimana dalam armada tersebut terdiri dari tiga kapal kargo dan tiga kapal penumpang. Tujuan dari armada tersebut adalah menuju Gaza dalam rangka ingin memberikan batuan kemanusiaan dan bahan bangunan.

BACA JUGA  Masa Depan Rekonsiliasi Iran-Arab Saudi

Dalam insiden penyerangan tersebut, perahu yang menerima dampak kerusakan terbesar adalah kapal milik NonGovernmental Organization (NGO) milik Turki yang bernama MV Mavi Marmara. Korban yang ditimbulkan dalam insiden tersebut sebanyak delapan warga Turki dan dua warga keturunan Amerika-Turki tewas di tempat, sedangkan satu warga Turki lainnya tewas di dalam rumah sakit.

Akibat serangan tersebut Israel menerima kecaman besar-besaran dari seluruh dunia. Hal ini dikarenakan insiden tersebut masih berada di kawasan perairan Internasional. Erdogan pun mengecam kebrutalan Israel tersebut dan menganggap kelakuan Israel sebagai tindakan “terorisme negara”. Insiden Mavi Marmara bisa langsung membuat Turki menarik duta besarnya yang berada di Tel Aviv untuk kembali ke Turki.

Turki waktu itu juga menuntut Israel untuk memberikan permintaan maaf secara resmi. Demi menjaga hubungan kedua negara, Turki mengharuskan Israel menyatakan pernyataan maaf secara terbuka, memberikan dana kompensasi kepada keluarga korban Mavi Marmara, dan menghentikan blokade jalur pengiriman bantuan ke Gaza. Namun, hal tersebut ternyata tidak dipenuhi oleh Israel.

Turki pun langsung menangguhkan segala bentuk kerjasama bilateral baik yang sedang dilakukan, maupun yang akan dilakukan. Pada tanggal 2 September 2011, Turki langsung menurunkan status diplomatiknya dengan Israel menjadi tingkat sekretaris dua, setelah adanya laporan dari PBB mengenai insiden Mavi Marmara.

Namun, setelah hampir 14 tahun berjauhan, kini Turki-Israel kembali berdekatan. Karena Presiden Israel pada 9/3/20222 kemarin melakukan kunjungan perdananya ke Ankara menemui Presiden Erdogan. Walaupun masih terlihat jaim-jaiman dan kucing-kucingan, namun Turki-Israel terlihat mulai bermesraan. Tentu saja, hal tersebut mempunyai banyak kepentingan.

Kenapa Israel dan Turki Begitu Bersahabat, Punya Kepentingan Apa?

Seperti yang diketahui bahwa Turki merupakan satu-satunya negara sekutu Israel di wilayah Timur Tengah. Begitu juga sebaliknya, Turki merupakan satusatunya negara Islam yang menmbangun hubungan diplomatik dengan Israel. Israel adalah mitra ekonomi Turki. Walaupun banyak yang mengecam kerjasama ini, tetapi Turki menyadari bahwa Israel merupakan mitra yang baik dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi Turki sendiri.

Kedua negara memang kerap saling tuduh atas pendudukan Israel atas wilayah Palestina dan dukungan Ankara untuk kelompok Hamas yang memerintah Jalur Gaza. Namun kunjungan Presiden Israel, yaitu Herzog  ke Ankara dan Istanbul pada Rabu (9/3/2022) dan Kamis (10/3/2022) bertujuan untuk memulihkan hubungan kedua negara.

Walaupun bagi Erdogan, hal tersebut sebagai langkah sangat penting bagi stabilitas dan perdamaian regional serta bagi kedua negara. Namun, dibalik itu tentu ada banyak kepentingan yang diinginkan oleh Erdogan selain klaim menjaga Palestina.

Normalisasi hubungan Turki-Isarel memang sering memperlihatkan sebagai langksah Turki dalam memperjuangkan Palestina. Karena Turki juga berkeinginan supaya Israel mereduksi ketegangan di kawasan, termasuk menjaga visi solusi dua negara terkait konflik dengan Palestina.

Namun dibalik itu semua, Turki juga mempunyai banyak kepentingan dalam hal kerja sama industri pariwisata, ilmu pengetahuan, teknologi maju, pertanian, kesehatan, dan industri pertahanan dengan Israel. Tentunya yang paling penting dari itu semua adalah keamanan bagi negara Turki sendiri. Sebab, Israel yang menjadi sekutu dekat Amerika Serikat tentu akan membawa dampak baik, ketika Turki kembali mempunyai hubungan baik dengan negara tersebut. Walaupun pada akhirnya, Turki-Israel yang kembali dekat mendapatkan kecaman dari banyak kelompok Islam.

Namun, terlihat jelas bahwa Turki memiliki minat dalam mengembangkan dan memelihara hubungan yang lebih erat dengan Israel. Dan di saat bersamaan, Turki juga sering mencoba untuk menjaga jarak terhadap Israel dikarenakan keinginannya untuk memiliki hubungan baik dengan blok Arab. Dan hal ini tentu tergantung situasi dan kondisi perpolitikan Internasional.

Dalam kedekatan Turki-Israel yang tidak diinginkan oleh negara Arab ini, membuat Turki ingin menjadi penengah atau mendamaikan negara Arab dengan Israel. Dalam beberapa kesempatan Turki juga berusaha mendamaikan permasalahan Israel dengan Palestina. Usaha yang dilakukan Turki tersebut dikarenakan Turki ingin meminimalisir konflik yang terjadi di sekitar kawasannya. Dalam artian, kepentingan terbesar Turki adalah demi keamanan kawasannya, sehingga berbagai langkah politik luar negeri akan dilakukan, walaupun itu kontroversial dan banyak mendapat kecaman.

Oleh Nur Hasan (Penulis adalah Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru