Harakatuna.com – Gen Z memang tidak mengetahui secara langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW itu lahir. Kelahirannya hanya dapat diteropong melalui beberapa literatur tertentu. Seperti dalam sebuah teks hadis Nabi yang sudah terverifikasi sebagai hadis sahih.
Seperti cerita yang sering dikatakan oleh singan podium ketika Abu Lahab, paman Nabi Muhammad, mengetahui Siti Aminah melahirkan seorang bayi bernama Muhammad. Secacara spontan ia tampak bahagia. Terlampau gembiranya Abu Lahab rela membebaskan budaknya bernama Tsuwaibah.
Karena Abu Lahab merasa bahagia ketika Nabi Muhammad lahir, peristiwa ini menjadi dispensasi siksaan Abu Lahab di neraka. Walaupun semasa Nabi melakukan dakwahnya, Abu Lahab berperan sebagai pihak oposan.
Dari peristiwa ini tentunya telah menjadikan refleksi bagi umat Nabi Muhammad untuk terus mencintainya. Di samping itu kisah ini juga mempunyai filosofis mendalam. Umat seharusnya juga memahami bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ancaman. Tetapi juga mempunyai nilai kasih sayang serta harapan.
Ironisnya, wajah Islam secara perlahan mulai memudar dalam lanskap keagamaan digital. Sebagian anak muda mulai menjauh dari nilai-nilai agama. Mereka lebih dekat dengan narasi ketakutan, kegelisahan, dan ancaman daripada kasih sayang. Arus menuju surga seakan terasa sempit, sementara neraka jalannya lebih luas dan gampang untuk dilewati.
Disini paradigma optimisme nilai rahmat menjadi penting agar agama tidak berubah menjadi ruang justifikasi untuk menghakimi orang lain. Padahal Nabi Muhammad sendiri telah menghadirkan optimisme keselamatan besar kepada umatnya. Dalam sebuah hadis beliau mengatakan:
Kullu ummatii yadkhulu al-jannata illa man abayy. Qaaluu: yaa Rasulallahi wa man ya’bayy? Qaala: man athaanganii dakhala al-jannata wa man ngashaanii faqad abay.
Kiranya dalam denyut bahasa Indonesia berarti “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Siapakah yang enggan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga).
Ketaatan Tidak Lahir Dalam Teror Ketakutan
Dalam pusaran ramainya dunia pendakwahan terlebih dalam media sosial masih banyak potongan video mengenai ancaman dan rasa takut. Sehingga anak muda mulai beranggapan bahwa agama hadir bukan menjadi ruang aman melainkan tekanan psikologis.
Seolah parameter dari ketaatan diukur dari seberapa besar seseorang merasa cemas terhadap dosa dan neraka. Padahal dalam ajaran Islam pondasi dari ketaatan adalah rasa cinta, harapan, dan optimisme keselamatan terhadap agungnya rahmat Allah.
Terdapat salah satu ustaz muda dari Rembang, ia juga dikenal sebagai tokoh intelektual islam. Di samping itu beliau juga mampu memperkenalkan bahwa Islam merupakan agama yang memberikan nilai kasih sayang. Namanya KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih akrab disapa Gus Baha’.
Ia menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak semestinya dipenuhi sikap keputusasaan. Salah satu argumentasi dari Gus Baha’ ialah: “Ibadah kita pasti diterima Tuhan. Kita harus optimis. Karena menerima ibadah seorang hamba, bagi Tuhan, adalah persoalan mudah bahkan remeh”.
Dari pernyataan tersebut bukan berarti meremehkan perbuatan dosa. Namun perlu kita pahami diri bahwa rahmat Tuhan jauh lebih luas ketimbang ketakutan manusia. Kehadiran agama bukan untuk memberi rasa kecemasan spiritual manusia, melainkan ia hadir agar manusia tetap ingat dan selalu mendekat kepada Tuhan.
Pandangan serupa juga diutarakan oleh Agus Muhammad Ulul Albab dalam sebuah kajian rutinannya di malam Jumat. Dari kitab Tanbihul Ghafilin karangan Syekh Nasr. Beliau menjelaskan bahwa ada sebuah hadis Nabi berbunyi “barang siapa di hatinya masih terdapat iman walau sekecil semut, maka ia tetap masih memiliki harapan untuk menuju alam surga.
Rahmat Sebagai Jalan Deradikalisasi
Pertumbuhan radikalisasi tidak hanya lahir dari kedangkalan ilmu agama semata. Sifat ini bisa juga tumbuh melalui cara beragama yang dipenuhi rasa ketakutan, kemarahan, dan merasa paling benar.
Kendati kenyataannya sudah banyak penerus umat ini disuguhi narasi tentang kafir, bid’ah, ancaman neraka, dan relasi kebencian terhadap kelompok lain. Ketika perilaku seperti ini dibebaskan begitu saja maka yang ada perubahan ruang agama. Awalnya ia sebagai ruang ketenangan, semakin lama ia juga menjadi medan pertempuran.
Mantan presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memiliki pandangan serupa. Beliau menilai bahwa agama itu hadir untuk memuliakan manusia, bukan alat kebencian. Oleh karena itu esensi dari agama Islam terletak pada nilai kemanusiaan, toleransi, dan kasih sayang.
Begitu pun dalam konteks psikolog. Erich Fromm (1900-1980) menjelaskan bahwa “manusia yang berasumsi kegelisahan dan kekhawatiran cenderung mencari ideologi yang menawarkan kepastian absolut”. Maka dari itu, dari situasi seperti ini kelompok ekstrem mulai membangun loyalitas dan kebencian terhadap pihak lain.
Demi menangkal radikalisme, mengembalikan esensi ajaran Islam sebagai rahmat menjadi sangat urgensi. Supaya agama tidak menjelma menjadi ruang kebencian, kegelisahan dan ancaman. Generasi muda membutuhkan keyakinan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas di bandingkan rasa ketakutan manusia. Karena dari sinilah, agama dapat Kembali menjadi jalan ketenangan, kemanusiaan, dan kasih sayang. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa rahmat bukan menghadirkan kecemasan.

















Leave a Comment