OKI Tegaskan Komitmen Perangi Terorisme, Tolak Pengaitan Agama dengan Aksi Teror

Ahmad Fairozi, M.Hum.

04/07/2026

2
Min Read

Harakatuna.com. New York – Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat upaya pemberantasan terorisme di tingkat global dengan mendukung Strategi Global Kontra-Terorisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penegasan tersebut disampaikan dalam sidang pleno Majelis Umum PBB saat pengesahan Tinjauan Kesembilan Strategi Global Kontra-Terorisme Tahun 2026 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Rabu (1/7/2026).

Dalam pernyataan resminya, OKI menekankan bahwa strategi pemberantasan terorisme harus tetap mengedepankan keseimbangan serta memberikan perhatian terhadap negara-negara yang berada di garis depan dalam menghadapi ancaman terorisme. Mewakili OKI, Duta Besar dan Perwakilan Tetap Arab Saudi untuk PBB, Abdulaziz Alwasil, menegaskan bahwa upaya internasional memerangi terorisme tidak boleh mengabaikan kebutuhan negara-negara yang paling terdampak.

“Strategi ini harus tetap berimbang dan menyuarakan kebutuhan nyata dari negara-negara yang berada di garis depan terdampak terorisme,” ujar Abdulaziz Alwasil.

Dalam kesempatan tersebut, OKI juga menolak keras segala bentuk upaya yang mengaitkan aksi terorisme dengan agama, etnis, kebangsaan, maupun budaya tertentu. Organisasi yang beranggotakan 57 negara itu menegaskan bahwa terorisme merupakan kejahatan yang tidak dapat dilekatkan pada identitas agama atau kelompok tertentu karena berpotensi menimbulkan diskriminasi dan memperburuk hubungan antarbangsa.

Menurut OKI, pendekatan yang adil dan inklusif menjadi salah satu kunci dalam memperkuat kerja sama internasional untuk mencegah berkembangnya ekstremisme yang mengarah pada terorisme. Selain menolak stigmatisasi, OKI menyerukan penguatan sinergi antarnegara dalam menghadapi ancaman terorisme yang terus berkembang, termasuk penyalahgunaan teknologi digital oleh kelompok ekstremis untuk propaganda, rekrutmen, dan penyebaran ideologi kekerasan.

BACA JUGA  Israel vs Turki Memanas, Netanyahu Soroti Seruan Erdogan Soal Penghancuran Israel

Meski demikian, OKI menegaskan bahwa seluruh langkah pemberantasan terorisme harus tetap berpedoman pada Piagam PBB, hukum internasional, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kedaulatan negara. Strategi Global Kontra-Terorisme PBB sendiri pertama kali diadopsi melalui konsensus pada tahun 2006 sebagai kerangka kerja internasional untuk memperkuat koordinasi nasional, regional, dan global dalam memerangi terorisme.

Majelis Umum PBB melakukan evaluasi terhadap strategi tersebut setiap dua tahun guna memastikan kebijakan yang diterapkan tetap relevan dengan perkembangan ancaman terorisme, termasuk munculnya pola radikalisasi dan propaganda melalui ruang digital. Sebagai organisasi antarpemerintah yang mewadahi negara-negara mayoritas Muslim, OKI juga kembali menegaskan dukungannya terhadap pendekatan wasathiyah (moderasi) sebagai salah satu strategi membangun perdamaian serta mencegah berkembangnya paham ekstremisme yang dapat bermuara pada aksi terorisme.

Melalui forum tersebut, OKI berharap komunitas internasional semakin memperkuat kolaborasi dalam memerangi terorisme secara komprehensif tanpa mengorbankan prinsip keadilan, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlindungan terhadap kedaulatan setiap negara.

Leave a Comment

Related Post